Presiden Iran Bantah Isu Mundur di Tengah Konflik dengan AS, Tegaskan Tetap Memimpin

Presiden iran masoud pezeshkian bantah mundurPresiden iran masoud pezeshkian bantah mundur
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak akan mengundurkan diri meski isu politik terus berkembang.

INBERITA.COM, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah keras kabar yang menyebut dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya di tengah situasi politik dan keamanan yang masih dibayangi ketegangan dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan tetap memimpin pemerintahan dan menyebut isu tersebut tidak berdasar.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Selasa.

Penegasan tersebut muncul setelah media oposisi Iran melaporkan bahwa dirinya beberapa kali mengajukan permohonan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

“Jika saya akan mundur, saya pasti akan umumkan secara terbuka. Saya tak akan mengundurkan diri dan saya akan melanjutkan perjuangan,” kata Pezeshkian.

Selain membantah isu pengunduran diri, Pezeshkian juga menepis spekulasi mengenai adanya keretakan hubungan dengan Khamenei maupun jajaran militer Iran.

Menurutnya, pemerintahan dan angkatan bersenjata tetap berada dalam satu garis kebijakan dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi negara.

“Semuanya tahu jika ada perselisihan, angkatan bersenjata pasti akan berada di sisi Khamenei,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah Iran ingin menunjukkan stabilitas politik di tengah tekanan eksternal.

Di saat hubungan dengan Amerika Serikat masih diwarnai ketidakpastian, isu mengenai konflik internal dinilai berpotensi memengaruhi persepsi publik maupun posisi diplomatik Teheran di tingkat internasional.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan militer ke wilayah Iran pada Februari lalu.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Konflik sempat mereda ketika kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April. Upaya tersebut kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum perdamaian pada Juni melalui mediasi Pakistan, yang diharapkan menjadi dasar penghentian konflik bersenjata sekaligus membuka jalan bagi penyelesaian diplomatik.

Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Bulan lalu, Iran dan Amerika Serikat kembali terlibat aksi saling serang yang berlangsung hampir dua pekan.

Situasi itu kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan mempersempit ruang dialog yang sebelumnya sempat dibangun.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menghentikan serangan udara secara mendadak ketika muncul laporan mengenai kemungkinan dibukanya kembali jalur perundingan untuk mencari penyelesaian konflik.

Meski demikian, belum ada kepastian mengenai kelanjutan proses diplomasi kedua negara. Pernyataan terbaru Pezeshkian menunjukkan bahwa pemerintah Iran berupaya menjaga soliditas internal sembari menghadapi tekanan dari luar negeri.

Bagi Teheran, stabilitas kepemimpinan menjadi faktor penting untuk mempertahankan posisi politik dan keamanan di tengah dinamika kawasan yang masih sangat fluktuatif.