Noe Letto Resmi Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional, Siap Berikan Perspektif Segar untuk Kebijakan Pertahanan Negara

Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan NasionalNoe Letto Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional
Anak Cak Nun, Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional

INBERITA.COM, Langkah mengejutkan datang dari mantan vokalis band Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih dikenal dengan nama Noe Letto.

Setelah sukses di dunia musik, kini Noe mengukir babak baru dalam kariernya dengan menjabat sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).

Pelantikan Noe ini berlangsung pada Kamis (15/1/2026), yang membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah seorang musisi dapat berkontribusi dalam dunia yang sangat berbeda seperti pertahanan negara?

DPN adalah lembaga non-struktural yang bertugas memberi pertimbangan dan merumuskan kebijakan strategis dalam hal pertahanan negara.

Lembaga ini, yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, memiliki peran krusial dalam menyusun kebijakan pertahanan yang terintegrasi.

Beberapa tugas utama DPN antara lain adalah penyusunan kebijakan pertahanan, pengerahan komponen pertahanan, penilaian risiko kebijakan, serta pengelolaan alutsista.

DPN juga berfungsi sebagai wadah koordinasi lintas kementerian/lembaga, serta sebagai ruang dialog publik dan sarana literasi kebijakan pertahanan.

Tugas yang diemban tidaklah ringan, namun Noe Letto kini dipercaya untuk menjadi bagian dari tim yang berperan besar dalam menjaga kedaulatan negara.

Pada momen pelantikan yang berlangsung di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta, Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Harian DPN, Sjafrie Sjamsoeddin, melantik 12 tenaga ahli yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.

Noe Letto dilantik sebagai Tenaga Ahli Muda dan akan mengisi posisi strategis di bidang geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi.

“Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda,” ujar Karo Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Jumat (16/1/2026).

Selain Noe, turut dilantik nama-nama penting seperti Jupriyanto dan Frank Alexander Hutapea, putra dari pengacara Hotman Paris, yang juga diangkat sebagai Tenaga Ahli Madya.

Lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979, Noe Letto adalah anak pertama dari pasangan Emha Ainun Najib (Cak Nun), seorang budayawan dan cendekiawan terkemuka, serta Neneng Suryaningsih.

Sejak kecil, Noe sudah terpapar nilai-nilai budaya dan pemikiran kritis dari ayahnya, yang turut membentuk karakter dan perspektif hidupnya. Noe juga memiliki hubungan yang erat dengan ibu sambungnya, Novia Kolopaking, yang merupakan aktris dan penyanyi senior.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Yogyakarta, Noe melanjutkan studi di University of Alberta, Kanada, yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di dunia.

Di sana, ia menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika. Meskipun sempat menghadapi kesulitan akibat krisis moneter yang memaksa dirinya bekerja paruh waktu, Noe berhasil meraih gelar Bachelor of Science pada 2003 dengan gemilang.

Setelah menyelesaikan studi di Kanada, Noe kembali ke tanah air dan berkarier di dunia musik. Pada 2005, ia bersama Ari, Dedy, dan Patub membentuk band Letto yang kemudian meluncurkan album debut mereka Truth, Cry, and Lie.

Album tersebut meraih double platinum dan mengukuhkan Letto sebagai salah satu band terbesar di Indonesia pada era 2000-an. Beberapa lagu hits seperti “Ruang Rindu”, “Sebelum Cahaya”, dan “Sandaran Hati” melekat kuat di ingatan publik.

Selain karier musiknya, Noe juga aktif di dunia perfilman. Pada 2008, ia mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman, yang menghasilkan sejumlah film terkenal seperti Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya (2011), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).

Pelantikan Noe Letto sebagai Tenaga Ahli DPN menjadi simbol dari komitmen pemerintah untuk melibatkan generasi muda dalam kebijakan pertahanan negara. Sebagai seorang musisi dan lulusan dua jurusan di Kanada, Noe membawa perspektif segar yang berbeda dari dominasi akademisi atau kalangan militer dalam pengambilan keputusan strategis.

Lebih dari itu, pelantikan Noe juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam mengambil bagian dalam keputusan-keputusan besar negara.

Dalam dunia yang semakin global dan penuh tantangan, dibutuhkan pemikiran yang terbuka dan lintas disiplin untuk menyusun kebijakan yang tepat dan efektif.

Sebagai putra dari Cak Nun, seorang tokoh intelektual dan budayawan, Noe memiliki latar belakang yang kental dengan nilai-nilai budaya, humanisme, dan pemikiran kritis.

Melalui transformasi kariernya, Noe menunjukkan bahwa peran serta generasi muda dalam pemerintahan dan kebijakan negara tidak hanya terbatas pada sektor-sektor konvensional, tetapi juga bisa merambah ke berbagai bidang, termasuk pertahanan.

Keputusan Noe untuk beralih dari dunia musik dan film ke dunia pertahanan mungkin terasa mengejutkan, tetapi hal ini membuktikan bahwa pemikiran kreatif dan lintas sektor bisa memberikan kontribusi besar bagi pembangunan negara.

Noe kini menjadi contoh nyata bahwa keberagaman latar belakang dan pengalaman hidup dapat memperkaya perspektif dalam menyusun kebijakan strategis negara.