INBERITA.COM, Pantai Kembar Terpadu di Desa Tambakmulya, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, kembali mencuri perhatian publik sebagai salah satu tujuan wisata favorit selama musim libur Lebaran 2026.
Terletak di pesisir selatan Kebumen, destinasi ini berhasil menarik lebih dari 54 ribu pengunjung pada periode libur Lebaran, dari 22 hingga 28 Maret 2026.
Keberhasilan Pantai Kembar Terpadu tidak lepas dari penerapan konsep unik “bayar seikhlasnya” yang diterapkan oleh pengelola.
Konsep ini memungkinkan pengunjung untuk memberikan kontribusi secara sukarela, tanpa adanya tarif tiket masuk tetap.
Pengunjung cukup memasukkan uang ke dalam kotak yang disediakan saat meninggalkan lokasi. Ini adalah pendekatan yang tidak biasa, namun terbukti sangat efektif dalam menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Elvina Mahayati, salah seorang pengunjung dari Banyumas, mengungkapkan bahwa dirinya sangat tertarik dengan konsep pengelolaan wisata tanpa tarif tiket masuk tetap.
“Begitu datang, tidak langsung ditarik tiket. Tapi pas pulang, nanti cuma masukin uang ke kotak,” ujarnya.
Elvina menilai bahwa pendekatan ini sangat fleksibel dan ramah di kantong. Ia pun merasa tidak terbebani oleh biaya saat menikmati keindahan alam di Pantai Kembar.
Sarah Indrawati, pengunjung lainnya yang berasal dari Wonosobo, menambahkan bahwa selain keindahan alamnya, Pantai Kembar Terpadu menawarkan nilai edukasi tentang konservasi penyu.
“Di sini fasilitas lengkap, anak-anak bisa belajar konservasi penyu juga,” kata Sarah.
Hal ini membuatnya merasa semakin tertarik untuk mengunjungi destinasi ini, yang juga memberikan pengalaman belajar bagi keluarga.
Muji Arisno, Ketua Pengelola Pantai Kembar Terpadu, mengungkapkan bahwa tujuan penerapan konsep “bayar seikhlasnya” adalah agar destinasi ini tetap ramah bagi semua kalangan, terutama bagi masyarakat yang mungkin terbatas secara finansial.
“Kami tidak ingin masyarakat merasa terbebani ketika ingin menikmati panorama alam dan belajar tentang alam,” jelas Muji.
Selain itu, Pantai Kembar Terpadu juga dikenal karena memiliki aktivitas konservasi penyu yang menjadi fokus pemberdayaan masyarakat setempat.
Sepanjang tahun 2025, tim konservasi di sini berhasil menetaskan 571 telur Penyu Lekang, di mana 517 penyu berhasil dilepasliarkan ke alam bebas. Konservasi penyu ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kelestarian alam di kawasan pesisir.
Di sisi lain, Pantai Gajah yang terletak di Dusun Luangkandang, Desa Waluyorejo, Kecamatan Puring, juga menjadi favorit wisatawan selama libur Lebaran.
Pantai ini dipadati oleh pengunjung yang menikmati berbagai aktivitas santai, seperti mencicipi kuliner lokal, bermain layang-layang, dan menyewa wahana hiburan seperti kuda tunggang dan motor ATV.
Pantai Gajah juga dikenal dengan area laguna yang aman untuk anak-anak bermain air, jauh dari gelombang besar laut.
Fasilitas lengkap dan suasana yang nyaman menjadikan Pantai Gajah sebagai pilihan utama bagi keluarga.
Salah seorang pengunjung, Eko Wahyudi dari Kecamatan Buayan, mengungkapkan bahwa Pantai Gajah sangat cocok untuk keluarga karena selain pemandangannya yang indah, anak-anak bisa bermain dengan aman di kawasan laguna yang dangkal.
Seperti halnya Pantai Kembar Terpadu, Pantai Gajah juga mengusung konsep tanpa tiket masuk tetap. Pengunjung cukup memasukkan kontribusi sukarela ke dalam kotak yang disediakan di pintu utama.
Eko Wahyudi menilai, sistem ini sangat menguntungkan pengunjung, karena selain ramah di kantong, pengunjung tidak merasa terbebani dengan tarif yang tinggi.
Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, baik di Pantai Kembar Terpadu maupun Pantai Gajah, ekonomi lokal juga mengalami berkah.
Pedagang makanan dan penyedia jasa sewa wahana hiburan mendapatkan keuntungan yang signifikan.
Andri, penyedia jasa sewa papan selancar di Pantai Gajah, mengungkapkan bahwa permintaan untuk papan selancar sangat tinggi selama liburan Lebaran.
“Hari ini ada 20 lebih yang sewa,” ujar Andri dengan senyum lebar. Tarif sewa papan selancar di Pantai Gajah berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, tergantung ukuran papan.
Kehadiran dua pantai ini menunjukkan bahwa konsep wisata berbasis alam dan konservasi dapat menjadi pilihan yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga mendukung pemberdayaan masyarakat sekitar.
Di Pantai Kembar Terpadu, misalnya, tim konservasi penyu melibatkan masyarakat dalam upaya menjaga dan melestarikan spesies ini, yang sekaligus memberikan nilai edukasi kepada pengunjung.
Kebumen, khususnya di wilayah pesisir selatan, telah berhasil menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya menarik perhatian pengunjung, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi lokal.
Dengan konsep “bayar seikhlasnya” yang diterapkan di Pantai Kembar Terpadu dan Pantai Gajah, kedua destinasi ini berhasil menciptakan pengalaman wisata yang ramah kantong, menarik, dan edukatif bagi semua kalangan.
Ke depannya, diharapkan destinasi wisata berbasis konservasi seperti ini semakin banyak dikembangkan untuk mendukung pelestarian alam sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.







