Update Banjir Bandang di Empat Kecamatan Kepulauan Sitaro, 17 Tewas dan Puluhan Rumah Hanyut

INBERITA.COM, Banjir bandang dahsyat menerjang empat kecamatan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut), pada Senin (5/1) dini hari, menyebabkan kerusakan luas serta jatuhnya korban jiwa. Bencana hidrometeorologi ini mengakibatkan sedikitnya 17 orang tewas, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.

Kejadian bencana terjadi pada sekitar pukul 03.00 Wita, ketika hujan deras mengguyur wilayah Kepulauan Sitaro, memicu banjir bandang yang melanda empat kecamatan, yaitu Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.

Hujan dengan intensitas tinggi tersebut memicu longsoran material yang menimbulkan banjir yang merendam permukiman warga dan merusak infrastruktur di sekitarnya.

Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, mengungkapkan bahwa selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan banyak kerusakan material. “Selain korban jiwa, beberapa rumah hilang, warga yang belum ditemukan serta warga mengalami luka-luka,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (5/1).

Hingga Rabu (7/1) malam, jumlah korban tewas akibat bencana ini telah mencapai 17 orang. Dua korban lainnya, yakni Adris Pianaung dan anaknya, Leonald Pianaung, masih dalam pencarian. Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan relawan masih berupaya keras untuk menemukan kedua korban yang hilang.

“Sudah 17 meninggal dunia, dua hilang. Dua orang yang masih hilang adalah ayah dan anak,” ungkap Bupati Chyntia dalam wawancara dengan wartawan pada Rabu (7/1).

Tim SAR juga berhasil menemukan balita bernama Clayton Tatambihe yang berusia dua tahun di Kampung Peling pada Rabu (7/1). Clayton ditemukan tertimbun material bangunan yang diterjang banjir.

“Clayton Tatambihe umur dua tahun ditemukan tertimbun di rumah warga,” lanjut Chyntia, memberikan kabar terbaru mengenai upaya pencarian korban yang terus dilakukan.

Bencana banjir bandang ini juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur dan rumah warga. Hingga Kamis (8/1), tercatat lebih dari 680 warga mengungsi akibat bencana tersebut.

Sebanyak 22 orang dilaporkan mengalami luka-luka, dengan sebagian besar dirujuk ke puskesmas terdekat. Dua di antaranya bahkan harus dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa selain korban luka, ada kerusakan besar pada rumah warga.

“Tujuh rumah hanyut tersapu banjir, sementara 29 rumah rusak berat dan 112 rumah lainnya rusak ringan,” jelasnya dalam keterangan resmi pada Selasa (6/1).

Banjir bandang juga merusak sejumlah fasilitas umum dan akses jalan yang terputus. Dengan adanya curah hujan yang terus menerus, akses menuju beberapa area di Kabupaten Sitaro terhambat, mempersulit proses evakuasi dan distribusi bantuan kepada para korban.

Pemerintah daerah dan tim SAR bekerja keras untuk mengatasi kerusakan dan memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi.

Selain itu, sejumlah fasilitas publik juga mengalami kerusakan berat akibat bencana ini. Pihak pemerintah setempat masih melakukan penanganan darurat dan memulai upaya perbaikan untuk membuka akses yang terhambat serta memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir.

Bupati Chyntia Kalangit menegaskan pentingnya pemulihan jangka panjang pascabencana ini. Pihak pemerintah setempat terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.

Penanganan darurat masih menjadi prioritas utama, sementara langkah-langkah pemulihan infrastruktur dan penguatan mitigasi bencana akan segera diprioritaskan.

Sementara itu, BNPB dan pihak terkait juga terus memberikan dukungan kepada korban dengan memastikan distribusi bantuan berjalan lancar.

Tak hanya itu, langkah-langkah mitigasi bencana seperti pembuatan saluran drainase yang lebih baik dan pemetaan wilayah rawan bencana akan diperkuat untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, pada awal Januari ini telah menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa yang cukup banyak.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut mengakibatkan longsoran material yang menghancurkan permukiman warga dan infrastruktur.

Pemerintah daerah dan tim SAR terus bekerja keras untuk mencari korban yang hilang serta memperbaiki kerusakan yang ada. Bencana ini juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dan upaya mitigasi yang lebih baik di masa depan. (**)