INBERITA.COM, Nama Priyo Handoko, pria asal Tempuran, Kabupaten Magelang, tengah menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial.
Pria berusia 40 tahun itu sukses menunggangi sepeda motor lawas Honda CB125 keluaran 1972 miliknya hingga mencapai Khardung La, India, salah satu jalan tertinggi di dunia yang berada di kawasan pegunungan Himalaya.
Video yang memperlihatkan aksi luar biasa Priyo pertama kali diunggah oleh akun Instagram @magelang, dan langsung menyita perhatian warganet.
Dalam rekaman yang viral itu, terlihat Priyo bersama motor tuanya berpose di tengah hamparan salju dengan latar tugu penanda kawasan Khardung La.
Motor berpelat nomor Magelang itu tampak gagah berdiri di lokasi ekstrem yang dikenal memiliki suhu di bawah nol derajat.
“Mungkin ini motor CB plat AA yang mainnya paling jauh dan satu-satunya yang pernah sampai Pegunungan Himalaya. Touring-mu paling jauh ke mana, Lur?” tulis akun tersebut dalam unggahannya, seperti dikutip pada Selasa (28/10/2025).
Untuk diketahui, Khardung La merupakan salah satu jalur darat tertinggi di dunia yang dapat dilalui kendaraan bermotor. Jalur ini terletak di dataran tinggi Himalaya dengan ketinggian mencapai 5.610 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan kerap diselimuti salju tebal sepanjang tahun.
Ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Priyo membenarkan bahwa ia memang berhasil menembus jalur ekstrem tersebut.
“Yang terkenal sebagai salah satu jalur darat tertinggi di dunia yang dapat dilalui kendaraan bermotor,” ujarnya.
Priyo mengaku bahwa video viral itu awalnya hanya ia kirimkan kepada istrinya sebagai dokumentasi pribadi.
Ia baru mengetahui videonya menyebar luas setelah perangkat desa di kampung halamannya memberi tahu. Meski sempat terkejut, ia merasa bangga karena perjuangan panjangnya akhirnya mendapat perhatian publik.
Perjalanan ke India ini merupakan bagian dari misi pribadinya yang ia beri nama “Riding Anything Can Go Anywhere”.

Priyo menjelaskan bahwa petualangan yang ia lakukan saat ini sudah memasuki etape ketiga dengan menggunakan motor yang sama, yaitu Honda CB125 berwarna merah yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
“Intinya saya punya program Riding Anything Can Go Anywhere. Sekarang ini etape ketiga. Untuk etape ketiga dari Nepal, eksplor India terus Pakistan. Tapi sepertinya perbatasan tutup (Pakistan), makanya terakhir di jalan tertinggi di dunia,” ungkapnya.
Priyo menegaskan, perjalanan ekstrem yang dilakukannya tidak berhubungan dengan misi pemerintah maupun sponsor tertentu.
“Nggak ada misi dari pemerintah, sponsor. Ini misi pribadi,” tegasnya.
Hingga etape ketiga, Priyo sudah melintasi delapan negara dalam petualangannya. Ia menegaskan bahwa setiap negara yang disinggahi tidak hanya dilewati, melainkan juga ia eksplorasi dengan tenang.
“Kalau etape tiga baru dua negara, tapi saya tidak hanya melintas. Kalau saya eksplor per negara, jadi nyantai,” tuturnya.
Pria yang dikenal sebagai sosok sederhana ini juga menjelaskan bahwa dirinya sudah memiliki pengalaman bertualang di alam ekstrem, termasuk mendaki gunung es.
Pengalaman itu membantunya dalam memahami kondisi suhu dingin, tekanan udara, dan pakaian yang diperlukan untuk bertahan di ketinggian.
“Kenapa pakai CB, karena saya sudah memahami. Saya 20 tahun pakai CB. Jadi persiapan saya benar-benar matang. Saya tidak mau memberikan informasi bahwa saya nekat, karena bekal saya sudah cukup,” jelasnya.
Namun, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Priyo menceritakan beberapa momen menegangkan ketika harus melewati jalur bersalju di ketinggian lebih dari 3.000 mdpl.
“Di ketinggian 3.000 sampai 5.000 meter tertutup salju. Saya harus menunggu beberapa hari agar es mencair dan tidak turun salju. Saya bertahan dua hari di rumah warga. Setelah dua hari menunggu, akhirnya hari ketiga saya putuskan naik dengan keberhasilan 60 persen,” kisahnya.
Saat mencapai ketinggian 4.000 mdpl, ia diterpa badai salju pada malam hari.
“Saya kena badai es jam 7 malam. Udara mulai tipis, suhu minus 17 derajat, tapi saya harus lanjut,” ujarnya.
Dalam kondisi yang semakin berat, Priyo tetap melanjutkan perjalanan hingga ke titik 5.200 mdpl di kawasan Tanglang La.
“Di Tanglang La saya kena badai, es, dan jalan tertutup salju,” lanjutnya.
Meski begitu, ia tetap melangkah dengan tekad kuat. Ia sempat beristirahat selama tiga hari di rumah warga tanpa akses sinyal seluler sama sekali.
“Setelah itu saya lanjutkan ke Ladakh. Untuk mencapai jalan tertinggi harus menunggu dua hari lagi karena kondisi tertutup es, motor tidak boleh naik. Sebenarnya itu sudah mau turun, tapi saya dapat teman di Ladakh yang bantu dengan mobil pendamping. Akhirnya dikawal sampai ke Khardung La,” cerita Priyo penuh semangat.
Di titik puncak Khardung La, Priyo sempat berfoto dan mengabadikan momen bersejarahnya bersama sang motor tua.
“Sekitar 10 harian saya menempuh perjalanan untuk mencapai jalan tertinggi itu. Itu hanya satu lokasi,” pungkasnya.
Kisah Priyo Handoko bukan sekadar tentang menaklukkan jalur tertinggi dunia, melainkan juga tentang keteguhan, kecintaan terhadap motor klasik, dan semangat pantang menyerah. (xpr)







