INBERITA.COM, Sebuah kecelakaan tragis terjadi di perlintasan kereta api Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, pada Selasa (4/11) sekitar pukul 10.45 WIB.
Sebuah mobil dan dua sepeda motor tertabrak Kereta Api (KA) 161 Bangunkarta rute Jombang–Pasar Senen, yang tengah melaju dari arah timur menuju Jakarta.
Suasana di sekitar lokasi mendadak mencekam. Warga setempat mendengar suara benturan keras diikuti teriakan panik dari para saksi yang berada di sekitar jalur rel. Dalam hitungan detik, kecelakaan maut itu merenggut nyawa tiga orang di tempat kejadian.
Zidan, seorang pemuda berusia 20 tahun yang bekerja di toko tak jauh dari lokasi, menjadi salah satu saksi mata.
Sekitar dua menit sebelum tabrakan, ia mendengar suara klakson panjang kereta dari kejauhan, seperti tanda bahaya yang berusaha memperingatkan pengguna jalan agar menjauh dari rel.
Namun, yang membuat Zidan terkejut adalah suara palang perlintasan yang baru berbunyi setelah klakson kereta terdengar.
“Begitu dengar suara klakson panjang, baru beberapa detik kemudian palang perlintasan bunyi. Saya langsung keluar toko, dan ternyata sudah terjadi kecelakaan,” ujarnya dengan nada masih terguncang.
Di depan matanya, sebuah mobil dan dua motor tergeletak rusak parah di sisi rel. Asap tipis mengepul dari mesin kendaraan yang remuk, sementara warga berusaha menolong korban yang terkapar.
Menurut penuturan Zidan, mobil dan sepeda motor Honda Scoopy datang dari arah utara, sementara sepeda motor Honda Vario melaju dari arah selatan. Ketiganya hendak melintas saat kereta datang dari arah timur.
Diduga, sebuah truk yang lebih dulu melintas membuat palang perlintasan terlambat turun, sehingga kendaraan di belakangnya tak sempat menghindar.
“Benturannya keras sekali, sampai terasa ke toko,” kata Zidan.
Ia menambahkan, mobil yang tertabrak membawa tiga penumpang: dua orang dewasa dan seorang anak kecil. Dua pengendara sepeda motor juga menjadi korban dalam insiden ini.
Warga sekitar langsung berhamburan ke lokasi untuk menolong. Beberapa berusaha membuka pintu mobil yang ringsek, sementara lainnya membantu mengevakuasi pengendara motor. Tim medis dan petugas kepolisian tiba tidak lama setelah kejadian.
“Tiga orang dinyatakan meninggal dunia akibat insiden tersebut, seluruhnya adalah pengendara sepeda motor,” ujar salah satu warga yang ikut membantu evakuasi.
Seluruh korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, sementara penumpang mobil yang mengalami luka berat kini masih dalam penanganan medis intensif.
Polisi segera memasang garis pembatas di sekitar area kejadian. Mobil korban ditutup dengan terpal biru, sementara bangkai dua sepeda motor diletakkan di sisi rel.
Jalur perlintasan JPL 320 Prambanan kini dijaga ketat untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta juga angkat bicara mengenai insiden ini.
Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menyampaikan bahwa penyebab pasti masih dalam pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut.
“KAI Daop 6 Yogyakarta memohon maaf dan berbelasungkawa atas kejadian ini. Kami sangat menyayangkan dan akan mendampingi serta mendukung setiap proses yang dibutuhkan,” kata Feni dalam keterangan resminya.
Ia menegaskan, fokus utama KAI saat ini adalah penanganan korban dan pendampingan terhadap keluarga yang terdampak. Feni juga memastikan seluruh awak dan penumpang KA 161 Bangunkarta dalam kondisi selamat dan aman.
“KA 161 Bangunkarta dapat melanjutkan perjalanan kembali menuju Jakarta setelah kondisi dinyatakan aman,” tambahnya.
Pihak KAI juga menyerukan imbauan agar masyarakat lebih berhati-hati saat melintasi perlintasan sebidang, terutama yang belum dilengkapi sistem otomatis penuh.
“KAI Daop 6 Yogyakarta sangat menyayangkan kejadian ini dan diharapkan tidak terjadi di kemudian hari. Kami akan mendampingi dan mendukung seluruh proses yang dibutuhkan. Masyarakat juga kami imbau untuk senantiasa berhati-hati dan waspada serta mematuhi rambu-rambu yang berlaku,” ujar Feni menegaskan.
Kecelakaan maut di perlintasan Prambanan Klaten ini menambah panjang daftar insiden di jalur rel yang melibatkan kendaraan pribadi.
Dalam beberapa tahun terakhir, perlintasan tanpa penjagaan penuh masih menjadi titik rawan di sejumlah daerah di Indonesia.
Faktor keterlambatan palang pintu, kurangnya kewaspadaan pengendara, dan kepadatan lalu lintas sering kali menjadi kombinasi penyebab utama.
Kasus kali ini, bila benar disebabkan palang perlintasan yang terlambat turun karena truk yang lebih dulu melintas, menjadi peringatan keras bagi operator perlintasan dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem keamanan di titik-titik rawan.
Sementara itu, warga sekitar perlintasan Prambanan berharap kejadian serupa tidak terulang. Mereka meminta agar sistem peringatan dini di lokasi tersebut diperbaiki dan penjagaan diperketat, terutama di jam-jam sibuk ketika banyak kendaraan melintas. (xpr)