INBERITA.COM, Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing, China, pada Rabu (13/5/2026), dibayangi isu geopolitik serius yang dapat memicu ketegangan baru antara Washington dan Beijing.
Di tengah agenda pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping, muncul laporan bahwa China diduga diam-diam merencanakan pengiriman senjata ke Iran melalui jalur rahasia.
Laporan tersebut pertama kali diungkap The New York Times yang menyebut sejumlah perusahaan China diduga membahas pengiriman senjata ke Iran melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal-usul pengiriman.
Informasi itu langsung menjadi sorotan karena muncul saat Trump tengah melakukan kunjungan resmi ke Beijing yang semula difokuskan pada pembahasan perdagangan dan hubungan bilateral kedua negara.
Namun isu dugaan dukungan militer China terhadap Iran justru menggeser perhatian dunia terhadap pertemuan Trump dan Xi Jinping.
Menurut laporan tersebut, pejabat Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai apakah pengiriman senjata itu sudah benar-benar dilakukan atau masih sebatas rencana.
Meski belum ada konfirmasi final, isu tersebut dinilai cukup serius hingga memicu tekanan diplomatik baru terhadap pemerintah China.
Amerika Serikat sebelumnya juga menuduh Iran menerima sejumlah sistem persenjataan canggih yang diduga berasal dari China.
Salah satu yang disorot adalah rudal anti-pesawat bahu atau MANPADS yang disebut mampu menghancurkan pesawat tempur dan drone.
Selain itu, Iran juga dilaporkan memperoleh satelit mata-mata buatan China pada akhir 2024 yang digunakan untuk memantau pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti resmi bahwa persenjataan asal China tersebut telah digunakan secara langsung untuk menyerang pasukan AS.
Situasi semakin memanas setelah media Iran melaporkan angkatan laut Iran mulai mengizinkan sejumlah kapal China melintasi Selat Hormuz sejak Rabu malam.
Kantor berita Tasnim menyebut keputusan itu diambil menyusul adanya kesepahaman antara Iran dan China terkait pengelolaan jalur strategis tersebut.
“Menyusul keputusan Republik Islam Iran, sejumlah kapal China telah diizinkan untuk melewati Selat Hormuz di bawah protokol transit yang dikelola Iran,” tulis Tasnim.
Media Iran lainnya, Fars, juga memuat laporan serupa. Sementara televisi pemerintah Iran menyebut lebih dari 30 kapal telah diizinkan melintas, meski belum dipastikan seluruhnya merupakan kapal China.
Keputusan Iran membuka akses bagi kapal China terjadi bersamaan dengan kunjungan Donald Trump ke Beijing dan pertemuannya dengan Xi Jinping pada Kamis (14/5/2026).
Pertemuan kedua pemimpin negara adidaya itu disebut turut membahas perang Iran dan situasi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Reuters melaporkan Trump dan Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap dibuka untuk menjaga kelancaran arus energi global.
“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas,” kata seorang pejabat Gedung Putih.
“Presiden Xi juga menegaskan penentangan China terhadap militerisasi selat dan setiap upaya untuk mengenakan biaya atas penggunaannya,” lanjut pejabat tersebut.
Selain itu, Xi Jinping disebut tertarik meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Gedung Putih juga menyebut Trump dan Xi memiliki pandangan yang sama terkait program nuklir Iran.
“Kedua negara sepakat bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar pejabat Gedung Putih.
Namun hingga kini belum dijelaskan langkah konkret apa yang akan diambil Washington dan Beijing untuk mewujudkan kesepakatan tersebut.
Selat Hormuz sendiri menjadi pusat perhatian dunia sejak Iran memperketat kontrol terhadap jalur tersebut usai perang dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari 2026.
Di masa normal, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair global.
Kontrol Iran atas selat tersebut membuat pasar energi global terguncang dan memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Sebagai balasan, Amerika Serikat juga dilaporkan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Situasi ini membuat ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas dan menyeret kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat dan China ke dalam dinamika konflik yang semakin kompleks.