INBERITA.COM, Setelah sebelumnya membuka akses bagi wisatawan untuk menikmati keindahan matahari terbit atau sunrise dari puncak Candi Borobudur, kini kesempatan serupa diberikan untuk momen senja.
Melalui program baru bertajuk Borobudur Sunset, sebanyak 100 wisatawan setiap hari akan diizinkan naik ke puncak candi untuk menyaksikan panorama matahari terbenam berlatar perbukitan Menoreh yang megah.
Program eksklusif ini diumumkan oleh InJourney Destination Management, anak perusahaan dari holding pariwisata BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang mengelola kawasan wisata Candi Borobudur.
“Program ini menawarkan pengalaman menikmati senja menyaksikan panorama matahari terbenam yang memukau dengan lanskap perbukitan Menoreh yang menawan,” ujar Direktur PT Taman Wisata Borobudur, Mardijono Nugroho, dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (31/10/2025).
Menurut Mardijono, program Borobudur Sunset dibuka secara terbatas dengan kuota hanya 100 orang per hari.
Tiket dapat dipesan melalui WhatsApp di nomor +62 857 2758 7800 atau lewat tautan resmi ticket.injourneydestination.id.
Harga tiketnya ditetapkan sebesar Rp1 juta untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi transformasi pariwisata Borobudur agar tidak hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga pengalaman spiritual dan budaya yang lebih mendalam bagi pengunjung.
“Program Borobudur Sunset merupakan langkah strategis untuk mentransformasi pengalaman kunjungan, dari destinasi sejarah menjadi sebuah perjalanan yang lebih bermakna, sekaligus memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi di kawasan Borobudur,” jelasnya.
Wisatawan yang mengikuti program ini akan masuk melalui Pintu 7 Taman Wisata Candi Borobudur mulai pukul 16.30 WIB.

Setiap peserta akan diberi perlengkapan khusus berupa upanat, alas kaki berbahan kain yang digunakan untuk melindungi struktur batu candi dari keausan akibat pijakan wisatawan.
“Perjalanan akan dipandu oleh pamong cerita atau pemandu wisata agar pengunjung bisa memaknai tiap sudut arsitektur Warisan Budaya Dunia UNESCO ini,” tutur Mardijono.
Ia menegaskan, seluruh kegiatan dalam program Borobudur Sunset menerapkan standar konservasi yang tinggi untuk menjaga kelestarian candi.
Setiap langkah wisatawan akan diawasi dengan ketat oleh petugas agar tidak merusak struktur batu dan ornamen relief.
Selain menghadirkan pengalaman visual dan spiritual yang unik, program ini juga memiliki tujuan ekonomi yang strategis, yakni memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay) di kawasan Borobudur dan sekitarnya.
Perpanjangan waktu kunjungan wisatawan, kata Mardijono, diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekosistem ekonomi lokal, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Perpanjangan waktu kunjungan ini secara langsung akan mengakselerasi pertumbuhan ekosistem pariwisata lokal, mulai dari sektor atraksi seni budaya, akomodasi, transportasi, hingga UMKM,” jelasnya.
Menurutnya, program Borobudur Sunset tidak hanya menciptakan pengalaman baru bagi wisatawan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar.
Dampaknya, pendapatan warga dapat meningkat, dan kawasan Borobudur semakin menguat sebagai lokomotif ekonomi yang memberikan dampak sosial positif (social impact).
“Program ini adalah jangkar yang menahan wisatawan lebih lama. Kami ingin setiap pengunjung yang datang mendapatkan cerita yang lebih kaya, dan pada akhirnya mendorong mereka untuk menginap sambil menjelajahi potensi desa-desa di sekitar,” ujar Mardijono.
Ia menambahkan, “Ini mendorong pertumbuhan perekonomian, baik segi pariwisata maupun UMKM di kawasan, sejalan dengan visi Borobudur sebagai katalisator pertumbuhan ekosistem yang membawa social impact yang lebih baik bagi masyarakat sekitar.”
Program Borobudur Sunset merupakan hasil kolaborasi antara PT Taman Wisata Borobudur, Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kabupaten Magelang, ASITA Magelang, serta pelaku wisata lokal.
Melalui sinergi ini, penyelenggara berharap kegiatan wisata di Borobudur tidak hanya berorientasi pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada kualitas pengalaman dan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Sebelumnya, program serupa Borobudur Sunrise mendapat respons positif dari wisatawan domestik maupun asing. Banyak wisatawan menyebut pengalaman melihat matahari terbit dari puncak candi sebagai momen spiritual yang mengesankan.
Dengan dibukanya program Borobudur Sunset, pengunjung kini memiliki pilihan waktu berbeda untuk menikmati keindahan situs warisan dunia tersebut.
Selain menjadi daya tarik wisata eksklusif, program ini juga memperkuat posisi Borobudur sebagai ikon pariwisata spiritual dan budaya Indonesia yang mendunia.
Senja di atas puncak candi diharapkan menghadirkan sensasi baru yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menenangkan secara batin.
Dengan kuota terbatas, harga tiket eksklusif, dan pengaturan waktu kunjungan yang disiplin, Borobudur Sunset dirancang sebagai wisata premium ramah konservasi yang mengedepankan edukasi, pengalaman, serta pelestarian warisan budaya.
Kini, wisatawan yang berkunjung ke Borobudur tak hanya bisa menanti mentari pagi dari puncak, tetapi juga menyaksikan matahari tenggelam di antara siluet stupanya yang megah, ditemani panorama pegunungan Menoreh yang memeluk langit Magelang di ujung senja. (xpr)







