INBERITA.COM, Perusahaan intelijen geospasial asal China, MizarVision, menjadi sorotan internasional setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi atas dugaan keterlibatannya membantu Iran melacak aktivitas militer AS selama perang Amerika-Israel melawan Iran.
Alih-alih menunjukkan sikap defensif, perusahaan tersebut justru merespons langkah Washington dengan sindiran terbuka yang memicu reaksi luas di media sosial China.
MizarVision disebut-sebut memainkan peran penting dalam penyediaan analisis satelit dan data intelijen yang diduga membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan serangan presisi terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Kasus ini kembali menyoroti meningkatnya peran teknologi kecerdasan buatan (AI), intelijen sumber terbuka atau OSINT, serta citra satelit komersial dalam dinamika perang modern dan persaingan geopolitik global.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 8 Mei 2026 resmi menjatuhkan sanksi kepada empat entitas yang dianggap mendukung operasi militer Iran.
Salah satu perusahaan yang masuk daftar tersebut adalah Meentropy Technology (Hangzhou) Co., Ltd atau yang lebih dikenal dengan nama MizarVision.
Washington menuding perusahaan itu menerbitkan citra dan analisis satelit yang memperlihatkan detail aktivitas militer AS selama Operasi Epic Fury, operasi militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sanksi tersebut membuat warga negara dan perusahaan Amerika dilarang melakukan hubungan bisnis dengan MizarVision. Selain itu, seluruh aset perusahaan yang berada dalam yurisdiksi AS juga dibekukan.
Namun respons MizarVision justru memancing perhatian publik. Perusahaan itu mengunggah iklan lowongan pekerjaan di media sosial dengan menyertakan tangkapan layar pengumuman sanksi dari pemerintah Amerika Serikat.
“Dunia luar kadang-kadang mengirimkan ‘kejutan’ kepada kita, tetapi kita selalu menjadi tipe yang menerimanya dengan senyum dan terus maju,” tulis perusahaan tersebut dalam pengumuman rekrutmennya, dikutip awak media, Kamis (14/5/2026).
“Jika Anda percaya pada keunggulan melalui kekuatan, menyukai teknik kelas tempur, tahu cara mengubah tekanan menjadi produktivitas—selamat bergabung dengan kami!” lanjut pernyataan itu.
Unggahan tersebut langsung ramai diperbincangkan netizen China di platform Weibo. Banyak pengguna media sosial memuji sikap MizarVision yang dianggap berani menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Sebagian netizen menyebut sanksi tersebut justru menjadi promosi gratis bagi perusahaan teknologi China. Ada pula yang menilai kasus ini menunjukkan kemajuan kemampuan China dalam teknologi satelit komersial dan intelijen sumber terbuka berbasis AI.
Pemerintah China sendiri mengecam langkah Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut sanksi tersebut sebagai tindakan sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional.
“China dengan tegas menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional dan tidak diizinkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Guo Jiakun.
Ia juga menegaskan pemerintah China akan melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan asal negaranya.
MizarVision menjadi perhatian besar setelah berbagai laporan menyebut perusahaan itu mampu melacak pergerakan pesawat pengebom siluman B-2 Amerika Serikat dan sejumlah aset tempur lainnya selama konflik berlangsung.
Meski tidak memiliki satelit sendiri, MizarVision memanfaatkan citra resolusi tinggi milik perusahaan Barat dan Eropa seperti Airbus serta Maxar.
Data satelit tersebut kemudian diproses menggunakan AI dan dianalisis untuk menghasilkan informasi taktis yang dipublikasikan secara terbuka di platform media sosial seperti Weibo dan X.
Teknologi itu memungkinkan perusahaan menyusun pemetaan detail pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk jenis pesawat, jumlah aset tempur, hingga sistem pertahanan udara yang ditempatkan di lokasi tertentu.
Beberapa pangkalan yang disebut dalam laporan MizarVision di antaranya Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi. Kedua lokasi tersebut kemudian menjadi target serangan rudal dan drone Iran selama perang berlangsung.
Pentagon disebut sangat khawatir karena analisis MizarVision dinilai telah melampaui kemampuan intelijen sumber terbuka biasa.
Teknologi AI yang digunakan disebut mampu mengidentifikasi dan memberi label terhadap berbagai aset militer secara detail.
Dalam salah satu gambar yang dipublikasikan, perusahaan tersebut menandai keberadaan jet tempur siluman F-22 di pangkalan udara Ovda, Israel.
Selain itu, mereka juga menampilkan posisi pesawat komunikasi Bombardier E-11 dan tujuh pesawat sistem peringatan dini Boeing E-3 AWACS di Pangkalan Prince Sultan sebelum konflik memanas.
Amerika Serikat kemudian dilaporkan kehilangan satu pesawat E-3 Sentry dalam serangan terhadap pangkalan tersebut.
Laporan lain juga menyebut MizarVision menganalisis pola pengisian bahan bakar udara pesawat militer Amerika menggunakan tanker KC-135 dan KC-46. Analisis tersebut digunakan untuk memperkirakan pola operasi pesawat pengebom AS.
Karena pesawat siluman seperti B-2 jarang memancarkan sinyal ADS-B selama misi tempur, perusahaan tersebut mencoba menghubungkan jalur pergerakan pesawat tanker dengan kemungkinan rute pesawat pengebom.
Pendekatan itu membuat Pentagon menilai ancaman intelijen modern kini tidak hanya berasal dari satelit mata-mata milik negara, tetapi juga dari perusahaan komersial yang memanfaatkan data publik dengan bantuan AI.
Mengutip sumber dari Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), awak media melaporkan bahwa data satelit yang dipublikasikan MizarVision diduga membantu Iran melakukan serangan presisi terhadap pangkalan Amerika di negara-negara Teluk.
“Ini adalah contoh perusahaan China, yang kami yakini dengan niat jahat, menyediakan intelijen di platform sumber terbuka yang menginformasikan protokol penargetan rudal dan pesawat tanpa awak [drone],” kata sumber DIA kepada ABC News.
“Ini membahayakan nyawa warga Amerika, dan secara tidak langsung sekutu kita,” lanjut sumber tersebut.
Selain mempublikasikan citra satelit, MizarVision juga dilaporkan membuat timeline lengkap operasi pesawat tanker AS selama perang berlangsung.
Data tersebut menunjukkan bagaimana Amerika membangun posisi pengisian bahan bakar udara untuk mendukung operasi pesawat pengebom di kawasan Timur Tengah.
Analis militer sekaligus mantan perwira Angkatan Udara China, Fu Qianshao, mengatakan pola operasi pesawat tanker memang dapat digunakan untuk memperkirakan aktivitas pesawat pengebom.
“Zona pengisian bahan bakar di udara umumnya telah ditentukan sebelumnya, dan pesawat tanker yang berputar-putar di stasiun relatif mudah untuk dilihat,” kata Fu.
Meski berbagai tuduhan terhadap MizarVision belum dapat diverifikasi secara independen, kasus ini memperlihatkan bagaimana teknologi satelit komersial dan AI kini menjadi bagian penting dalam perang modern.
Di sisi lain, Washington mulai menghadapi tantangan baru ketika data publik dan teknologi sipil dapat digunakan untuk membuka rahasia operasi militer yang sebelumnya hanya bisa diakses badan intelijen negara besar.