INBERITA.COM, Gempa dahsyat bermagnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin pagi, 10 Agustus 2026, menorehkan sejarah sebagai salah satu bencana alam paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan resmi pemerintah mencatat korban tewas mencapai 132 orang, sementara lebih dari 1.500 bangunan mengalami kerusakan parah akibat guncangan yang terasa hingga ke tiga negara tetangga. Angka korban dipastikan akan terus bertambah karena banyaknya korban yang masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan.
Gempa terjadi pukul 07.34 waktu setempat dengan episentrum berada di Provinsi Choco, tepatnya dekat Desa San Jose del Palmar.
Badan Geologi Kolombia mencatat kedalaman gempa mencapai 103 kilometer, sehingga getarannya terasa hingga ratusan kilometer ke wilayah barat negara tersebut. Meskipun wali kota setempat menyatakan tidak ada korban di desanya, kerusakan infrastruktur jalan menghambat akses bantuan ke daerah terdampak.
Kota Pereira, pusat industri kopi nasional, menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Laporan menyebutkan setidaknya 40 orang tewas di kawasan metropolitan, dengan 65 bangunan runtuh dan 15 di antaranya masih menyimpan korban yang belum ditemukan.
Video yang beredar menunjukkan reruntuhan bangunan di Plaza Bolivar, alun-alun utama kota, yang biasanya ramai dikunjungi warga. Jam malam diberlakukan hingga pukul 05.00 keesokan harinya untuk mencegah kerusuhan dan memastikan keamanan.
Tak jauh dari Pereira, Kota Cali juga mengalami kerusakan serius dengan 32 bangunan roboh. Guncangan gempa yang melanda wilayah Valle del Cauca ini memicu kepanikan massal, dengan ribuan warga berhamburan ke jalan-jalan karena takut akan terjadinya gempa susulan.
Asosiasi Ibu Kota Kolombia mencatat lebih dari 480 orang mengalami luka-luka akibat bencana ini.
Pemerintah Kolombia segera menetapkan status darurat nasional untuk mengkoordinasikan upaya penyelamatan dan distribusi bantuan.
Presiden negara tersebut menyerukan ketenangan kepada masyarakat sementara tim penyelamat bekerja tanpa henti menggunakan crane dan peralatan berat untuk membersihkan puing-puing. Kondisi cuaca yang buruk semakin mempersulit operasi pencarian korban yang tertimbun.
Gempa ini juga menimbulkan dampak lintas batas, dengan guncangan terasa hingga ke negara-negara Amerika Latin tetangga. Beberapa wilayah di Ekuador dan Panama melaporkan getaran yang signifikan, meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar.
Para ahli gempa mengaitkan kejadian ini dengan aktivitas sesar di lepas pantai Pasifik yang selama ini menjadi sumber gempa besar di kawasan tersebut.
Kerusakan infrastruktur yang luas memutus akses jalan utama, menghambat distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan. Banyak rumah sakit dan fasilitas publik mengalami kerusakan, memaksa pemerintah untuk mendirikan tenda-tenda darurat sebagai tempat penampungan sementara.
Listrik dan jaringan komunikasi di beberapa wilayah masih terputus, menyulitkan koordinasi antar tim penyelamat.
Para korban yang selamat mengungkapkan trauma mendalam akibat gempa yang terjadi begitu tiba-tiba. Banyak warga yang memilih tidur di luar rumah meski malam telah larut, takut akan terjadinya gempa susulan.
Kondisi psikologis masyarakat menjadi perhatian utama pemerintah, yang berencana mengirimkan tim kesehatan mental untuk memberikan dukungan kepada para korban.
Pakar geologi memperingatkan bahwa wilayah ini masih berisiko tinggi terhadap gempa susulan dalam beberapa minggu mendatang. Mereka mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan-bangunan vital, terutama di daerah yang rawan gempa.
Infrastruktur yang tahan gempa menjadi prioritas untuk mencegah korban jiwa yang lebih besar di masa depan.
Sementara itu, masyarakat internasional mulai menunjukkan solidaritas dengan mengirimkan bantuan berupa obat-obatan, makanan, dan peralatan medis.
Organisasi kemanusiaan internasional juga turun tangan untuk membantu pemerintah setempat dalam menangani dampak bencana. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban korban yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Gempa Kolombia ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Amerika Latin terhadap bencana alam. Meskipun teknologi prediksi gempa semakin canggih, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah tetap menjadi kunci untuk menyelamatkan nyawa.
Langkah-langkah mitigasi bencana yang lebih ketat perlu segera diterapkan untuk mengurangi risiko di masa mendatang.







