Lawakan “Mata Ngantuk Gibran” Pandji Disorot, Tompi Angkat Isu Medis dan Ingatkan Body Shaming

Pandji Disorot soal Lawakan “Mata Ngantuk Gibran”Pandji Disorot soal Lawakan “Mata Ngantuk Gibran”
Pandji Pragiwaksono menjadi sorotan publik usai lawakannya soal “mata ngantuk Gibran”. Polemik ini memicu komentar dr. Tompi terkait body shaming dan kembali mengangkat jejak digital akun Fufufafa.

INBERITA.COM, Lawakan yang disampaikan komika Pandji Pragiwaksono dalam sebuah pertunjukan stand-up comedy kembali memantik perdebatan publik.

Materi yang menyinggung soal penampilan fisik sejumlah tokoh politik, khususnya terkait ungkapan “mata ngantuk Gibran”, menjadi sorotan luas di media sosial dan ruang diskusi publik.

Di satu sisi, sebagian pihak menilai materi tersebut sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dalam komedi. Namun di sisi lain, kritik tajam muncul karena lawakan itu dianggap telah menyentuh ranah penghinaan fisik atau body shaming.

Dalam potongan materi yang beredar luas, Pandji melontarkan candaan yang mengaitkan pilihan pemimpin dengan tampilan fisik. Ia menyampaikannya dalam format pertanyaan retoris yang lazim digunakan dalam stand-up comedy.

“Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang? Banyak” kata Pandji.

“Ganjar ganteng ya, Anies manis ya, Prabowo gemoy ya, atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya, salah nada, maaf, Gibran, ngantuk ya?” lanjut Pandji dalam shownya tersebut.

Potongan kalimat ini kemudian menyebar cepat dan memicu beragam reaksi dari masyarakat.

Perdebatan pun berkembang, bukan hanya soal etika berkomedi, tetapi juga soal sensitivitas terhadap kondisi fisik seseorang, terlebih ketika yang disinggung adalah figur publik. Salah satu kritik yang cukup menonjol datang dari musisi sekaligus dokter bedah plastik, dr. Tompi.

Melalui pernyataannya, Tompi menegaskan bahwa kondisi fisik bukanlah sesuatu yang pantas dijadikan bahan candaan, apalagi jika berkaitan dengan aspek medis.

“Apa yang terlihat “mengantuk” pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, and sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON,” tulis dr. Tompi.

Pernyataan tersebut menjadi rujukan bagi banyak warganet yang menilai bahwa lawakan Pandji telah melampaui batas humor yang wajar dan berpotensi melanggengkan praktik body shaming di ruang publik.

Respons publik terhadap polemik ini terbelah. Sebagian warganet membela Pandji dengan alasan konteks komedi dan kebebasan berekspresi.

Namun, tidak sedikit pula yang sependapat dengan Tompi dan menilai bahwa figur publik seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih materi, terutama yang menyangkut fisik orang lain.

Diskusi ini kemudian melebar dan menyentuh isu yang lebih luas, yakni standar etika dalam berkomedi serta konsistensi publik dalam mengecam perundungan fisik.

Menariknya, di tengah kritik terhadap Pandji, sebagian warganet justru mengangkat contoh lain yang dinilai lebih ekstrem.

Mereka menyinggung jejak digital sebuah akun bernama Fufufafa yang belasan tahun lalu sempat menuai kecaman karena komentar bernada menghina fisik seseorang.

Isu ini kembali mencuat sebagai pembanding dalam perdebatan soal body shaming yang kini ramai dibicarakan. Salah satu warganet mengungkit kembali unggahan lama akun Fufufafa pada Agustus 2014.

Kala itu, akun tersebut mengomentari sebuah berita tentang kader partai bernama Novela yang menjadi korban teror. Komentar tersebut dinilai sangat tidak sensitif dan kembali viral di platform X sebagai respons atas kegaduhan yang muncul akibat materi lawakan Pandji.

“Kasihan rumahnya dibakar sampai gosong itu kulit,” tulis akun Fufufafa yang komentarnya kini kembali viral di platform X sebagai respons atas keriuhan materi Pandji tersebut.

Kemunculan kembali komentar lawas ini memicu reaksi lanjutan dari pengguna internet. Banyak di antara mereka yang kemudian menuntut agar standar penilaian terhadap body shaming diterapkan secara adil dan konsisten, tanpa memandang siapa pelakunya.

Sejumlah warganet bahkan secara langsung menyampaikan keberatan kepada dr. Tompi, meminta agar ia juga bersuara terhadap kasus-kasus lain yang dinilai serupa.

Para pengguna internet pun ramai-ramai mengadu kepada dr. Tompi agar bersikap adil dalam melihat fenomena perundungan fisik atau body shaming yang terjadi di dunia digital.

“Nih si Fufufafa juga kelewatan ya pak dokter,” kata salah satu warganet yang merasa gusar dengan komentar lawas akun yang sering dikaitkan dengan lingkaran kekuasaan tersebut.

Ungkapan ini mencerminkan kekecewaan sebagian publik yang menilai adanya standar ganda dalam menyikapi kasus perundungan. Nada serupa juga disampaikan oleh pemilik akun lain yang menilai bahwa komentar akun Fufufafa jauh lebih menyakitkan dibandingkan candaan yang kini dipersoalkan.

“Padahal Fufufafa lebih sadis lagi, tapi mereka diam,” tulis sang pemilik akun @linggagumelar yang menutup perdebatan panas mengenai etika berkomedi di tanah air ini.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa isu ini telah berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang konsistensi moral, etika publik, dan tanggung jawab figur berpengaruh di ruang digital.

Polemik lawakan Pandji Pragiwaksono soal “mata ngantuk Gibran” pada akhirnya tidak lagi berdiri sebagai isu tunggal.

Ia telah menjelma menjadi cermin perdebatan masyarakat mengenai batas humor, sensitivitas terhadap kondisi fisik, serta sikap publik dalam menghadapi body shaming yang terjadi berulang kali di media sosial.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa di era digital, satu pernyataan dapat dengan cepat memicu diskusi panjang, membuka kembali arsip lama, dan menantang publik untuk bersikap lebih konsisten dalam menegakkan etika berkomunikasi.