INBERITA.COM, Hubungan Argentina dan Brasil kembali memasuki fase tegang setelah Presiden Argentina Javier Milei melontarkan serangan verbal yang menyasar langsung Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.
Pernyataan keras tersebut bukan hanya memicu polemik politik, tetapi juga berdampak pada hubungan diplomatik dua negara yang selama ini menjadi mitra strategis di kawasan Amerika Selatan.
Dalam wawancara yang disiarkan stasiun televisi LN+, Milei kembali mengulang tuduhannya terhadap Lula. Ia menyebut pemimpin Brasil itu sebagai sosok yang pernah dipidana dalam perkara korupsi sehingga menurutnya pantas disebut sebagai “pencuri” dan “korup”.
“Dia itu seorang pencuri, dia itu korup, dia pernah divonis bersalah atas pencurian dan korupsi, dia pernah dipenjara, jadi benar jika kita menyebutnya sebagai seorang terpidana,” kata Milei.
Pernyataan tersebut memperpanjang ketegangan yang sudah muncul beberapa hari sebelumnya.
Saat menghadiri agenda politik di Brasil untuk memberikan dukungan kepada Flavio Bolsonaro menjelang pemilihan presiden, Milei juga melontarkan kritik serupa terhadap Lula.
Ucapan Presiden Argentina itu memicu reaksi cepat dari pemerintah Brasil. Otoritas Brasil memutuskan menarik Duta Besarnya di Buenos Aires untuk melakukan konsultasi terkait memburuknya hubungan diplomatik akibat pernyataan Milei.
Di sisi lain, pemerintah Argentina berusaha meredakan situasi. Juru bicara kepresidenan Adrian Ravier menyebut perselisihan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan pandangan politik dan ideologi, bukan perubahan sikap resmi pemerintah terhadap hubungan bilateral.
Meski demikian, Milei tidak menunjukkan tanda-tanda akan melunakkan pernyataannya. Ketika ditanya alasan terus menyerang Lula secara terbuka, ia justru mempertahankan sikapnya.
“Bukankah menurut Anda, tindakan mencuri dari seseorang itu agresif? Menyebut seseorang sebagai ‘pencuri’ jauh lebih ringan dampaknya dibandingkan tindakan pencurian itu sendiri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa pembatalan putusan terhadap Lula tidak berarti mantan presiden Brasil tersebut dinyatakan tidak bersalah.
“Mereka membebaskan dia karena kesalahan administratif, bukan karena dia tidak bersalah. Oleh karena itu, dia adalah seorang pencuri dan pejabat korup,” tegas Milei.
Menurutnya, kritik tersebut merupakan bagian dari komitmennya terhadap nilai-nilai kebebasan dan perjuangan politik yang selama ini ia usung.
“Saya melakukan hal ini karena saya adalah pejuang nilai-nilai kebebasan,” katanya.
Lula da Silva memang pernah menjalani hukuman penjara selama sekitar 580 hari setelah divonis bersalah dalam sejumlah perkara korupsi pada 2018.
Namun, Mahkamah Agung Brasil kemudian membatalkan putusan tersebut dengan alasan adanya persoalan prosedural dalam proses persidangan. Hakim yang menangani perkara itu juga kemudian dinyatakan tidak bersikap netral, sehingga seluruh putusan dibatalkan dan Lula kembali memperoleh hak politiknya.
Perselisihan antara Milei dan Lula tidak hanya mencerminkan rivalitas pribadi, tetapi juga memperlihatkan perbedaan tajam orientasi politik kedua pemimpin.
Milei dikenal mengusung kebijakan liberal dan sering mengkritik pemerintahan kiri di Amerika Latin, sementara Lula merupakan tokoh utama kubu progresif di kawasan tersebut.
Ketegangan ini menjadi perhatian karena Argentina dan Brasil memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat.
Brasil merupakan salah satu mitra dagang terbesar Argentina, sehingga memburuknya komunikasi politik di tingkat pemimpin berpotensi memengaruhi kerja sama bilateral, meskipun hingga kini belum ada indikasi perubahan kebijakan ekonomi kedua negara.







