INBERITA.COM, Geliat ekonomi Desa Karangasem, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, kembali menunjukkan perkembangan positif. Inovasi terbaru datang dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sekar Mandiri yang tahun ini mulai membangun unit usaha peternakan ayam petelur dengan konsep yang tak biasa—yakni berdiri langsung di atas Embung Gunung Pegat.
Langkah unik ini tidak hanya memanfaatkan ruang embung secara efektif, tetapi juga menawarkan model peternakan terintegrasi yang dinilai mampu meningkatkan pendapatan desa sekaligus memperkuat ekosistem perikanan di area setempat.
BUMDes Sekar Mandiri dikenal sebagai motor penggerak ekonomi di Desa Karangasem. Berbagai program pemberdayaan sebelumnya telah memberikan dampak nyata bagi warga, namun proyek peternakan ayam petelur di Embung Gunung Pegat disebut sebagai salah satu gagasan paling progresif.
Dengan memanfaatkan embung sebagai lokasi kandang, BUMDes menghadirkan konsep usaha yang berbeda dari pola peternakan konvensional, sekaligus menjawab kebutuhan akan sumber pemasukan berkelanjutan.
Kepala Desa Karangasem, Bambang Minarno, menjelaskan bahwa progres pembangunan kandang ayam petelur telah mencapai 80 persen.
Menurutnya, kandang dengan ukuran 7 x 21 meter itu dibuat secara khusus agar dapat berdiri stabil di atas embung.
Konstruksi kandang dirancang tidak hanya aman untuk hewan ternak, tetapi juga tidak mengganggu ekosistem air maupun aktivitas warga yang selama ini memanfaatkan embung sebagai lokasi pemancingan dan tempat rekreasi.
“Embung Gunung Pegat luasnya sekitar 1 hektare. Selama ini dimanfaatkan untuk pemancingan warga. Juga menjadi ruang rekreasi murah meriah bagi warga,” kata Bambang, kemarin (14/11).
Selain fokus pada produksi telur, peternakan ini juga mengusung konsep integrasi antara ayam dan budidaya ikan. Kotoran ayam yang jatuh langsung ke embung akan dimanfaatkan sebagai pakan ikan alami.
Di bawah kandang, BUMDes telah menyiapkan keramba untuk menampung ikan-ikan yang nantinya mendapat suplai nutrisi dari limbah organik tersebut.
Menurut Bambang, konsep ini telah melalui kajian dan pertimbangan matang agar tidak menimbulkan masalah lingkungan.
“Kami mempertimbangkan banyak hal, bukan asal-asalan. Dengan desain yang baik, sirkulasi tetap aman dan tidak mengganggu kualitas air. Justru ikan akan mendapat nutrisi tambahan dari kotoran ayam,” jelas Bambang.
Model peternakan terintegrasi seperti ini memang jarang ditemukan di wilayah Sukoharjo. Bagi BUMDes Sekar Mandiri, langkah tersebut diharapkan menjadi pembeda sekaligus daya tarik baru dalam upaya meningkatkan pendapatan desa.
Tidak hanya dari penjualan telur, tetapi juga dari pengembangan budidaya ikan yang akan disokong oleh sistem kandang di atas air.
Pembangunan peternakan ayam petelur ini disebut menelan anggaran mencapai Rp160 juta yang bersumber dari dana desa.
Mekanismenya berupa penyertaan modal kepada BUMDes Sekar Mandiri untuk mengelola unit usaha tersebut secara profesional.
Dengan modal awal tersebut, BUMDes ditargetkan mampu menjalankan operasional peternakan mulai dari pembelian ayam, pembuatan kandang, hingga pemasaran produk.
Bambang menyebut perhitungan ekonomi unit usaha ini sudah disiapkan secara komprehensif. Berdasarkan kajian BUMDes bersama pemerintah desa, modal awal atau break even point (BEP) diperkirakan akan tercapai dalam waktu dua tahun.
Klaim tersebut didasarkan pada hitungan produksi telur per hari, kebutuhan pakan, biaya operasional, serta proyeksi harga jual telur di pasaran.
Di awal operasional, kandang akan diisi dengan 600 ekor ayam petelur. Jumlah ini dinilai ideal untuk tahap awal sekaligus memberikan ruang bagi BUMDes untuk melakukan evaluasi terhadap kapasitas kandang dan efektivitas sistem integrasi dengan perikanan.
Soal pemasaran, BUMDes berencana menjual hasil telur ke pedagang lokal, pasar tradisional, dan warga sekitar dengan harga kompetitif agar penjualan bisa terserap lebih cepat.
“Hitungannya sudah kami buat. Investasi ini untuk jangka panjang. Dengan kapasitas 600 ekor ayam, insya Allah bisa menopang pendapatan desa. Kalau berjalan baik, dua tahun sudah BEP,” beber Bambang.
Meski begitu, proyek ambisius ini bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kelangkaan pullet atau ayam dara siap bertelur di pasaran.
Kondisi tersebut membuat harga pullet naik cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini memaksa BUMDes untuk sedikit menunda pengisian kandang sambil memastikan bahwa seluruh sarana pendukung benar-benar siap digunakan.
“Untuk sementara, BUMDes harus menunggu ketersediaan pullet,” ujar Bambang, sembari memastikan seluruh proses berjalan sesuai jadwal dan standar.
Di tengah dinamika pembangunan desa, inovasi peternakan ayam di atas embung ini menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas lokal mampu menghadirkan solusi ekonomi yang efisien, ramah lingkungan, dan berpotensi memberikan manfaat jangka panjang.
Jika proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin Embung Gunung Pegat akan menjadi ikon baru Desa Karangasem—bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga pusat ekonomi desa berbasis sumber daya lokal. (mms)







