INBERITA.COM, Mitos Umbul Ngabean di Boyolali sejak lama menjadi bagian dari cerita masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang mempercayai kekuatan spiritual pada sejumlah mata air tua di Jawa.
Terletak di kompleks pemandian Tirtomarto Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, umbul ini dikenal bukan hanya sebagai sumber mata air jernih, tetapi juga sebagai lokasi yang dipercaya mampu memberikan berkah, termasuk menaikkan pangkat atau derajat seseorang.
Keyakinan tersebut terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan Umbul Ngabean sebagai salah satu tempat tirakat yang ramai didatangi masyarakat, terutama pada malam Jumat Pahing.
Setiap pekan, terutama pada malam-malam tertentu yang dianggap memiliki nilai spiritual, kawasan Umbul Ngabean tidak pernah sepi dari pengunjung yang datang dengan berbagai hajat.
Aktivitas tirakat yang dilakukan pun biasanya berupa kungkum atau berendam dalam keheningan malam.
Fenomena ini bukan hal baru bagi masyarakat Jawa yang masih menjaga tradisi leluhur, dan Umbul Ngabean menjadi salah satu titik penting dalam tradisi tersebut.
Sukardi, salah satu pengelola di Umbul Ngabean, membenarkan bahwa jumlah warga yang melakukan tirakat di lokasi itu masih cukup banyak. Mereka yang datang tidak hanya dari Boyolali, tetapi juga dari berbagai daerah di Soloraya.
“Mintanya berbeda-beda, tergantung dari orangnya tirakat itu mau apa, kalau di sini (Umbul Ngabean), dipercaya bisa naik pangkat,” jelas Kardi.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa kuatnya keyakinan masyarakat terhadap kekuatan Umbul Ngabean, terutama bagi mereka yang sedang mengejar karier atau berharap peningkatan jabatan dalam pekerjaan.
Di tengah persaingan dunia kerja dan tuntutan kehidupan modern, ritual tirakat di umbul ini dianggap sebagai salah satu cara mencari ketenangan batin sekaligus meminta keberkahan.
Menurut Sukardi, dari empat umbul yang terdapat dalam kompleks pemandian Tirtomarto, hanya Umbul Ngabean dan Umbul Dudo yang masih sering digunakan sebagai lokasi tirakat.
Meski berada dalam satu kawasan, kedua umbul ini dipercaya memiliki khasiat dan tujuan spiritual yang berbeda.
Jika Umbul Ngabean diyakini mampu membantu menaikkan pangkat atau derajat seseorang, Umbul Dudo justru lebih banyak dikunjungi oleh warga yang memiliki hajat terkait kelangsungan usaha.
“Biasanya masyarakat meminta hajat untuk kelangsungan usaha yang sedang dijalankan,” ujar Sukardi mengenai Umbul Dudo.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Umbul Ngabean tetap menjadi lokasi yang paling ramai dikunjungi masyarakat yang hendak melakukan tirakat.
Ada alasan sejarah yang membuat Umbul Ngabean memiliki magnet tersendiri bagi para peziarah spiritual. Kolam di umbul tersebut merupakan bekas pemandian raja Keraton Surakarta, Pakubowono X.
Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa umbul tersebut memiliki nilai sakral yang tinggi. “Mungkin karena bekas dari raja, jadi banyak yang percaya bisa menaikkan derajat,” tambahnya.
Kepercayaan terhadap bekas situs kerajaan sebagai lokasi yang memiliki aura atau energi tertentu memang masih sangat kuat di berbagai daerah Jawa.
Banyak warga yang meyakini bahwa tempat-tempat yang pernah digunakan oleh bangsawan atau tokoh penting memiliki daya spiritual yang dapat membawa keberuntungan.
Umbul Ngabean termasuk dalam kategori tersebut, sehingga tak heran jika hingga kini tetap menjadi tujuan tirakat berbagai kalangan, mulai dari pegawai, pedagang, hingga tokoh masyarakat.
Selain menjadi tempat tirakat, Umbul Ngabean juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi terapi kesehatan. Airnya yang jernih dan bersuhu stabil dipercaya mampu membantu meredakan sejumlah keluhan fisik.
Setiap pagi, banyak warga yang berendam di kolam tersebut untuk terapi, terutama mereka yang menderita penyakit saraf, stroke, maupun lansia yang ingin menjaga kebugaran tubuh.
Aktivitas ini telah berlangsung cukup lama dan menjadi rutinitas bagi sebagian masyarakat yang mempercayai manfaat alami dari sumber mata air tersebut.
Lokasi Umbul Ngabean yang masih berada satu kompleks dengan Umbul Pengging turut menambah daya tarik kawasan ini.
Umbul Pengging sendiri dikenal luas sebagai tempat kungkum, yaitu ritual berendam yang menjadi bagian dari tradisi spiritual Jawa.
Kombinasi nilai sejarah, tradisi leluhur, serta aktivitas masyarakat yang masih hidup hingga kini menjadikan kawasan Pengging sebagai destinasi spiritual yang terus diminati.
Meski perkembangan zaman membawa banyak perubahan, mitos dan tradisi di Umbul Ngabean tetap bertahan.
Bagi sebagian orang, tirakat bukan hanya ritual, melainkan juga perjalanan batin untuk mencari ketenangan, harapan, atau kekuatan untuk menghadapi persoalan hidup.
Umbul Ngabean, dengan sejarah panjang dan keyakinan yang melekat, menjadi salah satu ruang di mana harapan dan tradisi bertemu, menjadikannya bagian penting dari identitas budaya lokal Boyolali dan masyarakat Jawa pada umumnya. (mms)







