INBERITA.COM, Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan sejumlah inovasi teknologi untuk mempercepat penyediaan konektivitas internet yang lebih murah dan terjangkau, khususnya untuk daerah-daerah dengan akses terbatas.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil sebagai respons terhadap instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mencari alternatif konektivitas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi satelit Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink.
“Presiden Prabowo menekankan bahwa kita akan mencari cara untuk menyediakan konektivitas yang lebih murah daripada Low Earth Orbit seperti Starlink,” kata Meutya Hafid dalam sebuah acara temu media di Jakarta Selatan, Rabu (22/10/2025).
Low Earth Orbit (LEO) merupakan jenis orbit satelit yang berada pada ketinggian antara 160 hingga 2.000 kilometer di atas permukaan Bumi.
Satelit yang berada di orbit ini memiliki kecepatan tinggi, dengan waktu orbit sekitar 90 menit untuk satu kali mengelilingi Bumi.
Keunggulan utama satelit LEO adalah kedekatannya dengan permukaan Bumi, yang membuatnya ideal untuk aplikasi seperti penginderaan jauh, pemantauan cuaca, serta komunikasi.
Satelit ini juga digunakan sebagai lokasi stasiun luar angkasa seperti International Space Station (ISS).
Fixed Wireless Access, Solusi Konektivitas Murah
Meutya Hafid juga mengungkapkan bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) baru saja menyelesaikan pengembangan teknologi Fixed Wireless Access (FWA).
Teknologi ini menawarkan solusi untuk meningkatkan konektivitas internet dengan biaya yang lebih terjangkau, sekaligus memperluas jangkauan layanan hingga ke wilayah permukiman.
FWA memungkinkan akses internet berkecepatan tinggi melalui sinyal radio, tanpa memerlukan kabel fisik, sehingga memberikan alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi lainnya.
“Di antaranya, kemarin kami baru menyelesaikan salah satu terobosan teknologi Fixed Wireless Access yang memungkinkan koneksi internet lebih murah dan bisa menjangkau hingga ke perumahan,” ujar Meutya Hafid.
FWA sangat cocok digunakan di daerah perkotaan, namun juga menjadi pilihan ideal untuk menghubungkan wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan kabel konvensional.
Dengan menggunakan FWA, konsumen bisa menikmati akses internet berkecepatan tinggi meski berada di lokasi yang selama ini kurang terlayani.
Pemanfaatan Teknologi Non-Terrestrial Network untuk Pemerataan Konektivitas
Selain FWA, Komdigi juga tengah mengkaji pemanfaatan teknologi Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D) dan Air-to-Ground (A2G) sebagai solusi untuk pemerataan konektivitas digital di seluruh Indonesia.
Kedua teknologi ini memungkinkan perangkat seperti ponsel dan laptop terhubung langsung ke satelit tanpa melalui menara pemancar atau Base Transceiver Station (BTS).
Teknologi NTN-D2D ini sangat menarik karena memungkinkan perangkat langsung terhubung ke satelit, seperti layanan yang ditawarkan oleh Starlink melalui fitur Direct to Cell.
Dalam tahapan peluncurannya, Starlink berencana menghadirkan fitur pengiriman SMS pada 2024, panggilan suara dan internet pada 2025, dan terhubung dengan Internet of Things (IoT) pada 2026.
Sementara itu, teknologi A2G memungkinkan komunikasi langsung antara pesawat dengan jaringan darat.
Kedua teknologi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan konektivitas digital ke wilayah perbatasan, laut, dan jalur udara yang selama ini sulit dijangkau oleh teknologi konvensional.
Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah membuka konsultasi publik untuk menghimpun pandangan dari para pemangku kepentingan mengenai potensi pemanfaatan kedua teknologi ini.
Para operator telekomunikasi, penyedia layanan satelit, industri penerbangan, produsen perangkat, akademisi, hingga masyarakat umum dapat memberikan masukan terkait peluang teknis, kebutuhan spektrum frekuensi, model bisnis, dan kebijakan yang mendukung.
“Proses konsultasi publik ini bertujuan untuk memperkuat pemerataan konektivitas digital di seluruh tanah air, menjaga ketahanan komunikasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional,” jelas Meutya Hafid.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital 2025–2029, yang sejalan dengan sasaran dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Teknologi untuk Pendidikan Digital di Daerah Terpencil
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menekankan pentingnya teknologi konektivitas berbiaya rendah untuk mendukung pemerataan pendidikan digital, khususnya di daerah-daerah dengan keterbatasan akses internet.
Dalam pidatonya pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025), Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan teknologi yang dapat menghubungkan sekolah-sekolah di wilayah terpencil agar tetap terakses dengan sistem pembelajaran digital.
Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah juga telah mempersiapkan perangkat pembelajaran interaktif, yaitu “interactive flat panel” berukuran 75 inci, yang akan dibagikan ke lebih dari 50.000 sekolah di Indonesia.
Program ini diharapkan dapat memperkuat digitalisasi pendidikan di seluruh tanah air, termasuk di daerah-daerah terluar yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap guru dan sarana belajar.
“Untuk tahun ini, kami akan memberi satu unit interactive flat panel di tiap sekolah SD, SMP, dan SMA. Program ini sudah berjalan dan hampir 50.000 sekolah telah menerima perangkat tersebut,” ujar Presiden Prabowo.
Dengan adanya langkah-langkah ini, diharapkan pemerataan akses pendidikan dan teknologi dapat lebih cepat terwujud, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Penyediaan konektivitas murah dan teknologi canggih menjadi kunci untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat mengakses pendidikan yang berkualitas di era digital. (xpr)