INBERITA.COM, Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada pada titik rawan setelah serangkaian serangan udara dan balasan militer dilaporkan terjadi dalam waktu berdekatan.
Situasi ini kembali menempatkan kawasan Teluk dalam sorotan dunia, terutama karena jalur energi global di Selat Hormuz ikut terdampak oleh eskalasi konflik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengonfirmasi bahwa operasi militer terbaru negaranya menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk lokasi penyimpanan rudal, gudang drone, serta stasiun radar pantai.
Dalam pernyataan yang dikutip dari sumber militer AS, serangan tersebut dilakukan sebagai bentuk respons atas insiden yang melibatkan kapal tanker di perairan internasional.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi itu sebagai bagian dari aksi balasan terhadap serangan drone yang sebelumnya dikaitkan dengan Iran.
Dalam laporan yang disampaikan kepada media, serangan udara tersebut melibatkan enam jet tempur F-35 dan F-16 yang diarahkan ke beberapa titik di sepanjang pesisir Iran.
Salah satu wilayah yang disebut menjadi target adalah area yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Selain itu, fasilitas di Pulau Qeshm juga dilaporkan menjadi sasaran karena diduga menjadi lokasi penyimpanan rudal dan drone serta sistem radar pantai.
Pihak Amerika Serikat menilai operasi ini sebagai langkah untuk merespons meningkatnya ancaman terhadap kapal-kapal komersial di kawasan tersebut.
Sebelumnya, kapal tanker berbendera Panama, Kiko, dilaporkan menjadi sasaran serangan drone saat melintas di dekat Selat Hormuz.
Kapal lain berbendera Singapura, Ever Lovely, juga disebut mengalami situasi serupa dalam periode yang berdekatan.
Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pelayaran energi global berada dalam risiko tinggi. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu titik paling vital di dunia karena menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Di tengah eskalasi tersebut, pernyataan keras juga muncul dari Gedung Putih. Donald Trump menyebut bahwa jika konflik terus berlanjut dan Amerika Serikat harus mengambil langkah militer penuh, maka konsekuensinya akan sangat besar bagi Iran.
Ia bahkan menggunakan istilah yang menggambarkan kemungkinan kehancuran total negara tersebut jika situasi tidak terkendali.
Sementara itu, Komando Pusat AS menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan merupakan bagian dari strategi respons cepat terhadap ancaman yang dinilai semakin meningkat di kawasan maritim strategis.
Namun di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Garda Revolusi Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menyasar wilayah Bahrain dan Kuwait. Aksi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada dua negara utama, melainkan mulai meluas ke kawasan sekitar Teluk.
Iran juga menyampaikan peringatan keras terkait jalannya proses diplomasi yang selama ini berlangsung.
Teheran menyebut bahwa mereka dapat menghentikan seluruh pembicaraan teknis dengan Amerika Serikat apabila tekanan militer terus berlanjut. Sikap ini berpotensi mengganggu upaya perundingan yang sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan positif.
Meski demikian, jadwal perundingan antara kedua negara pada 30 Juni 2026 masih tetap tercantum dalam agenda.
Pertemuan tersebut direncanakan membahas isu-isu penting seperti masa depan program nuklir Iran, mekanisme pencabutan sanksi ekonomi, pengaturan keamanan Selat Hormuz, hingga implementasi kesepakatan yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak.
Para pengamat menilai bahwa pertemuan tersebut akan menjadi titik krusial. Jika gagal mencapai kesepakatan, eskalasi militer dikhawatirkan akan kembali meningkat dan memperluas dampak konflik ke kawasan yang lebih luas, termasuk stabilitas energi global.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, ketegangan AS–Iran kembali menjadi salah satu isu geopolitik paling sensitif di dunia saat ini, terutama karena melibatkan kekuatan militer besar, jalur energi strategis, serta ancaman terbukanya kembali konflik berskala lebih luas.







