Jenazah Korban Ketiga Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung Ditemukan

Tim SAR Kembali Temukan Jenazah Korban Pesawat ATR 42 500 Jatuh di SulselTim SAR Kembali Temukan Jenazah Korban Pesawat ATR 42 500 Jatuh di Sulsel
Pencarian Pesawat ATR 42-500 PK-THT: Jenazah Korban Ketiga Ditemukan di Gunung Bulusaraung.

INBERITA.COM, Tim pencarian dan pertolongan kembali menemukan jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 PK-THT di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Dengan temuan terbaru ini, jumlah korban yang berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan menjadi tiga orang.

Proses evakuasi masih terus dilakukan di lokasi yang dikenal memiliki medan ekstrem berupa tebing curam dan jurang dalam.

Kepala Basarnas, Marsda Mohammad Syafii, membenarkan adanya penemuan jenazah ketiga dalam operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.

Ia menyampaikan informasi itu kepada wartawan saat berada di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar.

“Tiga yang (sudah) ditemukan,” kata Kepala Basarnas Marsda Mohammad Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, seperti dilansir detikSulsel, Rabu (21/1/2026).

Menurut Syafii, jenazah ketiga korban pesawat ATR 42-500 jatuh di Sulsel itu ditemukan pada Rabu siang sekitar pukul 12.30 Wita.

Namun hingga saat ini, identitas lengkap korban tersebut, termasuk jenis kelaminnya, belum dapat dipastikan karena kondisi jenazah dan medan evakuasi yang cukup menyulitkan.

Syafii menjelaskan bahwa tim SAR masih fokus pada proses evakuasi jenazah yang telah ditemukan. Cuaca menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan evakuasi di kawasan Gunung Bulusaraung yang dikenal rawan perubahan kondisi alam secara tiba-tiba.

“Satu korban yang sudah ditemukan juga dalam proses evakuasi. Mudah-mudahan cuaca memungkinkan dan kita bisa melaksanakan evakuasi dengan cepat,” ujar dia.

Proses evakuasi jenazah korban pesawat ATR 42-500 PK-THT ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan setempat yang memahami karakteristik medan pegunungan.

Lokasi penemuan jenazah berada di area yang sulit dijangkau, sehingga tim harus menggunakan peralatan khusus dan teknik evakuasi vertikal untuk menghindari risiko tambahan bagi personel di lapangan.

Syafii mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya belum dapat menyampaikan informasi rinci terkait posisi pasti penemuan jenazah ketiga tersebut.

Ia menyebutkan bahwa medan operasi berada di sekitar tebing dan jurang, sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan perhitungan matang demi keselamatan tim SAR.

“Mungkin kalau persisnya kita bisa press release kalau kita mendapatkan data yang lebih detail. Sedang proses evakuasi dan kita harapkan bisa kita geser ke titik di mana tadi pagi kita evakuasi korban. Karena itu paling cepat,” bebernya.

Strategi pemindahan jenazah ke titik evakuasi terdekat menjadi prioritas utama tim SAR.

Titik tersebut sebelumnya telah digunakan untuk mengevakuasi korban pertama dan kedua, sehingga dinilai paling memungkinkan dari sisi akses dan keamanan.

Dengan memanfaatkan jalur yang sama, diharapkan proses evakuasi jenazah ketiga dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Pesawat ATR 42-500 PK-THT dilaporkan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Lokasi jatuhnya pesawat berada di daerah pegunungan dengan kontur terjal dan vegetasi lebat, yang membuat proses pencarian dan evakuasi menjadi sangat menantang.

Sejak hari pertama kejadian, tim SAR gabungan telah bekerja tanpa henti untuk menemukan seluruh korban dan puing-puing pesawat.

Sebelum penemuan jenazah ketiga ini, dua korban telah lebih dulu ditemukan oleh tim SAR. Korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1) dan diketahui berjenis kelamin laki-laki.

Penemuan tersebut menjadi titik awal keberhasilan operasi SAR setelah tim menghadapi berbagai kendala di lapangan, termasuk cuaca buruk dan keterbatasan jarak pandang.

Selanjutnya, korban kedua ditemukan pada Senin (19/1). Korban kedua kemudian teridentifikasi sebagai pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono.

Identifikasi dilakukan setelah proses evakuasi dan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Penemuan korban kedua memberikan harapan baru bagi tim SAR untuk terus melanjutkan pencarian terhadap korban lainnya yang diduga masih berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Penampakan ekor pesawat ATR 42-500 yang ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung sebelumnya juga menjadi petunjuk penting dalam mempersempit area pencarian.

Puing-puing pesawat yang tersebar di beberapa titik mengindikasikan kerasnya benturan saat pesawat jatuh, sekaligus menjelaskan mengapa proses evakuasi korban membutuhkan waktu lama dan kehati-hatian ekstra.

Hingga saat ini, operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan masih terus berlangsung.

Tim SAR gabungan berkomitmen untuk menuntaskan pencarian dan evakuasi seluruh korban dengan tetap mengutamakan keselamatan personel.

Pihak Basarnas menyatakan akan terus memberikan pembaruan informasi kepada publik setelah data yang lebih detail berhasil dihimpun dari lapangan.

Dengan ditemukannya jenazah ketiga korban pesawat ATR 42-500 PK-THT jatuh di Gunung Bulusaraung, harapan agar seluruh korban dapat segera ditemukan semakin besar.

Proses evakuasi yang masih berlangsung menjadi fokus utama, seiring upaya tim SAR menghadapi tantangan medan berat dan cuaca yang tidak menentu di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan.