Menjelang Akhir 2025, BEI Bocorkan Ada Emiten Jumbo Siap IPO — Superbank Masuk Radar Pasar

INBERITA.COM, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan akan ada calon emiten berskala jumbo atau lighthouse company yang berpotensi mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) hingga akhir tahun 2025.

Emiten dengan skala besar ini disebut berasal dari sektor infrastruktur, pertambangan, dan finansial — dengan satu di antaranya diperkirakan berasal dari industri perbankan digital.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa beberapa perusahaan di tiga sektor tersebut telah memenuhi kriteria untuk menjadi lighthouse company.

Meski demikian, ia menegaskan waktu pencatatan masih bergantung pada kesiapan internal masing-masing perusahaan.

“Kalau dari laporan keuangan, mereka sebenarnya sudah eligible tahun ini. Tapi pace atau kecepatan prosesnya tergantung pada saat kita melakukan inquiry informasi ke perusahaan,” ujar Nyoman kepada wartawan, Selasa (4/11/2025).

Lighthouse Company: Target Emiten Besar BEI

Konsep lighthouse company sendiri merupakan program strategis BEI yang menargetkan satu perusahaan besar melantai setiap tahunnya.

Emiten dengan status ini umumnya memiliki kapitalisasi pasar minimal Rp 3 triliun serta porsi free float sekurang-kurangnya 15%.

Menurut Nyoman, terdapat sejumlah nama yang telah memenuhi kriteria tersebut, khususnya di sektor finansial, pertambangan, dan infrastruktur. Namun, ia enggan menyebutkan nama perusahaan secara spesifik sebelum pengumuman resmi.

Di tengah pernyataan BEI itu, nama PT Super Bank Indonesia (Superbank) mulai mencuat di pasar modal sebagai salah satu kandidat kuat lighthouse company dari sektor keuangan yang siap melantai dalam waktu dekat.

Superbank Dikabarkan Tunjuk Sucor Sekuritas Sebagai Penjamin IPO

Superbank dikabarkan telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai underwriter atau penjamin emisi efek dalam proses IPO-nya.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai jadwal pencatatan saham di BEI, sumber pasar menyebutkan bahwa Superbank sudah melakukan uji minat (bookbuilding) dan pengenalan kepada calon investor institusi sebagai langkah awal menuju penawaran saham perdana.

Katadata telah mencoba mengonfirmasi kabar ini kepada CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.

Fokus Dana IPO untuk Ekspansi Kredit dan Teknologi

Sementara itu, mengutip informasi dari Stockbit Sekuritas, bank digital yang terafiliasi dengan Grup Emtek, Grab, dan Singtel ini berencana menggunakan 70% dari dana hasil IPO sebagai modal kerja untuk memperluas penyaluran kredit.

Sisanya akan dialokasikan untuk belanja modal (capex), terutama pengembangan sistem teknologi informasi, keamanan data, dan inovasi produk digital.

“Sebanyak 70% dari dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja, sementara sisanya untuk pengembangan sistem dan teknologi informasi,” tulis Stockbit mengutip pemberitaan Bloomberg.

Kabar tersebut sejalan dengan pengumuman BEI bahwa akan ada emiten sektor finansial yang siap melantai. Namun, saat dikonfirmasi apakah perusahaan tersebut adalah Superbank, Nyoman enggan berkomentar.

“Nggak boleh ngomongin nama dulu sebelum waktunya, tapi saya sudah sampaikan sektornya,” katanya menambahkan.

Respons Superbank: Fokus ke Kinerja dan Inklusi Keuangan

Terkait rumor IPO yang semakin santer, pihak manajemen Superbank memilih tidak berkomentar banyak.

“Fokus kami adalah menjaga kinerja yang kuat melalui solusi keuangan inovatif, pertumbuhan jumlah nasabah, serta kolaborasi dengan ekosistem terpercaya untuk mendorong pertumbuhan inklusif di Indonesia,” ujar Juru Bicara Superbank kepada awak media, Selasa (7/10/2025).

Pernyataan ini mempertegas fokus Superbank dalam memperkuat fundamental bisnis digitalnya sebelum resmi melantai di bursa.

Kinerja Keuangan Superbank Melesat di 2025

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025, Superbank mencatatkan laba sebelum pajak (Profit Before Tax/PBT) sebesar Rp 80,9 miliar, menunjukkan perbaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh lonjakan pendapatan bunga bersih sebesar 176% year-on-year (YoY) menjadi Rp 1,1 triliun.

Strategi digital-first yang diusung Superbank terbukti efektif dalam mempercepat pertumbuhan nasabah dan efisiensi biaya operasional.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan jumlah nasabah bank meningkat pesat menjadi 5 juta pengguna sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024.

Aktivitas transaksi harian juga naik lebih dari 40% dibanding kuartal sebelumnya.

“Pertumbuhan nasabah yang pesat turut mendorong peningkatan seluruh indikator keuangan. Kami terus menjaga kinerja sehat dengan manajemen risiko yang disiplin dan efisiensi yang berkelanjutan,” ujar Tigor.

Hingga kuartal III 2025, penyaluran kredit mencapai Rp 9,04 triliun, tumbuh 84% YoY, sementara total aset naik 70% YoY menjadi Rp 16,5 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) juga mencatat lonjakan 203% YoY menjadi Rp 9,8 triliun.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 92%, menunjukkan keseimbangan sehat antara penyaluran kredit dan pertumbuhan pendanaan.

Net Interest Margin (NIM) meningkat menjadi 10,64%, sedangkan Cost to Income Ratio (CIR) menurun drastis ke 70,14% dari 149,65% pada periode yang sama tahun lalu.

Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL Gross 2,83% dan NPL Net 1,21%, mencerminkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko kredit.

Dengan kinerja keuangan yang solid, reputasi digital kuat, dan dukungan ekosistem besar dari Emtek, Grab, Singtel, serta KakaoBank, Superbank dinilai memiliki semua syarat untuk menjadi IPO jumbo berikutnya di BEI.

Jika benar terealisasi pada akhir 2025 atau awal 2026, langkah Superbank akan memperkuat posisi sektor perbankan digital Indonesia di pasar modal, sekaligus menjadi salah satu IPO paling dinanti di Asia Tenggara tahun ini.