INBERITA.COM, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah bersama pemangku kebijakan terkait untuk segera mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang pada perdagangan terbaru telah menyentuh level Rp17.503 per dolar AS.
Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius mengingat tekanan terhadap mata uang domestik berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Puan usai memimpin rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak boleh dibiarkan berlarut dan harus direspons dengan langkah antisipatif yang terukur, termasuk memperhitungkan proyeksi jangka menengah hingga tahun 2027.
Menurut Puan, pemerintah perlu mencermati dinamika ekonomi global yang saat ini turut memberikan tekanan terhadap banyak negara, termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter seperti Bank Indonesia menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk,” kata Puan seusai rapat paripurna di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung agenda pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) yang akan menjadi dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2027.
Menurutnya, pembahasan tersebut harus memasukkan faktor risiko global, termasuk volatilitas nilai tukar rupiah, agar kebijakan fiskal ke depan lebih adaptif terhadap tekanan eksternal.
“Itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang,” kata dia.
Puan menekankan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global yang dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik dan ekonomi internasional.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan otoritas terkait dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Selasa siang pukul 11.47 WIB tercatat melemah sebesar 89 poin atau 0,51 persen menjadi Rp17.503 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini memperlihatkan meningkatnya volatilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian global.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah salah satunya dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz.
Ia menilai situasi tersebut masih menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan pasar global, termasuk nilai tukar mata uang negara berkembang.
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” katanya dalam rekaman suara di Jakarta, Selasa.
Ketegangan di kawasan strategis tersebut memang kerap menjadi sentimen negatif bagi pasar global karena berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia. Hal ini pada akhirnya turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Dengan kondisi tersebut, penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi dinamika global yang masih penuh ketidakpastian dan berpotensi terus mempengaruhi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS.







