INBERITA.COM, Ribuan nyawa melayang akibat banjir bandang yang menerjang lembah Himalaya, menyapu bersih desa-desa di Nepal dan wilayah otonom Tibet, China.
Data terakhir mencatat korban tewas melampaui 160 orang, sementara hampir 400 lainnya dinyatakan hilang dalam bencana yang disebut para ahli sebagai peristiwa geofisika masif.
Pihak berwenang Nepal telah mengevakuasi 157 jenazah dari lokasi-lokasi terdampak, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Chitwan, Gorkha, Tanahun, dan Nawalparasi East.
Sementara itu, di sisi China, setidaknya tiga orang tewas dan 265 lainnya masih hilang, menurut laporan media pemerintah setempat. Infrastruktur vital seperti jembatan, jaringan listrik, dan pemukiman di sepanjang sungai hancur tak bersisa.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan ucapan duka dan janji bantuan bagi warga yang kehilangan sanak keluarga.
“Kehilangan yang Anda rasakan sangat berat, namun negara hadir untuk mendampingi Anda,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ia juga menekankan pentingnya kesabaran dan persatuan dalam menghadapi bencana ini.
Di wilayah Tibet, tanah longsor turut memperparah dampak banjir. Seorang petugas kesehatan di distrik Rasuwa, Tula Bahadur BK, mengungkapkan kehancuran yang luar biasa.
“Permukiman di tepi sungai lenyap sepenuhnya. Lima kerabat saya sendiri ikut hilang,” tuturnya kepada awak media internasional.
Ia menambahkan bahwa arus deras menghanyutkan segala sesuatu dalam hitungan menit.
PBB segera merespons dengan menyatakan keprihatinan atas bencana yang memporak-porandakan wilayah perbatasan Nepal-China.
Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, menyebutkan bahwa kerusakan meluas dan korban jiwa sangat tinggi.
“Kantor PBB di China juga melaporkan kehancuran serupa di wilayah Tibet,” katanya.
Menurut data OCHA, sekitar 10.000 rumah tangga di Nepal membutuhkan bantuan segera.
Infrastruktur kritis seperti pembangkit listrik tenaga air, pasar, dan jalan utama rusak parah. Akses jalan yang terputus dan pasokan listrik yang terganggu semakin menyulitkan upaya penyelamatan.
Para ahli geofisika mengungkapkan bahwa banjir bandang ini dipicu oleh peristiwa geofisika masif di Pegunungan Himalaya.
Goran Ekstrom, pakar dari Earth Observatory Universitas Columbia, menjelaskan bahwa tanah longsor besar meluruhkan gletser, menciptakan gelombang air setinggi 39 hingga 48 meter dengan kecepatan 44 mil per jam.
Ekstrom menilai bahwa perubahan iklim mempercepat pencairan gletser, meski peristiwa serupa bisa terjadi tanpa faktor tersebut.
“Tanah longsor di wilayah pegunungan semakin sering terjadi akibat mencairnya gletser,” katanya.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 tercatat sebagai dampak dari peristiwa ini.
Pihak berwenang setempat mencatat 157 korban tewas dan 75 lainnya luka-luka hingga Rabu malam. Sementara itu, upaya pencarian korban terus dilakukan meski arus banjir yang masih bergejolak menyulitkan tim penyelamat.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Himalaya terhadap perubahan iklim. Infrastruktur yang rusak dan korban jiwa yang terus bertambah menuntut respons cepat dari pemerintah dan organisasi internasional.
Bantuan darurat kini menjadi prioritas utama untuk menyelamatkan nyawa dan memulihkan kondisi masyarakat terdampak.







