JK: “Jokowi Jadi Presiden Karena Saya”, Singgung Istilah Termul Beberkan Perannya di Pilgub DKI hingga Pilpres 2014

INBERITA.COM, Pernyataan terbaru Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla kembali menjadi sorotan publik setelah ia mengungkap perannya dalam perjalanan politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan dan langsung memicu perbincangan luas.

Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla secara terbuka menyebut dirinya memiliki kontribusi besar dalam membawa Jokowi dari tingkat daerah hingga akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ia menegaskan bahwa peran tersebut tidak bisa dilepaskan dari perjalanan politik Jokowi sejak awal.

“Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya,” kata JK dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

Pernyataan tersebut turut menyinggung istilah “termul” yang merupakan singkatan dari “Ternak Mulyono”, istilah yang kerap muncul di media sosial sebagai bentuk sindiran politik terhadap kelompok pendukung Jokowi.

Penggunaan istilah ini memperlihatkan konteks pernyataan JK yang tidak hanya menyinggung peran politik, tetapi juga dinamika persepsi publik di ruang digital.

Jusuf Kalla menjelaskan bahwa dirinya memiliki andil sejak awal ketika Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Ia mengklaim sebagai pihak yang mendorong dan membawa Jokowi ke panggung politik nasional, khususnya saat mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Pasangan ini berhasil memenangkan pemilihan setelah melalui dua putaran dan kemudian menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Jusuf Kalla, kemenangan tersebut juga mendapat perhatian dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Ia bahkan menyebut Megawati menyampaikan apresiasi atas kontribusinya dalam mendukung Jokowi.

“Sehingga waktu dia menang jadi gubernur, setelah ke Ibu Mega, datang sama saya ucapan terima kasih,” ucap JK.

Perjalanan politik tersebut kemudian berlanjut ke tingkat nasional. Pada Pemilihan Presiden 2014, Jokowi menggandeng Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden. Pasangan ini akhirnya memenangkan kontestasi setelah mengalahkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Namun, pernyataan Jusuf Kalla ini muncul di tengah berbagai polemik yang sedang berkembang, termasuk isu lama terkait ijazah Jokowi yang kembali mencuat. JK menilai persoalan tersebut seharusnya tidak perlu berlarut-larut.

Ia juga sempat menyarankan agar polemik tersebut diselesaikan dengan langkah sederhana, yakni menunjukkan ijazah kepada publik guna mengakhiri spekulasi yang berkembang.

Di sisi lain, Jusuf Kalla juga tengah menghadapi sejumlah laporan hukum terkait ceramahnya di lingkungan kampus. Ia dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah organisasi masyarakat yang menilai pernyataannya dalam sebuah ceramah berpotensi menyinggung isu sensitif.

Laporan tersebut salah satunya diajukan oleh kelompok masyarakat yang mendatangi Polda Sumatera Utara.

Mereka mempersoalkan pernyataan JK dalam ceramah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada yang dinilai mengandung unsur penistaan agama.

Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB), Lamsiang Sitompul, menyampaikan keberatan terhadap pernyataan tersebut dan meminta aparat penegak hukum menindaklanjuti laporan yang telah diajukan.

“Kita dari Horas Bangso Batak (HBB), dari DPP Pemuda Batak Silima, dari Persatuan Peduli Nias. Kedatangan kita kemari untuk melaporkan akun yang berisi pernyataan dari pak Jusuf Kalla yang pada pokoknya di kristen itu ada istilah syahid. Tentu kita sangat tidak menerima itu, atas dasar itu kita kemari melaporkan,” ujar Lamsiang Sitompul, Selasa (14/4/2026) di Polda Sumut.

Selain itu, laporan juga diajukan ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah organisasi, termasuk Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik. Laporan ini berkaitan dengan video ceramah JK yang beredar luas di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Jusuf Kalla menduga kemunculan video ceramahnya berkaitan dengan langkah hukum yang sebelumnya ia tempuh. Ia mengaku telah melaporkan seorang ahli digital forensik, Rismon Sianipar, ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik.

“Ini kenyataannya bahwa ini timbul setelah saya mengadukan Rismon,” kata JK.

Rismon Sianipar sebelumnya disebut menuding Jusuf Kalla sebagai pihak yang mendanai isu terkait ijazah Jokowi. Tuduhan tersebut kemudian berujung pada pelaporan hukum oleh JK.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika politik nasional tidak hanya berlangsung di panggung formal, tetapi juga berkembang di ruang publik dan media sosial. Pernyataan-pernyataan tokoh politik kerap memicu diskursus yang luas, sekaligus membuka kembali isu-isu lama yang belum sepenuhnya mereda.

Di tengah berbagai polemik tersebut, pernyataan Jusuf Kalla mengenai perannya dalam perjalanan politik Jokowi menambah daftar panjang perdebatan publik. Tidak hanya soal kontribusi individu dalam politik, tetapi juga bagaimana narasi sejarah politik dibangun dan dipersepsikan oleh masyarakat luas.