Diduga Dipicu Masalah Gaji, Karyawan Bakar Gudang Kertas di AS Bernilai Triliunan

Karyawan Diduga Bakar Gudang Kimberly Clark di California, Kerugian Capai Rp 10,2 TriliunKaryawan Diduga Bakar Gudang Kimberly Clark di California, Kerugian Capai Rp 10,2 Triliun
Kebakaran Hebat Gudang di Ontario AS, Karyawan Diduga Jadi Pelaku dan Rugi Rp 10,2 Triliun.

INBERITA.COM, Seorang karyawan berusia 29 tahun, Chamel Abdulkarim, didakwa atas serangkaian tuduhan kejahatan serius setelah diduga membakar gudang milik perusahaan produk kertas raksasa Kimberly-Clark di Ontario, California, Amerika Serikat.

Peristiwa kebakaran besar tersebut tidak hanya menghanguskan fasilitas penyimpanan, tetapi juga menimbulkan kerugian fantastis yang ditaksir mencapai lebih dari 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 10,2 triliun.

Gudang yang berlokasi di Ontario, sekitar satu jam perjalanan dari Los Angeles, dilaporkan terbakar hebat pada Selasa (7/4/2026) dini hari sekitar pukul 00.30 waktu setempat.

Api dengan cepat membesar dan melalap seluruh area gudang, sehingga memaksa pengerahan besar-besaran petugas pemadam kebakaran untuk mengendalikan situasi di lokasi kejadian.

Total sekitar 175 petugas dikerahkan dalam upaya pemadaman yang berlangsung intens.

Berdasarkan laporan media internasional, kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan masif, termasuk sekitar 500 juta dolar AS produk kertas yang tersimpan di dalam gudang serta 150 juta dolar AS nilai bangunan yang ikut hangus terbakar.

Dengan total kerugian tersebut, insiden ini menjadi salah satu kebakaran industri dengan dampak finansial terbesar dalam periode terbaru di wilayah tersebut.

Menurut laporan The Guardian, pelaku diduga langsung ditangkap tidak lama setelah kebakaran terjadi.

Sementara itu, hasil penyelidikan awal yang dikutip dari dokumen pernyataan tertulis dalam pengaduan pidana federal menyebutkan bahwa Abdulkarim diduga sengaja membakar beberapa palet produk kertas di dalam gudang tersebut. Aksi itu bahkan disebut direkam oleh dirinya sendiri.

Lebih lanjut, penyelidik mengungkapkan bahwa setelah api mulai menyala, Abdulkarim melontarkan pernyataan yang mengaitkan tindakannya dengan persoalan upah kerja.

Dalam pernyataan yang dikutip dari dokumen resmi, ia mengatakan:

“Jika Anda tidak akan membayar kami cukup untuk hidup atau mampu hidup, setidaknya bayar kami cukup agar kami tidak melakukan hal ini,”

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena mengaitkan aksi pembakaran dengan isu kesejahteraan pekerja dan besaran gaji.

Dalam perkembangan penyidikan, Abdulkarim juga diduga mengakui perbuatannya melalui komunikasi telepon dan pesan teks.

Ia disebut menulis, “Aku baru saja merugikan orang-orang ini miliaran dollar” serta “1 persen itu [kata-kata kasar] lelucon,” sebagaimana tercantum dalam pengaduan.

Tidak berhenti di situ, ia juga menyampaikan pandangannya terkait sistem pengupahan perusahaan.

Dalam pesan lain yang dikutip penyidik, ia menyebut bahwa perusahaan seharusnya memberikan upah yang layak sesuai dengan nilai kerja karyawan.

“Yang perlu Anda lakukan hanyalah membayar kami cukup untuk hidup. Bayar kami lebih banyak sesuai nilai yang kami berikan, bukan nilai korporat. Saya tidak melihat para pemegang saham akan mengambil alih shift kerja,” tulisnya.

Pihak berwenang juga mengidentifikasi bahwa Abdulkarim merupakan karyawan dari NFI Industries, perusahaan distributor yang bekerja sama dengan produsen kertas tersebut.

Hal ini memperkuat dugaan adanya keterkaitan langsung pelaku dengan operasional gudang yang terbakar.

Dalam perkembangan lain, Asisten Jaksa Agung AS Bill Essayli mengungkapkan bahwa dalam percakapan telepon dengan seorang temannya, Abdulkarim sempat membandingkan dirinya dengan Luigi Mangione.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari rangkaian bukti yang tengah didalami oleh aparat penegak hukum.

Insiden kebakaran gudang Kimberly-Clark di Ontario ini kini menjadi perhatian luas karena tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar, tetapi juga memunculkan perdebatan terkait motif pelaku yang dikaitkan dengan isu ketidakpuasan terhadap gaji dan kondisi kerja.

Aparat masih terus melakukan pendalaman kasus untuk memastikan seluruh kronologi dan motif di balik aksi pembakaran tersebut.