Iran Disebut Menang Perang, Mainkan Kartu Ini untuk Tekan AS di Konflik Timur Tengah

INBERITA.COM, Iran kini tengah memanfaatkan momentum untuk mengubah peta kekuatan regional, terutama setelah perang panjang yang melemahkan posisi Amerika Serikat.

Menurut Vali Nasr, profesor dari Universitas Johns Hopkins, Teheran meyakini telah berhasil membuat negara adidaya itu berada dalam posisi terdesak. Pandangan ini muncul dalam wawancara dengan Tom Switzer, yang juga melibatkan ilmuwan politik ternama, John Mearsheimer.

Para pemimpin Iran melihat peluang untuk mengunci keuntungan strategis dan ekonomi dalam jangka panjang. Mereka tidak ingin melepaskan keunggulan yang dimiliki saat ini, meskipun harus menahan tekanan ekonomi jangka pendek.

Nasr menekankan bahwa Teheran tidak bertindak berlebihan, melainkan hanya memainkan kartu-kartu yang dimilikinya dengan cermat. Bagi Iran, momen ini dianggap sebagai kesempatan terbatas untuk membalikkan keadaan terhadap Washington.

Keuntungan yang dikejar Iran mencakup pencabutan sanksi, pembekuan aset, kompensasi, hingga kontrol strategis di Selat Hormuz. Selat ini menjadi titik krusial karena merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak global.

Dengan mempertahankan pengaruh di sana, Iran berpotensi menekan negara-negara pengimpor minyak, termasuk sekutu AS di Timur Tengah. Strategi ini dinilai sebagai langkah jangka panjang yang bisa mengubah dinamika geopolitik regional.

Sementara itu, John Mearsheimer memberikan analisis yang lebih keras terhadap posisi AS. Menurutnya, Washington kini tidak memiliki pilihan efektif untuk memaksa Iran meninggalkan kendali atas Selat Hormuz.

Presiden AS, Donald Trump, disebut tidak memiliki kartu truf yang bisa digunakan dalam negosiasi. Mearsheimer bahkan menyebut kekalahan AS dalam konflik ini sebagai “kekalahan telak”.

Salah satu alasan utama ketidakberdayaan AS adalah penipisan persediaan amunisi. Perang yang berkepanjangan telah menguras stok militer Washington, terutama di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, negara-negara sekutu AS di Teluk juga enggan terlibat dalam eskalasi militer baru. Mereka takut akan serangan balasan Iran terhadap infrastruktur penting, seperti fasilitas minyak dan instalasi desalinasi.

Keterbatasan ini semakin mempersempit ruang gerak AS dalam menghadapi Iran. Mearsheimer menilai, pilihan militer kini hampir mustahil dilakukan karena risiko yang terlalu besar.

Di sisi lain, Iran justru diuntungkan dengan posisi yang semakin kuat di Selat Hormuz. Kondisi ini memungkinkan Teheran untuk mendikte syarat-syarat dalam negosiasi internasional.

Bagi Iran, keuntungan ekonomi dan strategis yang diraih saat ini bisa menjadi modal besar untuk masa depan.

Mereka bersedia menahan beban sanksi dan tekanan ekonomi demi mempertahankan posisi tawar yang lebih tinggi. Strategi ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang berpotensi mengubah peta kekuasaan di kawasan.

Namun, langkah Iran juga membawa risiko. Jika AS akhirnya menemukan cara untuk membalas, ketegangan bisa memuncak menjadi konflik terbuka.

Sementara itu, negara-negara di kawasan Teluk kini berada dalam posisi sulit. Mereka harus memilih antara mendukung AS atau menghindari eskalasi yang bisa merugikan kepentingan ekonomi mereka.

Dengan demikian, permainan Iran di Selat Hormuz bukan sekadar taktik jangka pendek. Ini adalah bagian dari strategi besar untuk mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Sementara AS terpaksa menerima kenyataan bahwa pengaruhnya kini semakin terbatas. Masa depan kawasan ini kini bergantung pada seberapa jauh Iran mampu mempertahankan keunggulannya, dan seberapa cepat AS bisa menemukan solusi untuk keluar dari kebuntuan.