Bentrok di Perkebunan Sawit Kabupaten Ogan Komering Ilir Pecah, 1 Warga Tewas dan 2 Terluka, Polisi Selidiki Sumber Letusan

Bentrok perkebunan sawit oki sumselBentrok perkebunan sawit oki sumsel
Satu Warga Meninggal dalam Kericuhan Perkebunan Sawit OKI, Polisi Janji Usut Tuntas

INBERITA.COM, Bentrokan di kawasan perkebunan kelapa sawit Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, meninggalkan duka sekaligus menyisakan sejumlah pertanyaan yang kini tengah didalami aparat kepolisian.

Insiden yang terjadi di area konsesi PT Buluh Cawang Plantation (BCP), Kecamatan Lempuing, pada Selasa (23/6/2026) sore itu mengakibatkan satu warga meninggal dunia, dua warga mengalami luka, serta seorang anggota polisi terluka saat proses pengamanan berlangsung.

Peristiwa bermula ketika personel gabungan dari Polda Sumatera Selatan dan Polres OKI melakukan penertiban di area perkebunan yang diduga menjadi lokasi aktivitas pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik perusahaan.

Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa 11 sepeda motor, satu unit mobil pikap, serta muatan buah sawit yang diduga berasal dari hasil pengambilan ilegal di area konsesi perusahaan.

Situasi awalnya berjalan sesuai prosedur. Namun ketegangan mulai meningkat ketika sekitar 100 warga mendatangi lokasi dan berupaya mengambil kembali kendaraan serta muatan sawit yang telah diamankan aparat.

Untuk mencegah konflik terbuka, petugas melakukan dialog dengan perwakilan warga. Mediasi berlangsung cukup intens dan menghasilkan kesepakatan bahwa kendaraan yang diamankan dikembalikan kepada pemiliknya. Sementara buah sawit yang menjadi pokok sengketa diserahkan kepada pihak perusahaan.

Meski sempat mereda, situasi kembali memanas ketika aparat dan petugas perusahaan hendak meninggalkan lokasi.

Dalam kondisi yang masih tegang, sejumlah massa diduga melakukan pelemparan batu ke arah kendaraan yang digunakan petugas maupun kendaraan operasional perusahaan.

Kericuhan kemudian berkembang menjadi bentrokan yang sulit dikendalikan. Di tengah suasana kacau tersebut, terdengar suara letusan yang hingga kini masih menjadi fokus penyelidikan kepolisian.

Akibat insiden itu, dua warga mengalami luka serius. Korban berinisial MU (43), warga Desa Tebing Suluh, mengalami luka pada bagian paha kiri. Sementara ZA (50) mengalami luka di bagian perut sebelah kiri. Keduanya langsung dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis.

Selain korban luka, insiden tersebut juga menyebabkan seorang warga berinisial A (25) meninggal dunia. Berdasarkan informasi awal yang disampaikan kepolisian, korban diduga tersengat aliran listrik saat berada di lokasi pembakaran fasilitas perusahaan ketika kerusuhan berlangsung.

Keterangan awal aparat menyebutkan bahwa korban mengalami luka bakar akibat sengatan listrik dan tidak dapat diselamatkan.

Kerusuhan juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah aset perusahaan. Massa yang tersulut emosi dilaporkan melakukan perusakan hingga pembakaran terhadap fasilitas kantor dan mess karyawan milik PT BCP.

Aksi tersebut memperparah situasi keamanan di lokasi dan memaksa aparat mengerahkan kekuatan tambahan untuk mencegah kerusuhan meluas ke area lain.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto turun langsung ke lokasi bersama personel gabungan untuk mengendalikan situasi.

Menurutnya, langkah utama yang dilakukan saat ini adalah memastikan keamanan masyarakat, memberikan bantuan kepada korban, serta mengumpulkan fakta-fakta yang diperlukan untuk mengungkap kronologi secara utuh.

“Kami mengedepankan langkah persuasif dan memastikan situasi di lapangan tetap terkendali. Seluruh rangkaian peristiwa akan kami selidiki secara menyeluruh dan objektif,” kata Eko.

Polisi juga masih mendalami asal-usul letusan yang menyebabkan warga mengalami luka. Hingga kini belum ada kesimpulan resmi mengenai sumber suara letusan tersebut maupun pihak yang bertanggung jawab.

Untuk memastikan proses penyelidikan berjalan transparan, Polda Sumatera Selatan telah mengerahkan personel tambahan dari berbagai satuan, termasuk Direktorat Reserse, Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam), serta Satuan Brimob.

Kehadiran personel tambahan tidak hanya bertujuan menjaga situasi tetap kondusif, tetapi juga mendukung pengumpulan bukti dan pemeriksaan saksi-saksi di lapangan.

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Sumsel Kompol Putu Suryawan menjelaskan bahwa seluruh fakta terkait korban luka, korban meninggal, serta dugaan penggunaan senjata masih dalam proses investigasi.

Polisi memastikan tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum seluruh bukti terkumpul dan diperiksa secara komprehensif.

Kasus ini kembali menyoroti kompleksitas konflik yang kerap terjadi di wilayah perkebunan, khususnya yang berkaitan dengan sengketa lahan, akses ekonomi masyarakat, hingga dugaan pencurian hasil kebun.

Dalam banyak kasus, ketegangan antara warga dan perusahaan dapat berkembang menjadi konflik terbuka ketika komunikasi dan penyelesaian persoalan tidak berjalan efektif.

Karena itu, selain penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melanggar aturan, berbagai pihak menilai diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk mencegah konflik serupa terulang di masa mendatang.

Hingga Rabu (24/6/2026), kondisi di area perkebunan PT BCP dilaporkan telah berangsur normal di bawah pengamanan ketat aparat. Aktivitas penyelidikan masih terus berlangsung, sementara masyarakat diminta tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

Polisi menegaskan akan mengungkap seluruh fakta secara profesional dan transparan agar penyebab pasti bentrokan, sumber letusan, serta rangkaian kejadian yang menimbulkan korban jiwa dapat diketahui secara jelas dan dipertanggungjawabkan sesuai hukum yang berlaku.