INBERITA.COM, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas setempat terkait kebakaran hebat yang melanda Kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, yang terjadi pada pekan lalu.
Kebakaran yang melibatkan tujuh gedung apartemen ini menelan korban jiwa, termasuk beberapa warga negara Indonesia (WNI), yang sebagian besar adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di sektor domestik.
Berdasarkan keterangannya, KJRI Hong Kong menyebutkan bahwa sekitar 140 WNI tinggal di kompleks apartemen tersebut, dengan 95 di antaranya selamat.
Hingga kini, tercatat sembilan WNI meninggal dunia, satu lainnya dirawat di rumah sakit, sementara 35 orang lainnya masih hilang.
Proses pencarian korban masih terus berlangsung, dan KJRI Hong Kong terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memastikan hak-hak korban, termasuk proses repatriasi jenazah.
“KJRI Hong Kong terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk melakukan upaya terbaik dalam repatriasi jenazah dan memastikan hak-hak korban lainnya,” ujar KJRI dalam keterangan tertulis pada Senin (1/12).
Upaya ini dilakukan untuk memberikan bantuan terbaik kepada keluarga korban serta memulihkan kondisi para WNI yang terdampak.
Kebakaran tersebut terjadi pada Rabu (26/11), sekitar pukul 15:00 waktu setempat, dan cepat berkembang hingga mencapai tingkat peringatan tertinggi, yaitu “No. 5 alarm,” pada pukul 18:22 waktu setempat.
Kebakaran besar ini menewaskan lebih dari 100 orang, dengan banyak korban yang masih terjebak di reruntuhan. Hingga kini, otoritas Hong Kong masih melanjutkan pencarian dan identifikasi korban yang hilang.
Untuk memastikan bantuan segera sampai ke para korban, KJRI Hong Kong membuka posko kedaruratan pada Rabu malam dan mulai bergerak cepat mengkoordinasikan bantuan dengan otoritas setempat.
KJRI juga mengirimkan tim ke lapangan untuk melakukan identifikasi dan verifikasi WNI yang terjebak dalam kebakaran tersebut. Selain itu, tim KJRI juga mendistribusikan bantuan logistik yang meliputi makanan, minuman, serta perlengkapan kebersihan (sanitary pack).
Posko kedaruratan juga didirikan di Tai Po Community pada hari Jumat (28/11) untuk memberikan pelayanan kepada WNI yang terdampak.
Fungsi posko tersebut meliputi identifikasi dan verifikasi WNI yang terkena dampak, serta distribusi bantuan logistik dan bantuan terkait kehilangan paspor.
“Kami memastikan bahwa setiap WNI yang terdampak dapat segera mendapat bantuan yang dibutuhkan sesuai dengan protokol keselamatan yang berlaku di Hong Kong,” tambah KJRI.
Selain itu, KJRI Hong Kong juga bekerja sama dengan komunitas Indonesia di Hong Kong untuk menjaring informasi terkait keberadaan dan kondisi WNI yang mungkin belum teridentifikasi atau masih hilang. Komunikasi aktif ini penting untuk memastikan tidak ada WNI yang tertinggal dalam proses pencarian dan evakuasi.
Kebakaran ini juga menarik perhatian pemerintah Indonesia. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menyampaikan belasungkawa mendalam atas tewasnya sembilan WNI yang menjadi korban kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court.
“Kami ikut berduka cita atas wafatnya warga negara Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Kejadian ini juga harus menjadi peringatan bagi kita semua untuk meningkatkan sistem mitigasi darurat bagi pekerja migran Indonesia,” ujar Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Muzani menekankan perlunya perencanaan dan mitigasi darurat yang lebih baik, terutama bagi para pekerja migran Indonesia yang tinggal di apartemen bertingkat tinggi. Ia mengingatkan bahwa di luar potensi kebakaran, pekerja migran juga menghadapi risiko lainnya seperti gempa bumi.
“Perlunya mitigasi yang komprehensif untuk menyelamatkan nyawa pekerja migran kita sangat penting. Kita harus memastikan mereka siap menghadapi risiko-risiko yang dapat terjadi kapan saja,” lanjut Muzani.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melaporkan jumlah korban tewas dari insiden kebakaran terus bertambah.
Hingga Minggu (30/11), korban jiwa yang berasal dari WNI tercatat sebanyak sembilan orang, dengan tiga lainnya luka-luka. Kementerian terus memantau situasi di lapangan dan memberikan bantuan yang diperlukan.
Pemerintah Indonesia, melalui KJRI Hong Kong, telah memastikan bahwa hak-hak WNI yang menjadi korban kebakaran, termasuk pengurusan paspor dan dokumen penting lainnya, akan dipenuhi.
KJRI Hong Kong juga berkoordinasi dengan pihak berwenang di Hong Kong untuk memastikan proses pencarian dan evakuasi dilakukan dengan cepat dan efisien.
Bagi keluarga yang terlibat atau yang memiliki anggota keluarga di kawasan terdampak, KJRI Hong Kong membuka jalur komunikasi bagi mereka untuk memperoleh informasi lebih lanjut dan melaporkan kondisi terkini. (***)







