Penggalian Gunung Padang Diperdalam, Misteri Peradaban Kuno Kian Terbuka

INBERITA.COM, Babak baru penelitian Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur kembali dimulai pada 2026.

Tim Penelitian dan Pemugaran memastikan kegiatan kajian ilmiah sekaligus pemugaran fisik akan dilanjutkan secara intensif sepanjang tahun, dengan fokus utama mengungkap lapisan budaya purba yang diduga telah berusia ribuan tahun sebelum Masehi.

Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk memperdalam pemahaman mengenai sejarah peradaban awal di Nusantara, sekaligus menjawab berbagai misteri yang selama ini menyelimuti Gunung Padang sebagai salah satu situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.

Ketua Tim Penelitian dan Pemugaran, Ali Akbar, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi lintas instansi guna mematangkan rencana penelitian lanjutan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan tahun ini akan jauh lebih komprehensif dibandingkan dengan tahap-tahap sebelumnya.

“Tahun ini kami merencanakan penggalian lebih dalam, hingga lebih dari 20 meter. Sebelumnya penggalian baru mencapai kedalaman 4–5 meter karena keterbatasan waktu. Langkah ini dilakukan untuk menelusuri kemungkinan adanya struktur dan lapisan budaya yang jauh lebih tua,” ujarnya.

Rencana penggalian hingga kedalaman lebih dari 20 meter menjadi sorotan utama dalam tahap penelitian terbaru ini.

Kedalaman tersebut diyakini berpotensi mengungkap struktur tersembunyi serta lapisan budaya yang belum pernah tersentuh sebelumnya.

Jika terealisasi, penelitian ini berpeluang membuka perspektif baru terkait usia dan fungsi sebenarnya dari situs Gunung Padang.

Selain penelitian bawah permukaan, kegiatan pemugaran fisik juga menjadi bagian penting dalam program 2026.

Setelah sebelumnya berhasil menyelesaikan pemugaran pada teras kelima yang diperkirakan berasal dari sekitar 500 tahun sebelum Masehi, kini tim akan melanjutkan pekerjaan ke teras keempat.

Area ini berada tepat di sisi teras lima dan menjadi tahap berikutnya dalam proses restorasi bertahap yang dirancang berkelanjutan.

Pemugaran dilakukan tidak hanya untuk menjaga keutuhan struktur situs, tetapi juga untuk memastikan keamanan serta keberlanjutan fungsi Gunung Padang sebagai kawasan cagar budaya dan destinasi wisata sejarah.

Setelah teras keempat, pemugaran direncanakan berlanjut ke teras-teras berikutnya secara sistematis.

Kegiatan penelitian dan pemugaran dijadwalkan berlangsung mulai Maret hingga Desember 2026.

Dalam pelaksanaannya, sekitar 100 ahli dari berbagai disiplin ilmu akan dilibatkan. Mereka terdiri dari arkeolog, geolog, hingga peneliti multidisiplin lainnya yang memiliki kompetensi dalam mengkaji situs purba.

Tidak hanya itu, tim juga akan menggandeng peneliti dari sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset guna memperkuat pendekatan ilmiah yang digunakan.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan temuan yang lebih akurat dan komprehensif.

Menariknya, keterlibatan masyarakat setempat tetap menjadi bagian dari pendekatan penelitian.

Partisipasi warga dinilai penting, baik sebagai bentuk pemberdayaan maupun untuk menjaga keterikatan sosial antara situs dan lingkungan sekitarnya.

Selama tahap awal kegiatan, kawasan situs Gunung Padang masih akan dibuka secara terbatas bagi wisatawan.

Kebijakan ini dilakukan agar aktivitas penelitian tetap berjalan tanpa gangguan, sekaligus memberi kesempatan kepada publik untuk tetap mengakses situs tersebut dalam batas tertentu.

Namun, seiring memasuki fase penelitian intensif, akses wisatawan kemungkinan akan diperketat hingga akhir tahun.

Hal ini dilakukan demi menjaga kelancaran proses penelitian serta menghindari risiko kerusakan pada area yang sedang dikaji.

Tim peneliti berharap, rangkaian kegiatan sepanjang 2026 ini mampu menghasilkan temuan-temuan signifikan yang dapat memperkaya khazanah sejarah Indonesia.

Lebih dari itu, penelitian ini juga diharapkan dapat mempertegas posisi Gunung Padang sebagai salah satu situs penting dalam peta peradaban dunia.