INBERITA.COM, Tumbler Tuku menjadi salah satu produk yang mencuri perhatian publik dalam beberapa hari terakhir. Popularitas botol minum ini tak lepas dari reputasi Tuku sebagai salah satu merek kopi kenamaan di Jakarta.
Didirikan oleh Andanu Prasetyo pada 2015, Kopi Tuku berhasil menancapkan namanya sebagai pelopor tren kopi susu gula aren di Indonesia berkat menu ikonik Kopi Susu Tetangga.
Minuman tersebut sempat viral dan mendorong perkembangan bisnis Tuku dari sebuah kedai kecil menjadi salah satu brand kopi paling berpengaruh di Ibu Kota.
Seiring pertumbuhan bisnis, Tuku tak hanya fokus pada produk minuman, tetapi juga mengembangkan lini usaha lain berupa garmen dan barang-barang penunjang gaya hidup.
Mulai dari kaos kaki, topi, crewneck sweater, hingga totebag, berbagai merchandise Tuku tampil mengikuti tren dan diminati para penggemarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu produk yang paling mencolok dan menjadi identitas tidak resmi para pekerja kantoran Jakarta adalah tumbler Tuku.
Tumbler Tuku diproduksi dalam beragam model dan ukuran, dengan pilihan bahan seperti stainless steel dan plastik.
Ukurannya pun beragam, dimulai dari kapasitas 250 ml yang praktis dibawa ke kantor atau aktivitas harian.
Kemunculan berbagai seri tumbler buatan Tuku ini kemudian menjadi perhatian publik, apalagi ketika salah satu botolnya viral di media sosial.
Tuku merilis beberapa jenis tumbler yang dapat dibeli melalui berbagai platform niaga-el seperti Shopee dan Tokopedia, maupun langsung melalui akun Instagram resmi @tokoserbatuku.
Salah satu yang cukup dikenal adalah Botol Tetangga Tuku yang diluncurkan pada 2023.
Menurut penelusuran di Instagram toko Tuku, pertama kali tumbler muncul adalah pada 2023 yaitu tipe botol 600 ml berbahan plastik AS yang bebas bahan kimia (BPA Free) dengan harga Rp65 ribu.
Produk ini kemudian ramai diburu karena desainnya yang minimalis, harga yang relatif terjangkau, serta kaitannya dengan brand Tuku yang sudah identik dengan masyarakat urban Jakarta.
Namun, kepopuleran tumbler tersebut melonjak drastis bukan semata karena desain atau harganya, melainkan lantaran sebuah kisah yang viral di media sosial.
Viralnya tumbler Tuku bermula dari unggahan seorang warganet bernama Anita Dewi. Ia menceritakan kejadian tumbler Tuku miliknya yang hilang saat naik kereta komuter atau KRL di Jakarta.
Kejadian ini membuat Anita meminta penjelasan dari petugas yang bertugas saat itu, bernama Argi. Anita dan suaminya bahkan menuntut PT KAI untuk melakukan pengecekan CCTV guna mengetahui siapa yang mengambil tumbler tersebut.
Dalam percakapan WhatsApp yang ia bagikan, Argi menjelaskan bahwa proses membuka dan meninjau CCTV tidak bisa dilakukan sembarangan.
“Ia menjelaskan jika untuk membuka CCTV harus melalui berbagai prosedur termasuk laporan ke kepolisian.” Argi kemudian menawarkan solusi lain, yakni mengganti tumbler yang hilang agar masalah tidak berlarut.
Namun, Anita dan suaminya menolak opsi tersebut karena ingin kasus tersebut diusut sampai tuntas.
Mereka menilai perlu ada bentuk pertanggungjawaban dari PT KAI mengingat barang yang tertinggal mengalami pengurangan isi ketika ditemukan.
Perdebatan ini berlanjut hingga akhirnya Argi menulis pesan bahwa ia berpotensi diberhentikan oleh PT KAI.
“Argi kemudian menulis pesan bahwa ia kemungkinan akan diberhentikan oleh PT KAI karena tidak melakukan pekerjaan sesuai Standard Operating Procedure (SOP).”
Dalam penjelasannya, Argi mengakui bahwa sesuai SOP, petugas seharusnya memeriksa isi barang yang tertinggal.
Namun, ia mengungkapkan kondisi stasiun kala itu sedang ramai sehingga prosedur tersebut terlewatkan. “Argi tidak melakukan pengecekan karena menurutnya suasana stasiun sedang ramai kala itu.”
Kisah tersebut memicu beragam reaksi publik, sebagian menyayangkan insiden yang berawal dari botol minum seharga Rp65 ribu namun berujung pada potensi masalah pekerjaan.
Sebagian lainnya menyoroti prosedur penanganan barang hilang di transportasi publik.
Kasus ini akhirnya menarik perhatian PT KAI. Perusahaan menyatakan sedang meminta keterangan dari pihak-pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.
Respons ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan barang pribadi di transportasi umum. KAI juga mengimbau masyarakat untuk menjaga barang bawaan selama perjalanan agar tidak tertinggal.
“Jika ada barang hilang, bisa menghubungi bagian lost and found yang ada di stasiun.”
Fenomena ini menunjukkan betapa sebuah produk sederhana dapat menjadi viral karena konteks sosial di sekitarnya.
Tumbler Tuku yang semula hanya merchandise pendukung, kini menjadi simbol tren sekaligus bahan perbincangan nasional.
Dari sisi brand, momentum viral ini justru memperkuat eksposur Tuku sebagai merek yang lekat dengan kultur urban dan aktivitas sehari-hari masyarakat Jakarta.
Namun bagi publik, kisah ini menjadi refleksi bagaimana media sosial dapat mendorong isu yang tampak sepele menjadi sorotan besar.
Dengan meningkatnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap tumbler Tuku, pencarian terkait harga, model, hingga ketersediaan produk semakin tinggi.
Hal ini kembali menegaskan bahwa di era digital, viralitas dapat muncul dari peristiwa kecil dan kemudian berkembang menjadi fenomena sosial yang melibatkan banyak pihak.