Iran Kembali Klaim Serang Pangkalan AS di Yordania, Total Enam Jet F-35 Disebut Jadi Korban dalam Dua Gelombang

Irgc klaim serangan f35 as yordaniaIrgc klaim serangan f35 as yordania
Iran mengklaim menyerang pangkalan udara Al-Azraq di Yordania dan menghancurkan sejumlah jet tempur F-35 milik Amerika Serikat.

INBERITA.COM, Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali diwarnai saling klaim mengenai keberhasilan operasi militer.

Kali ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah melancarkan serangan rudal ke pangkalan udara Al-Azraq di Yordania yang disebut digunakan oleh militer Amerika Serikat.

Menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, serangan yang diklaim terjadi pada 1 Agustus tersebut menargetkan hanggar perawatan serta area parkir pesawat tempur F-35. IRGC menyebut sejumlah rudal balistik berhasil menghantam sasaran.

Dalam klaimnya, Iran menyatakan tiga jet tempur F-35 hancur, sementara tiga unit lainnya mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Pernyataan itu menambah daftar klaim militer yang sebelumnya juga disampaikan Teheran. Pada 30 Juli, IRGC mengaku telah menghancurkan tiga pesawat F-35 lainnya di pangkalan yang sama.

Apabila seluruh klaim tersebut benar, Iran menyebut total enam pesawat tempur F-35 menjadi korban dalam dua gelombang serangan.

Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada bukti visual yang dapat diverifikasi secara independen maupun konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat, militer AS, pemerintah Yordania, atau sumber internasional mengenai klaim tersebut.

Karena itu, informasi mengenai jumlah kerusakan maupun keberhasilan serangan masih perlu diperlakukan sebagai klaim sepihak dari Iran.

Konflik terbaru antara Washington dan Teheran meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 8 Juli bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati tidak lagi berlaku.

Sejak saat itu, militer Amerika Serikat melancarkan sejumlah operasi terhadap sasaran di Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Sebaliknya, Iran menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dan merespons dengan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pertukaran serangan tersebut menunjukkan meningkatnya risiko eskalasi konflik regional yang melibatkan berbagai negara di kawasan.

Selain aspek militer, perkembangan ini juga menjadi perhatian pasar energi dunia. Kawasan Timur Tengah merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas global, sehingga setiap peningkatan konflik berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dan memicu kenaikan harga minyak internasional.

Hingga kini, belum terdapat verifikasi independen yang memastikan klaim Iran mengenai penghancuran jet tempur F-35 tersebut.

Situasi di lapangan masih berkembang, sementara berbagai pihak terus memantau kemungkinan respons lanjutan dari Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya.