INBERITA.COM, Gelombang ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan nyata terhadap perekonomian Malaysia.
Pemerintah Negeri Jiran mengakui sejumlah sektor strategis kini menghadapi perlambatan aktivitas bisnis, lonjakan biaya operasional, hingga peningkatan angka pemutusan hubungan kerja akibat dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut.
Peringatan tersebut disampaikan Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah Mohd Nasir dalam pemaparan ekonomi terbaru pemerintah pada Senin (25/5/2026).
Menurutnya, tekanan global mulai terasa secara bertahap dan diperkirakan akan semakin memengaruhi ekonomi domestik dalam beberapa bulan mendatang.
“Perkembangan ini patut mendapat perhatian,” ujar Akmal.
Salah satu indikator yang menjadi sorotan pemerintah adalah meningkatnya jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan. Data terbaru menunjukkan angka PHK pada April 2026 mencapai 7.057 orang atau naik sekitar 21 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski pemerintah mencatat angka PHK pada Januari dan Februari sempat lebih tinggi, tren terbaru tetap dianggap sebagai sinyal perlambatan ekonomi yang perlu diantisipasi lebih serius.
Situasi tersebut muncul bersamaan dengan menurunnya aktivitas perdagangan global dan terganggunya rantai distribusi internasional akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Tingkat pengangguran Malaysia sendiri masih berada di level 2,9 persen pada kuartal pertama 2026. Namun pemerintah mulai mencermati adanya tekanan tambahan terhadap sektor-sektor yang selama ini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampaknya. Pembatalan sejumlah rute menuju Timur Tengah menyebabkan pergerakan pesawat harian pada April turun drastis hingga 31,5 persen.
Tak hanya itu, aktivitas kargo udara internasional juga ikut melemah. Volume penanganan kargo internasional tercatat turun 14,3 persen, sementara distribusi kargo domestik anjlok hingga 18 persen.
Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya harga bahan bakar penerbangan serta penyesuaian operasional maskapai akibat situasi keamanan global yang belum stabil.
Industri logistik turut menghadapi tantangan berat. Biaya pengiriman barang menuju kawasan Timur Tengah melonjak tajam, bahkan mencapai kenaikan antara 50 hingga 80 persen.
Lonjakan biaya transportasi ini kemudian merembet ke berbagai sektor industri lain, terutama yang bergantung pada ekspor dan distribusi lintas negara.
Sektor pertanian dan komoditas ekspor Malaysia juga mulai kehilangan momentum. Pemerintah mencatat volume perdagangan pertanian turun 14,7 persen sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Penurunan terjadi pada sejumlah komoditas unggulan seperti minyak sawit, kakao, lada, kayu, dan karet. Produk-produk tersebut selama ini menjadi salah satu penopang utama devisa Malaysia.
Akmal memperkirakan ekspor sektor pertanian Malaysia secara keseluruhan dapat turun hingga 13,5 persen sepanjang 2026. Sementara impor diprediksi menyusut sekitar 3,3 persen.
Kondisi ini menunjukkan perlambatan tidak hanya dipicu oleh menurunnya permintaan global, tetapi juga akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi di dalam negeri.
Tekanan biaya paling terasa di sektor perkebunan dan industri hilir sawit. Pemerintah mencatat biaya operasional mesin dan perkebunan meningkat hingga 30 persen. Bahkan biaya penanaman ulang tanaman karet naik sampai 55 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, industri oleokimia sawit juga mengalami kenaikan biaya produksi hingga 30 persen. Kenaikan ini dipicu oleh mahalnya energi, logistik, dan bahan baku pendukung di tengah ketidakpastian global.
Para pelaku usaha kini mulai mengkhawatirkan dampak lanjutan apabila konflik geopolitik terus berkepanjangan. Selain menekan profitabilitas perusahaan, situasi ini dikhawatirkan menghambat investasi baru dan memperlambat penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah Malaysia sebelumnya memang telah memberi sinyal bahwa efek gangguan rantai pasok global kemungkinan baru akan terasa lebih kuat pada paruh kedua tahun ini, terutama memasuki kuartal ketiga 2026.
Kekhawatiran tersebut mulai terlihat dari tren perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang kuartal pertama 2026, laju pertumbuhan ekonomi Malaysia terus mengalami penurunan bertahap.
Pada Januari, pertumbuhan ekonomi tercatat masih berada di level 6,8 persen. Namun angka itu turun menjadi 5,2 persen pada Februari dan kembali melambat menjadi 4,1 persen pada Maret.
Penurunan beruntun tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal mulai berdampak terhadap aktivitas domestik, konsumsi masyarakat, hingga performa ekspor.
Pengamat ekonomi menilai Malaysia termasuk negara yang cukup rentan terhadap gejolak global karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap perdagangan internasional dan sektor manufaktur berbasis ekspor.
Ketika jalur distribusi terganggu dan biaya logistik melonjak, efeknya langsung terasa terhadap daya saing industri dalam negeri. Apalagi konflik di Timur Tengah juga memicu volatilitas harga energi dunia yang berdampak luas pada biaya produksi.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Malaysia kini berupaya menjaga stabilitas ekonomi domestik sambil memantau perkembangan geopolitik internasional.
Langkah mitigasi dinilai penting agar tekanan terhadap industri, pekerja, dan sektor perdagangan tidak semakin dalam pada semester kedua tahun ini.







