Makin Panas! Xi Jinping Serukan Tentara China Bersiap Perang, Korea Utara dan Rusia Siap Gabung Iran Lawan AS dan Israel

Presiden china serukan tentaranya bersiap perangPresiden china serukan tentaranya bersiap perang
Xi Jinping Serukan Tentara China Siap Perang, Korea Utara dan Rusia Dukung Iran Lawan AS

INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik dunia semakin memanas setelah perang antara Iran dan pasukan gabngan Israel serta Amerika Serikat (AS) memasuki tahap eskalasi yang lebih intens.

Perang yang telah berlangsung beberapa hari ini kini memicu reaksi keras dari sejumlah kekuatan besar dunia, termasuk China, Rusia, dan Korea Utara, yang menunjukkan solidaritas terhadap Iran dan ancaman terhadap Barat.

Di tengah situasi yang semakin tidak menentu, Presiden China Xi Jinping mengeluarkan pernyataan yang langsung menjadi sorotan internasional.

Pada Jumat, 6 Maret 2026, Xi meminta militer negaranya untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya perang besar.

Peringatan ini datang saat perang antara Iran dan pasukan gabungan Israel serta Amerika Serikat semakin membara.

Pernyataan Xi ini mengindikasikan bahwa China memandang situasi ini sebagai ancaman serius yang bisa berdampak pada keamanan nasional mereka, terutama dengan semakin intensnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Xi Jinping menyerukan Tentara Pembebasan Rakyat China untuk bersiap menghadapi kekuatan Barat yang sedang mengalami kemunduran.

Menurut laporan yang dikutip dari China Army, Xi menegaskan bahwa negara-negara Barat, yang selama ini mendominasi geopolitik global, kini tengah berada dalam posisi yang semakin terdesak.

Ia menambahkan bahwa konflik yang dipicu oleh Iran ini bisa berpotensi menyebar lebih luas, dengan dampak yang akan dirasakan secara global.

Blok Baru: Korea Utara Menyatakan Dukungan Penuh terhadap Iran

Selain China, Korea Utara juga menunjukkan sikap yang tegas dalam mendukung Iran. Negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un ini menyatakan dukungannya secara terbuka terhadap Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Pyongyang tidak hanya berbicara dalam konteks diplomatik, tetapi juga siap untuk mengambil langkah lebih konkret dalam konflik ini.

Korea Utara bahkan mengungkapkan bahwa mereka akan bergabung dalam perang melawan AS dan Israel, memberikan dukungan penuh kepada Iran.

Negara tersebut tidak hanya mengeluarkan pernyataan politik, tetapi juga menunjukkan keseriusan mereka dengan demonstrasi kekuatan militer yang dipertontonkan kepada dunia internasional.

Pernyataan Provokatif Kim Jong-un: “Entitas Zionis Akan Lenyap”

Kim Jong-un juga melontarkan sebuah pernyataan yang sangat provokatif terkait konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan oleh Iran Army pada Kamis, 5 Maret 2026, Kim menyatakan dengan tegas, “Entitas Zionis akan lenyap ketika waktunya tiba.”

Pernyataan ini memicu perhatian luas karena tingginya retorika politik yang digunakan, mengingat dampak dari kata-kata tersebut tidak hanya berlaku dalam konteks konflik regional, tetapi juga mengancam stabilitas geopolitik global.

Ucapan tersebut semakin mempertegas sikap keras Pyongyang terhadap Israel dan Amerika Serikat, serta menunjukkan bahwa Korea Utara siap mendukung penuh Iran dalam menghadapi musuh bersama mereka.

Rusia Terlibat: Tanda Terbentuknya Blok Anti-Barat?

Selain China dan Korea Utara, Rusia juga semakin menunjukkan dukungan terhadap Iran.

Meski belum ada pernyataan resmi yang serupa dengan yang dikeluarkan oleh Korea Utara, sumber-sumber di Moskow menyebutkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mendukung Iran, baik dalam bentuk bantuan logistik maupun militer.

Hal ini semakin memperjelas potensi terbentuknya blok politik baru yang semakin kuat, di mana negara-negara seperti China, Rusia, dan Korea Utara bersatu melawan dominasi Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.

Rusia, yang memiliki hubungan historis dan militer yang kuat dengan Iran, kemungkinan besar akan semakin mendalami keterlibatannya dalam konflik ini.

Jika hal ini benar terjadi, maka akan ada dampak besar terhadap geopolitik global, terutama dalam hubungan antara negara-negara besar yang telah lama terlibat dalam persaingan ideologis dan militer.

Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh negara-negara besar ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas.

Para pengamat internasional menilai bahwa situasi ini bisa menjadi titik balik dalam geopolitik global, di mana ketegangan antara kekuatan besar bisa berubah menjadi konflik terbuka.

Dengan China, Korea Utara, dan Rusia yang semakin mendekati Iran dalam menghadapi AS dan Israel, situasi ini berpotensi menyulut perang besar yang melibatkan beberapa negara dengan kepentingan geopolitik yang sangat berbeda.

Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah bisa merembet ke wilayah lain, bahkan ke Eropa dan Asia, jika tidak ada langkah diplomatik yang dapat meredakan ketegangan ini.

Kompleksitas Konflik di Timur Tengah dan Dampaknya bagi Dunia

Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menjadi salah satu titik api utama dalam geopolitik global.

Ketegangan ini semakin rumit dengan terlibatnya negara-negara besar seperti China, Rusia, dan Korea Utara, yang semakin menunjukkan bahwa dunia tengah berada di persimpangan jalan antara kemungkinan terjadinya konflik besar atau penyelesaian diplomatik.

Dengan dukungan tegas dari Korea Utara dan Rusia kepada Iran, serta seruan Xi Jinping untuk meningkatkan kesiapan militer China, dunia kini dihadapkan pada potensi eskalasi yang bisa berbahaya bagi stabilitas global.

Langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara besar ini akan menentukan bagaimana arah konflik ini berkembang, serta dampaknya terhadap keamanan dunia secara keseluruhan.