INBERITA.COM, Serangan misterius di Selat Bab al-Mandeb menewaskan tiga awak kapal, termasuk satu Warga Negara Indonesia (WNI). Laporan awak media menyebutkan kapal kargo Tihamah berbendera Tanzania menjadi korban tembakan proyektil yang diduga berasal dari rudal balistik.
Kapal tersebut tengah berlayar dari Salalah, Oman, menuju Djibouti ketika serangan terjadi. Dua warga Pakistan dan satu WNI dilaporkan tewas akibat insiden yang terjadi Selasa (11/8).
Namun, hingga berita ini diturunkan, kelompok Houthi belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai keterlibatan mereka.
Menurut data UK Maritime Trade Operations (UKMTO), serangan terjadi sekitar 3,3 mil laut di timur laut Pulau Perim, Yaman.
Laporan dari perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut kapal kehilangan kendali setelah terkena hantaman proyektil, sebelum akhirnya didatangi penjaga pantai Yaman.
Lokasi serangan berada di jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu rute perdagangan internasional terpenting, dengan rata-rata 32 kapal melintas setiap hari dalam pekan terakhir. Angka ini turun drastis dari sekitar 50 kapal per hari sebelum blokade.
Ancaman terhadap pelayaran di wilayah ini semakin meningkat sejak kelompok Houthi mengumumkan blokade Laut Merah terhadap Arab Saudi pada Juli.
Kelompok tersebut mengklaim langkah itu sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai “pengepungan Saudi terhadap Yaman”. Riyadh, bagaimanapun, membantah tuduhan tersebut.
Serangan ini menjadi insiden pertama yang menewaskan awak kapal sejak konflik di Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari.
Ketegangan meningkat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Houthi sebelumnya juga mengancam akan memblokade kapal-kapal Saudi yang melintasi Selat Bab al-Mandeb.
Kapal yang diserang bukan milik maupun dioperasikan oleh pihak Arab Saudi. Laporan Ambrey menyebutkan kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.
Kejadian ini menambah tekanan bagi perusahaan pelayaran yang sebelumnya sudah menghadapi gangguan di Selat Hormuz.
Identitas WNI yang menjadi korban belum diungkapkan dalam laporan media yang ada. Belum ada keterangan mengenai proses pemulangan jenazah maupun penanganan terhadap keluarga korban di Indonesia. Otoritas Indonesia masih menunggu konfirmasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi korban.
Blokade yang dilakukan Houthi berdampak langsung pada volume kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandeb. Data Kpler menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah kapal yang melintas. Kondisi ini memaksa perusahaan pelayaran untuk mencari rute alternatif yang lebih aman.
Kelompok Houthi telah lama menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan di Laut Merah. Sejak konflik di Yaman memanas, kelompok ini kerap melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang dianggap terkait dengan Arab Saudi. Meskipun demikian, klaim tanggung jawab atas serangan terhadap kapal kargo ini belum dikeluarkan.
Serangan terhadap kapal kargo di Selat Bab al-Mandeb menunjukkan eskalasi baru dalam konflik yang melibatkan berbagai pihak di Timur Tengah. Dampak dari insiden ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan pelayaran, tetapi juga oleh ekonomi global yang bergantung pada jalur perdagangan ini.
Jika serangan ini terbukti dilakukan oleh Houthi, hal ini akan semakin memperumit upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan. Kelompok ini telah menunjukkan kesediaan untuk mengambil tindakan keras guna menekan lawan-lawannya.
Sementara itu, belum ada klarifikasi resmi mengenai jenis proyektil yang digunakan dalam serangan tersebut. Laporan dari UKMTO menyebutkan bahwa jenis senjata yang digunakan masih belum dipastikan. Ambrey hanya menyebutkan kapal mengalami kerusakan akibat serangan proyektil.
Kondisi ini memaksa banyak perusahaan pelayaran untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan mereka.
Biaya operasional yang meningkat akibat ancaman serangan menjadi beban tambahan bagi industri pelayaran. Rute alternatif yang lebih panjang tentunya akan membutuhkan biaya lebih besar.
Selat Bab al-Mandeb yang semakin tidak aman juga berdampak pada harga komoditas global. Keterlambatan pengiriman barang akibat rute yang terganggu dapat menyebabkan kenaikan harga di berbagai negara. Hal ini tentunya akan mempengaruhi perekonomian global yang sedang berusaha pulih dari dampak pandemi.
Pemerintah Indonesia diharapkan segera memberikan klarifikasi mengenai identitas WNI yang menjadi korban.
Sementara itu, kelompok Houthi tetap menjadi aktor utama dalam ketidakstabilan kawasan ini.
Serangan terhadap kapal kargo di Selat Bab al-Mandeb menunjukkan bahwa kelompok ini tidak segan untuk mengambil tindakan keras. Hal ini menambah kompleksitas dalam upaya mencari solusi damai bagi konflik yang sedang berlangsung.
Dunia internasional kini menantikan respons lebih lanjut dari berbagai pihak terkait insiden ini. Upaya untuk menjaga stabilitas keamanan di Laut Merah dan sekitarnya menjadi semakin mendesak. Tanpa tindakan yang tepat, ancaman terhadap pelayaran global akan terus meningkat.







