Konsumen Keluhkan Mobil Mewah Mogok Usai Isi Pertamax di SPBU Pertamina, Dugaan BBM Bermasalah Muncul Lagi

INBERITA.COM, Keluhan serius kembali mencuat dari konsumen otomotif terkait kualitas bahan bakar jenis Pertamax yang dijual di SPBU Pertamina.

Kali ini, sorotan datang dari Stella Kirana (33), pemilik mobil mewah Lexus RX 300 tahun 2019, yang mengalami kerusakan mendadak pada kendaraannya usai mengisi penuh tangki dengan Pertamax.

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 21 September 2025, saat Stella melintas di kawasan Roxy, Jakarta Barat, sekitar pukul 17.00 WIB.

Awalnya, tidak ada indikasi masalah pada mobil. Namun, beberapa saat setelah indikator BBM menunjukkan setengah tangki, kendaraan mendadak mati di tengah jalan.

“Awalnya aman-aman saja. Tapi hari Minggu, ketika bensinnya tinggal setengah, tiba-tiba mobilnya mati sendiri di jalan. Gasnya hilang begitu saja, mobil jadi enggak ada tenaga. Saya panik karena ini pertama kalinya mengalami mobil mogok di jalan,” ujar Stella, dikutip Selasa, 23 September 2025.

Mobil berjenis SUV premium itu akhirnya harus ditowing ke bengkel resmi Lexus di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Hingga kini, unit masih dalam proses perbaikan, sementara pemilik masih mempertanyakan penyebab pasti mogoknya kendaraan tersebut.

Pemeriksaan teknis yang dilakukan sehari setelah insiden menunjukkan adanya indikasi serius pada sistem bahan bakar.

Filter BBM tampak menghitam, dan sampel bensin yang diambil dari dalam tangki terlihat kotor. Indikasi ini menguatkan dugaan bahwa BBM yang digunakan mengandung kontaminan.

“Teknisi bilang harus kuras tangki dan ganti filter. Biayanya sekitar Rp1,8 juta plus Rp500 ribu untuk isi BBM baru,” ungkap Stella.

Yang membuat konsumen ini semakin curiga adalah pengalaman sebelumnya selama dua hingga tiga tahun menggunakan BBM dari merek lain tanpa pernah mengalami kendala serupa. Stella mengaku selama ini setia memakai BBM dari Shell dan tidak pernah mengalami mogok.

“Baru kali ini mogok setelah isi Pertamax. Sebelumnya aman-aman saja,” tambahnya dengan nada kecewa.

Kasus seperti yang dialami Stella ternyata bukan yang pertama kali terjadi. Pada November 2024 lalu, keluhan sejenis sempat viral setelah seorang pemilik mobil melakukan servis di bengkel Daihatsu Cibinong.

Saat itu, teknisi menemukan fuel pump dan saringan bahan bakar rusak parah akibat adanya endapan mencurigakan dalam tangki, yang juga diduga berasal dari bahan bakar jenis Pertamax.

Rentetan kasus ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pengguna kendaraan premium yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kualitas BBM.

Mobil-mobil modern, terutama yang menggunakan sistem injeksi dan turbocharged seperti Lexus RX 300, sangat bergantung pada kebersihan dan kemurnian bahan bakar agar performanya tetap optimal.

Lexus RX 300 sendiri adalah kendaraan SUV kelas atas yang dibekali mesin 2.0 liter turbo dengan tenaga sekitar 235 hp.

Mobil ini dikenal luas karena kenyamanan dan kelengkapan fiturnya, mulai dari kursi kulit elektrik, kamera 360 derajat, panoramic sunroof, hingga sistem audio premium Mark Levinson. Namun, biaya perawatan dan konsumsi BBM-nya jauh di atas rata-rata mobil biasa.

Dugaan terkait kualitas BBM kembali mencuat di tengah meningkatnya konsumsi Pertamax, seiring kebijakan pemerintah yang mendorong masyarakat menggunakan BBM beroktan tinggi untuk mengurangi emisi.

Namun, bila kualitas distribusi di lapangan tidak terjaga, kerusakan kendaraan justru bisa menimbulkan kerugian besar bagi konsumen dan memunculkan krisis kepercayaan terhadap produk nasional.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina terkait insiden yang dialami Stella. Sementara itu, pemilik kendaraan berharap ada kejelasan dan tanggung jawab dari pihak terkait, terutama jika terbukti bahwa penyebab utama kerusakan mobilnya adalah kualitas bahan bakar yang tidak memenuhi standar.

Kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan konsumen terhadap bahan bakar tak hanya soal harga atau ketersediaan, tetapi juga menyangkut keamanan, performa, dan keberlangsungan kendaraan yang digunakan setiap hari.

Jika masalah seperti ini terus berulang tanpa penyelesaian tuntas, bukan tidak mungkin akan memicu eksodus konsumen ke penyedia BBM alternatif yang dianggap lebih andal. (mms)