Angin Kencang Perparah Kebakaran Bromo hingga Mencapai 921 Hektar, Gubernur Jatim: Penanganan Dipercepat

Kebakaran bromo luas 921 hektareKebakaran bromo luas 921 hektare
Vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar menjadi korban kebakaran hutan di TNBTS yang menyebabkan kerugian ekologis dan ekonomi.

INBERITA.COM, Kebakaran melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak Senin (3/8/2026), menyisakan jejak kerusakan yang semakin meluas. Hingga Rabu (12/8/2026), lahan yang terbakar telah mencapai 921,42 hektare, dengan api masih aktif di beberapa wilayah.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan kebakaran telah menjalar hingga Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo. Ia memastikan penanganan terus dimaksimalkan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Saya telah berkoordinasi dengan BNPB untuk memaksimalkan penanganan hari ini,” kata Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Veteran Nasional 2026 di Pendopo Agung Kabupaten Malang. Ia berharap upaya tersebut dapat segera mengendalikan api.

Kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi petugas pemadam kebakaran. Angin kencang mempercepat penyebaran api, sementara itu juga menyulitkan operasi pemadaman. Khofifah menyebutkan dua heli BNPB dengan kapasitas 4.000 liter dan 1.000 liter telah dikerahkan.

Bantuan juga datang dari heli Abdulrachman Saleh, serta pemerintah provinsi yang menyewa heli dari Jawa Tengah.

“Harapan kami, pemadaman bisa segera dikendalikan agar heli-heli ini dapat digunakan untuk wilayah lain,” ujarnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, melaporkan total lahan yang terbakar mencapai 921,42 hektare. Angka ini terus bertambah seiring dengan perkembangan kebakaran.

Vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar. Data tersebut diperoleh berdasarkan laporan terakhir pada Selasa malam (11/8/2026). Luas kebakaran diprakirakan akan terus bertambah.

Upaya pemadaman dilakukan melalui operasi udara dan darat. Operasi udara melibatkan water bombing menggunakan heli, dengan total air yang digunakan mencapai 205.800 liter hingga hari ini.

Sementara itu, operasi darat meliputi pembuatan sekat bakar dan pembasahan sisa bara api. Mobil tangki dari TNBTS, BPD Provinsi Jawa Timur, dan BPBD Kabupaten Malang digunakan dalam upaya ini.

Sadono menjelaskan bahwa bara api masih terpantau di wilayah Probolinggo dan Penanjakan Pasuruan. Ia menambahkan, area di Kabupaten Malang sudah tidak ditemukan bara api.

Akibat kebakaran yang meluas, Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses masuk kawasan wisata. Penutupan diberlakukan sejak Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan.

Titik api awal kebakaran berasal dari Blok Bantengan. Api dengan cepat membakar vegetasi yang ada, menyebabkan kerusakan yang signifikan. Kondisi ini menimbulkan kerugian ekologis dan ekonomi yang tidak sedikit.

Penutupan akses wisata berdampak pada sektor pariwisata lokal. Banyak wisatawan yang membatalkan kunjungan mereka akibat kebakaran. Hal ini tentunya merugikan masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

Pemerintah daerah dan BNPB terus berupaya untuk mengatasi dampak kebakaran. Koordinasi antarlembaga menjadi kunci dalam penanganan darurat ini. Setiap pihak diharapkan dapat bekerja sama secara maksimal.

Kebakaran hutan dan lahan di TNBTS bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi. Pada tahun-tahun sebelumnya, kawasan ini juga pernah mengalami kebakaran serupa. Namun, luasan kebakaran kali ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar.

Faktor cuaca ekstrem dan aktivitas manusia diduga menjadi penyebab utama kebakaran. Angin kencang dan suhu tinggi mempercepat penyebaran api. Sementara itu, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan juga berpotensi memicu kebakaran.

Pemerintah provinsi dan BNPB terus melakukan evaluasi terhadap penanganan kebakaran. Mereka berupaya untuk mencegah terjadinya kebakaran serupa di masa mendatang. Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi menjadi fokus utama.

Masyarakat diharapkan untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan menjadi kunci dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Kebakaran di TNBTS ini juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Vegetasi yang terbakar akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Kerusakan ekosistem ini berdampak pada keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Pemerintah daerah dan BNPB berkomitmen untuk segera memulihkan kawasan yang terdampak. Upaya rehabilitasi dan reboisasi akan dilakukan secepatnya. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam upaya pemulihan ini.