INBERITA.COM, Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB memicu serangkaian gempa susulan yang mencatatkan rekor.
Hingga Minggu (16/8) pukul 15.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 995 gempa susulan, dengan 46 di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Data ini disampaikan Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers yang digelar untuk menindaklanjuti dampak gempa utama.
Abdul menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan fenomena alam yang tak terhindarkan setelah gempa besar. Menurutnya, aktivitas ini berkaitan dengan proses stabilisasi struktur patahan gempa.
Ia menekankan bahwa gempa susulan justru membantu patahan untuk kembali stabil, meskipun intensitasnya perlu segera menurun agar tidak membebani masyarakat terdampak. BNPB berharap energi yang dilepaskan dari aktivitas patahan ini dapat meluruh dengan cepat.
Sementara itu, gempa utama berkekuatan 7,7 magnitudo tersebut berpusat di koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.
Gempa ini menewaskan 53 orang dan merusak sejumlah fasilitas umum. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, meskipun akhirnya tidak terjadi tsunami.
Di tengah upaya evakuasi dan perawatan korban, masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi kerusakan struktur bangunan. BNPB meminta warga yang masih berada di pengungsian untuk memeriksa kondisi rumah masing-masing sebelum kembali.
Abdul mengingatkan agar memperhatikan tanda-tanda kerusakan seperti tiang retak, sudut rumah lepas, atau kuda-kuda atap yang bergeser. Ia mendesak masyarakat untuk segera melaporkan temuan tersebut kepada aparat setempat guna memudahkan proses verifikasi teknis.
Tak lama setelah gempa utama, wilayah NTT kembali diguncang gempa susulan berkekuatan 5,5 magnitudo pada Minggu (16/8) pukul 13.51.48 WIB.
Gempa tersebut berpusat di koordinat 7,90 derajat Lintang Selatan dan 120,64 derajat Bujur Timur, sekitar 81 kilometer sebelah utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.
Getaran dirasakan hingga ke wilayah Flores seperti Ende, Nagekeo, dan Manggarai dengan intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI).
Pada skala III-IV MMI, getaran gempa dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, bahkan menyebabkan benda-benda tergantung bergoyang dan jendela berderik.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Ia menegaskan bahwa sumber resmi terkait aktivitas gempa hanya berasal dari BMKG.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memastikan kondisi bangunan tempat tinggal dan menghindari struktur yang rusak akibat gempa.
Langkah ini penting untuk mencegah risiko yang lebih besar, terutama mengingat NTT merupakan wilayah rawan gempa akibat aktivitas subduksi lempeng tektonik. Gempa susulan yang terus terjadi menunjukkan bahwa proses stabilisasi patahan masih berlangsung, sehingga kewaspadaan harus tetap dijaga.
Pemerintah daerah dan BNPB terus berkoordinasi dalam penanganan dampak gempa. Selain evakuasi dan perawatan medis, upaya pemulihan infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak menjadi prioritas.
Gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah yang rawan gempa, serta perlunya pembangunan infrastruktur yang tahan gempa untuk mengurangi risiko di masa depan.







