Dubai Jadi Kota Hantu Sejak Serangan Iran, Ekspatriat dan Turis Kabur, Pantai dan Hotel Kosong

Dubai sepi ditinggal ekspatriat dan turisDubai sepi ditinggal ekspatriat dan turis
Ketegangan Perang di Dubai: Ekspatriat Tinggalkan Kota, Hotel dan Pantai Kosong

INBERITA.COM, Dubai, yang dulu dikenal sebagai surga bebas pajak bagi ekspatriat dan selebritas, kini berubah menjadi kota hantu.

Ribuan ekspatriat dan influencer telah meninggalkan kota tersebut setelah serangkaian serangan rudal dan drone dari Iran, yang terus menghantam Uni Emirat Arab (UEA) dan mengancam stabilitas kawasan Teluk.

Kawasan mewah Dubai yang dulu dipenuhi oleh wisatawan dan ekspatriat kini tampak sepi. Pantai-pantai yang biasanya dipenuhi oleh wisatawan internasional, termasuk banyak warga Inggris yang tinggal di sana, kini kosong.

Bar pantai yang semula ramai, kursi berjemur yang berjajar rapi di sepanjang pantai, dan kolam renang yang berkilau, semuanya kini ditinggalkan.

Pada Jumat lalu, serangan yang mengguncang Dubai menyebabkan puing-puing dari drone Iran merusak gedung-gedung pencakar langit di pusat kota.

Setelah ledakan besar tersebut, suasana kota terasa seperti mati, dengan keramaian yang dulunya mengisi jalanan dan restoran kini berubah menjadi hening.

Pantai Jumeirah yang berpasir putih, biasanya ramai dengan wisatawan, kini tampak kosong.

Biasanya dipenuhi oleh sekitar 240.000 warga Inggris yang tinggal di Dubai, pantai tersebut kini mulai sepi karena kurangnya pengunjung. Fasilitas di kawasan ini, termasuk restoran dan bar, mulai ditutup sementara akibat penurunan jumlah pengunjung yang drastis.

Para pekerja migran yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota kini menghadapi kekhawatiran besar.

Sebagian besar pekerja, yang berasal dari India, Afrika, dan Timur Jauh, menggantungkan hidup pada kedatangan wisatawan kaya dari Eropa dan Amerika Serikat. Namun, dengan serangan yang semakin intensif, hampir tidak ada lagi pelanggan yang datang.

“Saya belum pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya dan semua orang khawatir tentang masa depan,” kata seorang manajer kafe asal Pakistan kepada Daily Mail.

Ia menjelaskan bahwa musim libur anak sekolah yang baru dimulai tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan pengunjung.

“Orang tua mereka semua telah membawa mereka pulang,” tambahnya.

Serangan Iran yang terus berlangsung menargetkan pusat-pusat vital di Dubai. Terbaru, Pusat Keuangan Internasional Dubai dan beberapa gedung tinggi lainnya menjadi sasaran serangan.

Meski sebagian besar rudal berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara UEA, sejumlah kerusakan cukup signifikan terjadi, termasuk di Bandara Internasional Dubai yang juga menjadi sasaran dua drone yang menyebabkan kebakaran dan beberapa penerbangan dibatalkan.

Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa mereka siap menghadapi harga minyak yang bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel setelah menutup Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut.

“Bersiaplah untuk harga minyak mencapai 200 dolar per barel,” kata Ebrahim Zolfaqari, juru bicara militer Iran, menanggapi dampak serangan mereka terhadap pasar energi global.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga dari total rudal yang diluncurkan Iran dalam dua minggu terakhir ditujukan ke Dubai.

Sejumlah hotel besar mulai menyuruh staf mereka untuk mengambil cuti berbayar karena hampir tidak ada tamu yang datang.

Banyak penduduk dan wisatawan juga telah meninggalkan Dubai, dengan beberapa keluarga memutuskan untuk kembali ke negara asal mereka setelah serangan-serangan itu semakin intensif.

“Serangan-serangan itu sangat menakutkan. Meskipun saya sudah agak terbiasa, banyak orang lain—terutama keluarga—memutuskan untuk pergi untuk berjaga-jaga,” kata seorang penduduk lokal yang berkewarganegaraan Afghanistan-Jerman.

Situasi di kota tersebut telah berubah drastis, dengan jalanan yang biasanya macet kini tampak sepi. Banyak tempat usaha seperti restoran dan toko yang dulunya penuh pengunjung kini terpaksa tutup atau beroperasi dengan kapasitas yang sangat terbatas.

Dubai, yang tidak memiliki cadangan minyak besar dan sangat bergantung pada sektor ekspatriat, kini berada dalam ancaman serius.

Sejak konflik dimulai, jumlah ekspatriat yang tinggal di Dubai telah menurun drastis, mengingat ketegangan yang semakin meningkat dan serangan yang terus berlanjut.

Pihak berwenang bahkan meluncurkan kampanye untuk meredam ketakutan, dengan mengatakan bahwa “ledakan besar” yang terdengar di kota sebenarnya adalah “suara kita aman”, menandakan bahwa sistem pertahanan udara UEA sedang bekerja untuk mencegat serangan.

Namun, meskipun ada upaya pemerintah untuk menenangkan situasi, dampak dari serangan ini sudah sangat terasa, terutama pada ekonomi kota yang sangat bergantung pada ekspatriat dan pariwisata.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pekerja migran, yang sebagian besar bergantung pada pekerjaan di sektor pariwisata dan perhotelan, kini menghadapi masa depan yang tidak pasti, dengan banyak yang kehilangan pekerjaan atau tidak dapat bekerja sama sekali karena hotel-hotel dan restoran yang sepi pengunjung.