558 Orang Meninggal dan Hilang Akibat Banjir Bandang & Longsor di 3 Provinsi Sumatra

Banjir di desa blang meurandeh kecamatan beutong ateuh banggalang kabupaten nagan raya acehBanjir di desa blang meurandeh kecamatan beutong ateuh banggalang kabupaten nagan raya aceh
Update Terbaru Banjir Bandang dan Longsor Sumatra: 558 Korban Meninggal dan Hilang, Evakuasi Terus Berlangsung

INBERITA.COM, Jumlah korban akibat banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra terus bertambah seiring proses pencarian yang masih berlangsung hingga Sabtu (29/11/2025).

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Polda Sumatera Utara (Polda Sumut) dan BNPB, total korban meninggal dunia dan hilang kini telah mencapai 558 orang.

Angka ini diperkirakan masih bisa meningkat karena banyak wilayah yang masih sulit dijangkau serta banyak warga yang belum terdata.

Bencana yang terjadi sejak 24 November 2025 itu memicu ratusan kejadian banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Sumut menjadi wilayah paling terdampak dengan 147 korban meninggal dan 174 orang masih dalam pencarian. Lebih dari 28 ribu warga juga harus mengungsi karena rumah mereka rusak atau berada di zona rawan bencana.

Kabupaten Tapanuli Tengah mencatat jumlah korban terbesar, dengan puluhan kejadian bencana dan lebih dari 600 warga terdampak, termasuk 47 orang meninggal dan 51 lainnya hilang. Kota Sibolga juga mengalami situasi darurat dengan puluhan korban meninggal dan hilang.

Di Sumatera Barat, banjir bandang dan longsor yang diperparah aliran lahar dingin dari kawasan gunung berapi menyebabkan 61 warga meninggal dan 90 orang hilang. Sejumlah desa hingga saat ini masih terisolasi akibat jembatan putus dan akses jalan yang tertutup material longsor.

Sementara itu, Aceh mencatat 35 korban meninggal dan 25 lainnya belum ditemukan, sebagian besar berasal dari daerah aliran sungai yang meluap setelah diguyur hujan deras selama beberapa hari berturut-turut.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan menyampaikan bahwa lebih dari 3.500 personel gabungan telah dikerahkan untuk menjalankan misi penyelamatan.

Mereka bekerja membuka akses jalan yang tertimbun longsor, mengevakuasi warga, serta menyalurkan bantuan ke pengungsian.

Menurut Ferry, seluruh tim menjadikan penyelamatan jiwa sebagai prioritas utama di tengah sulitnya kondisi lapangan.

Para petugas juga mendirikan dapur lapangan, memberikan layanan kesehatan, dan membantu warga yang mengalami trauma akibat bencana beruntun ini.

Kerusakan infrastruktur di banyak titik membuat proses evakuasi tidak mudah. Banyak ruas jalan nasional dan provinsi yang tertutup material berupa lumpur, batu besar, dan batang pohon.

Beberapa jembatan yang hanyut terbawa arus banjir menyulitkan distribusi logistik ke desa-desa yang terisolasi.

Aliran listrik dan jaringan komunikasi sempat terputus di sejumlah kabupaten, menyebabkan koordinasi awal pencarian harus dilakukan secara manual di lapangan.

Menurut data BNPB, ratusan rumah warga mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian di antaranya hanyut terbawa arus banjir bandang. Fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, rumah ibadah, dan pasar juga tidak luput dari kerusakan.

Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di tenda-tenda darurat dengan kondisi minim fasilitas.

Situasi ini diperparah oleh cuaca yang masih tidak stabil, sehingga pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas tinggi yang bisa memicu longsor susulan.

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan bahwa bencana tergolong sebagai rangkaian kejadian yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat, mulai dari kerusakan lingkungan hingga dampak psikologis.

Kondisi itu kini terlihat jelas di wilayah terdampak, di mana banyak keluarga masih mencari anggota keluarga mereka dan belum bisa kembali ke rumah.

Hingga kini, tim penyelamat masih terus menyisir titik-titik rawan yang diperkirakan menjadi lokasi korban tertimbun material longsor. Cuaca yang berubah cepat dan kontur wilayah yang curam menjadi tantangan besar dalam proses pencarian.

Meski demikian, pemerintah pusat dan daerah memastikan seluruh sumber daya terus dikerahkan untuk mempercepat evakuasi dan penanganan warga terdampak.

Upaya penyediaan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, obat-obatan, serta perlengkapan tidur juga tengah diperkuat agar pengungsi dapat bertahan selama masa darurat diberlakukan.

Dengan situasi yang masih dinamis, aparat kembali mengingatkan bahwa angka korban berpotensi bertambah.

Masyarakat di wilayah perbukitan, lembah sungai, dan daerah rawan banjir diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau luapan air. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama sampai kondisi benar-benar dinyatakan aman.