PBNU Buka 41 SPPG MBG di Lombok, Targetkan 1000 Titik di Seluruh Indonesia

Ketum PBNU saat launching SPPG di LombokKetum PBNU saat launching SPPG di Lombok
Gus Yahya Resmikan Satuan Pelayanan Program Gizi NU di Lombok, Targetkan Kemandirian Ekonomi Pesantren

INBERITA.COM, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan 41 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) NU yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Program ini dihadirkan untuk mengatasi masalah gizi yang masih menjadi persoalan di banyak pesantren di Indonesia, termasuk di kalangan santri.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dalam sambutannya menjelaskan bahwa masalah gizi di pesantren masih cukup memprihatinkan.

“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia karena gizi yang tidak seimbang,” ujar Gus Yahya, sapaan akrabnya.

Pendirian SPPG NU di Lombok ini merupakan bagian dari upaya besar PBNU untuk meningkatkan kualitas kesehatan santri melalui penyediaan makanan bergizi.

Sebelumnya, PBNU telah melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada awal Februari 2026. Program ini bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi para santri di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia.

Setelah sukses membuka SPPG di Cirebon, Jember, dan Batang, PBNU kini menargetkan pembangunan 1000 titik SPPG di seluruh Indonesia dalam waktu dekat.

“Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” tegas Gus Yahya, menambahkan bahwa keberadaan SPPG di pesantren diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan para santri.

Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, yang memberikan perhatian khusus pada dampak ekonomi mikro yang tercipta dari adanya dapur-dapur SPPG di pesantren.

Gubernur NTB menyebutkan bahwa penyerapan bahan pangan dari petani, peternak, dan UMKM lokal oleh pesantren dapat memberikan jaminan pasar yang stabil.

“Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini merambah ke kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika ini terjadi, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif,” kata Gubernur Iqbal dengan penuh optimisme.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, Ketua Tanfidziyah PWNU NTB sekaligus tuan rumah acara, juga memberikan sambutannya.

Beliau menekankan bahwa kehadiran program SPPG di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel ini merupakan kelanjutan dari perjuangan marwah Datuk Bengkel, Rais Syuriah pertama PWNU NTB, dalam mendukung kemajuan pendidikan dan kesejahteraan di kalangan santri.

Keberadaan SPPG NU di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel diharapkan dapat menjadi model bagi pesantren-pesantren lain dalam mengelola kebutuhan gizi santri secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Dengan adanya program ini, PBNU berharap dapat menciptakan generasi santri yang lebih sehat, terampil, dan siap bersaing dalam menghadapi tantangan global.

Selain itu, dengan fokus pada pengembangan ekonomi lokal, PBNU juga berharap dapat membantu mengangkat ekonomi masyarakat sekitar pesantren, terutama para petani dan pelaku UMKM yang menjadi pemasok bahan pangan untuk program SPPG ini.

Melalui peluncuran SPPG NU di Lombok, PBNU memperlihatkan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas hidup umat Islam di Indonesia, khususnya di kalangan pesantren.

Program ini bukan hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi umat yang diharapkan dapat berjalan beriringan, menciptakan keberlanjutan dan kemandirian di tingkat lokal.