Realisasi Penyaluran KUR 2025 Capai Rp 270 Triliun, Target Terpenuhi 96 persen, Sektor Produktif Tumbuh Pesat

Kur 2025 capai target 96 persenKur 2025 capai target 96 persen
KUR 2025: 96% Target Tercapai, Sektor Produktif Berkontribusi Besar pada Penyerapan Tenaga Kerja

INBERITA.COM, Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2025 telah mencapai angka yang signifikan, yakni Rp 270 triliun, yang setara dengan 96 persen dari total target penyaluran sebesar Rp 280 triliun.

Meskipun belum mencapai target penuh, pencapaian ini mencatatkan sejarah baru dalam hal alokasi KUR ke sektor-sektor produktif, yang telah mengalami lonjakan signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta Pusat pada Selasa (20/1), menyampaikan bahwa meskipun penyaluran KUR belum sepenuhnya memenuhi target, pencapaian ini tetap merupakan langkah positif.

“Realisasi penyaluran KUR pada tahun 2025 mencapai Rp 270 triliun, yang berarti sudah 96 persen dari target yang diberikan kepada kami, yaitu sebesar Rp 280 triliun,” ujar Maman.

Yang menjadi sorotan utama dalam pencapaian KUR tahun ini adalah penyaluran dana yang semakin banyak diterima oleh sektor produktif.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, penyaluran KUR untuk sektor produktif mencatatkan angka lebih dari 60 persen, tepatnya mencapai 60,7 persen atau setara dengan Rp 163 triliun dari total penyaluran KUR.

Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan dengan penyaluran KUR untuk sektor produktif di tahun-tahun sebelumnya yang stagnan di kisaran 55 hingga 57 persen.

Maman Abdurrahman menambahkan, “Alhamdulillah, pada tahun 2025 ini kami berhasil menembus angka 60,7 persen untuk sektor produktif, yang totalnya mencapai Rp 163 triliun. Ini adalah pencapaian besar karena sektor produktif selalu menjadi fokus utama dalam penyaluran KUR.”

Salah satu dampak positif yang ditimbulkan dari peningkatan penyaluran KUR ke sektor produktif adalah penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setiap debitur KUR rata-rata mampu menyerap 2 hingga 3 tenaga kerja.

Dengan realisasi Rp 270 triliun pada tahun 2025, diperkirakan potensi penyerapan tenaga kerja nasional bisa mencapai antara 7,7 juta hingga 11,6 juta orang.

Penyerapan tenaga kerja ini sebagian besar terjadi di sektor informal. Menurut Maman, meskipun sektor informal memberikan kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja, pemerintah tengah merumuskan langkah-langkah strategis untuk memperluas jangkauan penyaluran KUR agar bisa masuk ke sektor formal.

Maman menegaskan bahwa sektor formal sangat penting karena dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi tenaga kerja.

“Bagi kami, memasukkan tenaga kerja ke sektor formal sangat penting karena jaminan dan pengamanannya jauh lebih baik dibandingkan dengan sektor informal. Oleh karena itu, kami sedang merumuskan strategi agar sektor formal bisa lebih banyak terlibat dalam penyaluran KUR,” katanya.

Sektor formal tidak hanya menawarkan jaminan sosial yang lebih baik untuk pekerja, tetapi juga memberikan stabilitas yang lebih besar bagi bisnis dan sektor perekonomian.

Oleh karena itu, mendorong sektor produktif untuk bergerak ke arah formal adalah salah satu langkah penting untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Capaian penyaluran KUR yang mencapai 96 persen dari target tahun 2025 ini tentunya memberikan dorongan besar bagi sektor UMKM di Indonesia.

KUR bukan hanya sekadar bantuan finansial, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan bisnis mereka, memperkuat daya saing, dan menciptakan lapangan kerja baru.

Dengan adanya dukungan pembiayaan yang lebih terjangkau dan mudah diakses, UMKM di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus tumbuh, menghasilkan produk-produk unggulan, dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Pemerintah terus berupaya agar sektor UMKM tetap dapat tumbuh dengan didukung oleh kebijakan yang proaktif, termasuk melalui peningkatan penyaluran KUR yang lebih tepat sasaran, agar kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia semakin optimal.