Kapal Pinisi KM Putri Sakinah Tenggelam di Selat Pulau Padar, 4 Penumpang Masih Dicari

INBERITA.COM, Kapal Pinisi KM Putri Sakinah dilaporkan tenggelam di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat malam, 26 Desember 2025.

Kapal tersebut membawa 11 orang penumpang, terdiri dari 6 wisatawan asing asal Spanyol, 1 pemandu wisata, dan 4 anak buah kapal (ABK), termasuk kapten kapal.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, menjelaskan bahwa pihak kepolisian bersama tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian di sekitar lokasi tenggelamnya kapal.

“Dari tadi malam hingga saat ini, upaya pencarian korban yang hilang masih terus dilakukan oleh petugas kepolisian bersama tim SAR gabungan,” ujar Christian pada Sabtu sore.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa kapal tersebut tenggelam di sebelah barat Pulau Flores, dengan titik koordinat 08°36’35.26″S – 119°36’42.84″E, sekitar 23 mil laut arah barat dari Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo.

Pada awalnya, sekitar pukul 13.00 Wita, kapal berlayar dari Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo menuju beberapa destinasi wisata di kawasan Taman Nasional Komodo. Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Pulau Kambing, yang terkenal dengan keindahan alamnya.

Setelah itu, pada pukul 20.00 Wita, setelah makan malam, kapal melanjutkan perjalanan menuju Pulau Komodo. Sekitar pukul 20.45 Wita, saat melintasi Selat Pulau Padar, kapal itu menghadapi cuaca buruk yang diiringi gelombang setinggi sekitar dua meter.

Kapolres mengungkapkan bahwa gelombang tinggi dan cuaca buruk diyakini menjadi penyebab utama tenggelamnya kapal tersebut.

“Dugaan sementara, cuaca buruk disertai gelombang tinggi menjadi penyebab utama tenggelamnya kapal tersebut,” jelas Christian Kadang.

Cuaca ekstrem serta kegelapan malam hari sangat menghambat tim SAR gabungan dalam melakukan evakuasi. Namun, meskipun terdapat kendala tersebut, tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan tujuh penumpang yang selamat.

Proses evakuasi, yang melibatkan prajurit TNI, anggota Polri, Basarnas, KSOP, dan masyarakat setempat, mengalami kesulitan karena kondisi cuaca yang buruk dan jarak pandang yang terbatas. Namun, berkat kerjasama tim yang solid, tujuh penumpang berhasil diselamatkan.

“Proses evakuasi sempat mengalami kendala karena cuaca buruk dan jarak pandang yang terbatas, namun, di tengah keterbatasan tersebut, tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan 7 orang penumpang,” kata Kapolres Manggarai Barat.

Dari total 11 penumpang yang ada di kapal, tujuh orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Ke-7 orang yang berhasil diselamatkan itu terdiri dari dua wisatawan, satu pemandu wisata, dan empat anak buah kapal.

Mereka semua telah berada di Labuan Bajo, dalam kondisi aman.

“Empat orang yang hilang masih dalam upaya pencarian, sementara 2 wisatawan, 1 pemandu wisata, dan 4 anak buah kapal sudah diselamatkan, mereka telah berada di Labuan Bajo,” tambahnya.

Atas insiden ini, pihak kepolisian dan instansi terkait mengimbau kepada agen perjalanan wisata dan penyedia jasa wisata untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan selama beraktivitas di perairan Taman Nasional Komodo.

Mengingat kawasan ini sering dilanda cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, pihak berwenang sangat menekankan pentingnya persiapan yang matang dan memastikan keamanan kapal sebelum memulai perjalanan wisata.

“Kami mengimbau kepada agen perjalanan wisata untuk mengedepankan aspek-aspek keselamatan dalam pelayaran apabila hendak berwisata di sekitar perairan Taman Nasional Komodo karena cuaca ekstrem dan gelombang tinggi,” ujar AKBP Christian Kadang.

Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi wisata terpopuler di Indonesia, terutama bagi wisatawan asing, dan keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan. Kapal-kapal yang beroperasi di kawasan ini perlu memenuhi standar keselamatan yang ketat, termasuk pemeriksaan kondisi kapal sebelum berangkat.

Selain itu, pemandu wisata juga diharapkan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan, mengingat ketidakpastian cuaca di perairan tersebut.

Penyedia jasa wisata juga disarankan untuk memperbarui prosedur keselamatan mereka, termasuk memastikan bahwa kapal dilengkapi dengan alat keselamatan yang memadai, seperti pelampung, life raft, dan perangkat komunikasi darurat.

Dalam hal ini, kesiapan menghadapi cuaca buruk, terutama gelombang tinggi yang sering terjadi, harus menjadi perhatian utama agar insiden serupa tidak terulang kembali.

Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo, terutama setelah kawasan ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata dunia, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan wisata yang aman dan nyaman bagi semua pengunjung.

Kejadian tenggelamnya Kapal Pinisi KM Putri Sakinah ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam setiap kegiatan wisata bahari.

Tindakan tegas dan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan penyedia jasa wisata diharapkan dapat mencegah terjadinya kecelakaan serupa di masa depan, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keselamatan di laut.