INBERITA.COM, Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra semakin menimbulkan dampak luas terhadap aktivitas masyarakat.
Antrean kendaraan mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama di Palembang, Sumatera Selatan, dan Medan, Sumatera Utara, sementara pasokan solar dinilai belum mampu memenuhi tingginya kebutuhan.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga mengganggu sektor transportasi, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi yang bergantung pada kendaraan operasional.
Di berbagai SPBU, pengemudi kendaraan angkutan dilaporkan harus mengantre selama berjam-jam, bahkan ada yang menunggu hingga berhari-hari demi memperoleh solar.
Banyak sopir memilih bertahan di lokasi karena khawatir tidak mendapat giliran apabila meninggalkan antrean.
Dampak paling tragis terjadi di jalur Lintas Timur Palembang–Jambi, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Seorang sopir truk berusia 50 tahun ditemukan meninggal dunia di balik kemudi saat sedang mengantre solar. Berdasarkan keterangan kepolisian, korban diduga meninggal akibat kelelahan setelah menunggu dalam antrean panjang.
Di sisi lain, kelangkaan BBM juga memunculkan kisah haru dari masyarakat. Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang ibu menangis setelah gagal mendapatkan bahan bakar di salah satu SPBU.
Menurut keterangan pengunggah video, perempuan tersebut telah mengantre sejak sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah menunggu hingga malam dan akhirnya tiba di dispenser pengisian, petugas menyampaikan bahwa stok BBM telah habis.
Seluruh waktu yang dihabiskan untuk mengantre pun berakhir tanpa hasil, sehingga ia terpaksa pulang tanpa membawa bahan bakar.
Fenomena serupa juga dirasakan para pengemudi angkutan umum, sopir bus, pengemudi ojek daring, hingga pelaku usaha kecil.
Antrean panjang membuat mereka kehilangan jam operasional, mengurangi jumlah pelanggan, serta meningkatkan biaya operasional akibat waktu tunggu yang semakin lama.
Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat (Organda), Kurnia Lesani Adnan, menyebut kondisi tersebut sebagai situasi darurat bagi sektor transportasi.
Menurutnya, kelangkaan solar telah menghambat kelancaran distribusi barang dan berpotensi memengaruhi rantai pasok kebutuhan masyarakat apabila tidak segera diatasi.
Sejumlah pihak menilai antrean panjang dipicu oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan dan volume penyaluran solar bersubsidi.
Dalam rapat antara BPH Migas dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, terungkap bahwa usulan kuota sekitar 2,8 juta kiloliter hanya disetujui sekitar 630 ribu kiloliter. Kesenjangan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pasokan di lapangan belum mencukupi.
Kelangkaan BBM yang telah berlangsung sekitar satu bulan ini kini menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya semakin meluas.
Selain mengganggu aktivitas transportasi, kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi distribusi kebutuhan pokok dan stabilitas ekonomi di berbagai daerah.
Masyarakat berharap pemerintah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat normalisasi distribusi BBM, meningkatkan ketersediaan pasokan di SPBU, serta memastikan kebutuhan energi masyarakat dan pelaku usaha dapat terpenuhi agar aktivitas ekonomi kembali berjalan normal.