INBERITA.COM, Isu mengenai keabsahan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mencuat di tengah polemik serupa yang lebih dulu menimpa ayahnya.
Di tengah derasnya spekulasi dan tudingan, muncul pembelaan tegas dari seorang alumni kampus yang sama dengan Gibran, yang merasa tersinggung dengan keraguan publik terhadap kredibilitas institusi pendidikannya.
Adalah Dian Hunafa, seorang beauty content creator yang dikenal luas di TikTok melalui akun @fearlessbarb. Dalam video lamanya yang kembali viral, Dian secara terbuka menyatakan bahwa tudingan soal ijazah palsu milik Gibran sangat tidak berdasar.
Sebagai sesama lulusan Management Development Institute of Singapore (MDIS), Dian merasa tersentuh secara pribadi dengan isu tersebut.
“Kami memegang ijazah dari kampus luar negeri. Karena memang MDIS punya kerja sama sama beberapa kampus di Inggris,” ujar Dian, dikutip Sabtu (20/9/2025).
Ia menyatakan kekecewaannya karena tuduhan terhadap Gibran secara tidak langsung menyeret nama baik para alumni lainnya, termasuk dirinya.
“Nah, aku sakit hati juga dong. Dibilang ijazah dia palsu, sedangkan aku juga punya ijazah yang sama gitu,” lanjutnya.
Dian kemudian menjelaskan sistem pendidikan yang berlaku di MDIS. Ia menegaskan bahwa MDIS adalah institusi pendidikan tinggi di Singapura yang memiliki kerja sama dengan berbagai universitas ternama di Inggris.
Salah satunya adalah University of Bradford, universitas yang tercatat mengeluarkan ijazah Gibran.
Karena itu, jika seseorang menempuh pendidikan di Singapura namun menerima ijazah dari universitas Inggris, hal tersebut merupakan konsekuensi dari kemitraan akademik antara MDIS dan universitas tersebut.
Namun, alih-alih meredam keraguan publik, video Dian justru memantik gelombang pertanyaan baru dari sejumlah warganet.
Beberapa mempertanyakan gelar pendidikan Gibran, yang disebut bergelar Bachelor of Science (BSc) meskipun jurusannya adalah marketing.
Menanggapi hal tersebut, Dian kembali mengunggah video penjelasan berdurasi lebih dari sembilan menit pada 17 September lalu, yang memberikan rincian perbedaan gelar berdasarkan pendekatan kurikulum yang ditempuh.
“Jadi, marketing itu terbagi jadi dua. Marketing yang lebih ke strategi, lebih ke komunikasi, itu dia gelarnya BA, Bachelor of Arts,” jelas Dian.
“Tapi marketing yang lebih ke ekonomi, statistik, atau ilmu-ilmu pastinya, itu lebih ke Bachelor of Science,” tambahnya, memberikan konteks atas gelar yang diperoleh Gibran.
Ia juga menyayangkan publik yang tidak melakukan verifikasi langsung ke situs resmi kampus terkait. Menurutnya, informasi seperti itu sangat mudah ditemukan secara terbuka.
Selain itu, Dian menekankan ketatnya regulasi sistem pendidikan di Singapura, yang membuat dugaan penerbitan ijazah palsu menjadi sangat tidak masuk akal.
“Bayangin aja, absen aja dijaga ketat, apalagi soal ijazah. Jadi, mustahil ada ruang buat terbitin ijazah palsu di Singapore,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dian juga membandingkan sistem pendidikan di Singapura dengan Indonesia, untuk memberikan gambaran lebih utuh. Ia menyebutkan bahwa di Singapura terdapat jalur pendidikan yang sangat terstruktur sejak pendidikan dasar.
“Di Singapura agak beda nih, ada namanya Primary School enam tahun. Kemudian abis primary school ada tes yang namanya PSLE test,” terangnya.
Tes tersebut menentukan apakah siswa bisa masuk ke secondary school jalur express atau jalur reguler.
Jalur express ditempuh selama empat tahun, sedangkan jalur reguler memakan waktu lima tahun.
Setelah itu, siswa akan mengikuti tes lanjutan yang menentukan apakah mereka akan masuk ke junior college selama dua tahun atau melanjutkan ke politeknik selama tiga tahun.
“Yang express itu empat tahun, dari situ aja udah beda yah. Yang biasa 4+1 tahun. Jadi jalur yang biasa pun sudah beda, bukan enam tahun,” lanjut Dian.
Jika seorang siswa melanjutkan ke junior college, maka jalur untuk masuk ke universitas negeri akan lebih terbuka. Sebaliknya, mereka yang menempuh pendidikan di politeknik lebih berpeluang melanjutkan ke universitas swasta.
“Politeknik itu setingkat diploma yah, bisanya masuknya itu ke university private. Kampus swasta,” pungkas Dian.
Dengan penjelasan tersebut, Dian berharap publik dapat memahami struktur pendidikan yang dijalani Gibran secara lebih obyektif.
Ia menekankan bahwa isu ijazah palsu bukan hanya merugikan Gibran sebagai tokoh publik, tetapi juga mencederai para alumni lain yang menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh di institusi yang sama.
Di tengah gempuran opini publik yang cenderung menghakimi tanpa data, suara pembelaan seperti ini menjadi penting untuk menghadirkan perspektif yang berimbang. (xpr)







