INBERITA.COM, Kapal tanker Marinera yang berbendera Rusia baru-baru ini menjadi sorotan setelah disita oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) di perairan internasional, di antara Islandia dan Skotlandia.
Sebelumnya, kapal ini dikenal dengan nama Bella 1 dan telah dikenai sanksi oleh pemerintah AS karena keterkaitannya dengan aktivitas ilegal yang melanggar sanksi yang diberlakukan terhadap Venezuela.
Moskow marah besar atas tindakan tersebut, yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang menjamin kebebasan navigasi di perairan internasional.
Meskipun sebelumnya ada laporan yang menyebutkan bahwa Angkatan Laut Rusia telah mengirimkan kapal selam untuk mengawal Marinera, tidak ada perlawanan berarti yang diberikan ketika pasukan AS menaiki kapal tersebut.
Pada 24 Desember 2025, kapal Marinera menerima izin sementara untuk mengibarkan bendera Rusia, yang dianggap sah oleh Rusia menurut hukum internasional.
Namun, pada Rabu (7 Januari 2026) waktu Moskow, pasukan khusus AS berhasil mendekati kapal tersebut setelah mengejar selama berminggu-minggu.
Kapal Marinera akhirnya disita tanpa perlawanan yang signifikan, meskipun diduga ada kapal selam Rusia yang berperan dalam mengawal perjalanan kapal tersebut.
Penyitaan ini terjadi di tengah ketegangan internasional, khususnya antara Rusia dan AS terkait dengan blokade sanksi terhadap Venezuela yang tidak diakui oleh AS.
Kapal Marinera diduga membawa minyak atau bahan yang terkait dengan Venezuela, yang saat ini berada di bawah embargo ekonomi internasional, sebagian besar dipicu oleh kebijakan Amerika terhadap negara tersebut.
Rusia, melalui Kementerian Transportasi, menyatakan kemarahan atas insiden ini, menyebut bahwa tindakan AS melanggar prinsip-prinsip hukum internasional terkait dengan kebebasan navigasi.
Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, menyatakan bahwa Rusia akan memantau dengan cermat bagaimana warga negara Rusia di atas kapal Marinera diperlakukan dan mendesak agar hak-hak mereka dihormati, termasuk jaminan kepulangan yang cepat ke tanah air.
Wakil kepala Komite Pertahanan Duma Negara Rusia, Aleksey Zhuravlyov, bahkan mengusulkan bahwa Rusia harus memberikan respons militer terhadap tindakan AS, dengan mengancam untuk menyerang kapal-kapal Amerika.
Sementara itu, pemerintah AS membela tindakan mereka, dengan mengatakan bahwa kapal tersebut disita karena melanggar sanksi AS yang diterapkan terhadap Venezuela.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa blokade minyak terhadap Venezuela akan tetap berlaku penuh di seluruh dunia.
Selain itu, Inggris juga mengonfirmasi bahwa Royal Fleet Auxiliary (RFA) Tideforce, kapal pengisian bahan bakar milik Angkatan Laut Inggris, memberikan dukungan logistik dalam proses pengejaran dan penyitaan kapal Marinera.
Tindakan ini memperburuk ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat, dengan kedua negara saling menuding melanggar prinsip-prinsip internasional terkait kebebasan navigasi dan hukum laut.
Pihak Rusia berencana untuk mengajukan protes resmi dan menuntut perlakuan yang adil bagi awak kapal Marinera yang kini berada di bawah kendali AS.
Seiring dengan perkembangan yang berlanjut, kemungkinan akan ada respons lebih lanjut dari kedua belah pihak mengenai penyitaan ini, yang bisa berdampak pada hubungan diplomatik antara negara-negara besar ini. (*)







