INBERITA.COM, Perang yang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-16 pada Senin, 16 Maret 2026, dengan korban jiwa yang semakin bertambah.
Di tengah eskalasi ketegangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran telah meminta untuk bernegosiasi guna mencapai gencatan senjata. Namun, klaim ini segera dibantah oleh Teheran yang menegaskan bahwa mereka tidak tertarik untuk berunding dengan AS.
Dalam wawancara telepon dengan NBC News, Trump menyatakan bahwa Iran ingin melakukan kesepakatan, namun ia menambahkan bahwa persyaratan yang diajukan oleh Iran belum cukup baik untuk diakomodasi.
“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik,” ujar Trump.
Trump Sebut Persyaratan Gencatan Senjata Belum Memadai Ketika ditanya tentang persyaratan apa yang harus ada dalam kesepakatan potensial untuk mengakhiri perang ini, Trump enggan mengungkapkan detailnya.
Namun, ia mengindikasikan bahwa komitmen dari Iran untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklir mereka akan menjadi salah satu bagian dari kesepakatan tersebut.
Komentar ini muncul setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintah Trump tidak aktif dalam memajukan pembicaraan untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Perang ini dimulai setelah AS dan Israel melakukan serangan udara gabungan yang menewaskan banyak orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balik dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
Iran Bantah Klaim Trump: “Kami Tidak Tertarik untuk Berbicara” Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas membantah klaim Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata atau negosiasi dengan AS.
Dalam wawancara dengan program Face The Nation CBS, Araghchi menyatakan bahwa Iran merasa cukup stabil dan kuat untuk tidak perlu bernegosiasi dengan Washington.
“Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami,” ujar Araghchi.
“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami,” tambahnya dengan nada keras.
Araghchi lebih lanjut menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata atau negosiasi dengan AS.
“Tidak ada pengalaman baik berbicara dengan Amerika. Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi,” katanya.
Iran Hanya Siap Berbicara dengan Negara Tertentu Namun, meskipun Iran menutup pintu untuk dialog dengan AS, Araghchi menyatakan bahwa Iran terbuka untuk berbicara dengan negara-negara yang memiliki kepentingan untuk memastikan jalur ekspor minyak di Selat Hormuz tetap aman.
Iran menganggap penting bagi negara-negara tertentu untuk dapat menjamin kelancaran lalu lintas kapal tanker minyak yang melewati selat strategis tersebut.
“Saya tidak dapat menyebutkan negara tertentu, tetapi kami telah didekati oleh sejumlah negara yang ingin memiliki jalur aman untuk kapal mereka,” tambah Araghchi.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Iran tidak tertarik berunding dengan AS, mereka tetap membuka peluang untuk berdialog dengan negara-negara lain yang berkepentingan.
Korban Jiwa Terus Bertambah Perang ini telah menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran, sementara di pihak Israel, 15 orang tewas, dan 13 tentara AS juga telah menjadi korban.
Di negara-negara Arab Teluk, total 19 orang tewas, sementara di Lebanon, jumlah korban tewas mencapai sekitar 850 orang.
Dengan terus berlanjutnya pertempuran dan meningkatnya jumlah korban jiwa, dunia internasional semakin khawatir akan eskalasi yang bisa melibatkan lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah.
Proses diplomasi untuk mengakhiri perang ini pun semakin mendesak, namun klaim saling bertentangan antara Trump dan pejabat Iran menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih jauh dari jangkauan.
Kesimpulan Meski Trump mengklaim bahwa Iran ingin berdialog untuk mencapai gencatan senjata, pemerintah Iran dengan tegas membantahnya.
Iran menegaskan bahwa mereka hanya ingin berbicara dengan negara-negara yang tertarik untuk memastikan kelancaran jalur ekspor minyak di Selat Hormuz, bukan dengan AS yang mereka anggap sebagai pihak yang memulai konflik.
Dengan korban yang terus berjatuhan dan ketegangan yang semakin meningkat, apakah dunia akan melihat adanya upaya konkret untuk menghentikan perang ini?
Hingga saat ini, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi ketidakpastian.







