INBERITA.COM, Timnas Spanyol memastikan langkah mulus ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan status juara Grup H.
La Roja mengunci posisi teratas klasemen usai menundukkan Uruguay dengan skor tipis 1-0 pada laga terakhir fase grup yang berlangsung di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, Sabtu (27/6/2026) WIB.
Kemenangan tersebut tidak hanya mengamankan tiga poin bagi Spanyol, tetapi juga mengakhiri harapan Uruguay untuk melanjutkan perjalanan di turnamen. La Celeste harus puas finis di posisi ketiga dengan koleksi dua poin dari tiga pertandingan, sehingga gagal menembus fase gugur.
Hasil itu sekaligus mengulang catatan kurang menggembirakan Uruguay di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, tim berjuluk La Celeste juga pernah tersingkir pada fase grup edisi 1962, 1974, dan 2002.
Sementara itu, Spanyol menutup penyisihan Grup H dengan tujuh poin hasil dua kemenangan dan satu kali imbang.
Tim asuhan Luis de la Fuente pun melangkah ke babak 32 besar dengan kepercayaan diri tinggi untuk melanjutkan ambisi mengulang kesuksesan saat menjuarai Piala Dunia 2010.
Persaingan di Grup H juga menghadirkan kejutan. Tanjung Verde berhasil menemani Spanyol ke fase gugur setelah finis di peringkat kedua dengan tiga poin, unggul atas Uruguay dan Arab Saudi.
Sepanjang pertandingan, Spanyol kembali menunjukkan identitas permainan yang menjadi ciri khas mereka.
Penguasaan bola yang dominan dipadukan dengan sirkulasi umpan pendek membuat Uruguay lebih banyak bertahan dan kesulitan mengembangkan permainan.
Statistik pertandingan memperlihatkan keunggulan La Roja dalam mengendalikan tempo laga. Spanyol menguasai sekitar 53 persen penguasaan bola dan membukukan 635 operan dengan tingkat akurasi mencapai 575 umpan sukses.
Sebaliknya, Uruguay yang datang dengan target wajib menang justru tidak mampu keluar dari tekanan. Mereka hanya mencatatkan 299 operan sepanjang pertandingan, dengan 227 di antaranya berhasil mencapai rekan setim.
Dominasi penguasaan bola juga diikuti dengan sejumlah peluang berbahaya. Meski hanya melepaskan tujuh tembakan, dua di antaranya mengarah tepat ke gawang dan satu berhasil menjadi gol penentu kemenangan.
Uruguay sebenarnya berusaha memberikan perlawanan melalui serangan balik cepat. Namun dari enam percobaan yang dilepaskan, hanya satu tembakan yang benar-benar menguji kiper Spanyol.
Gol semata wayang dalam pertandingan lahir menjelang berakhirnya babak pertama, tepatnya pada menit ke-42. Proses gol diawali aksi Lamine Yamal di sisi kanan yang sempat terjatuh setelah berbenturan dengan pemain Uruguay.
Bola liar kemudian dikuasai Marcos Llorente yang langsung mengirim umpan matang ke dalam kotak penalti.
Alex Baena menyambut bola tersebut dengan tendangan kaki kanan. Meski sempat disentuh Fernando Muslera, bola tetap meluncur melewati garis gawang dan mengubah skor menjadi 1-0.
Gol itu menjadi pembeda hingga pertandingan berakhir. Pada babak kedua, Uruguay mencoba meningkatkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan, tetapi disiplin lini belakang Spanyol membuat berbagai upaya tersebut gagal membuahkan hasil.
La Roja juga tetap menjaga ritme permainan melalui penguasaan bola sehingga mampu meredam tekanan lawan. Strategi tersebut membuat Uruguay semakin sulit menciptakan peluang bersih pada menit-menit akhir.
Hingga wasit meniup peluit panjang, skor 1-0 tidak berubah. Spanyol memastikan diri keluar sebagai juara Grup H, sedangkan Uruguay harus menerima kenyataan tersingkir lebih awal dari Piala Dunia 2026.
Keberhasilan Spanyol menjuarai grup mempertegas konsistensi permainan mereka sepanjang fase penyisihan.
Selain efektif dalam memanfaatkan peluang, skuad Luis de la Fuente juga tampil solid di lini belakang dengan mampu mengendalikan jalannya pertandingan melalui penguasaan bola.
Pada babak 32 besar, Spanyol dijadwalkan menghadapi runner-up Grup J di Stadion SoFi, Inglewood, California, pada 2 Juli mendatang.
Hingga pertandingan Grup J selesai, calon lawan La Roja masih belum dipastikan karena persaingan di grup tersebut masih melibatkan Argentina, Austria, Aljazair, dan Yordania.
Bagi Uruguay, kegagalan melangkah ke fase gugur menjadi bahan evaluasi penting. Minimnya produktivitas di lini depan serta ketidakmampuan mengubah dominasi lawan menjadi peluang melalui serangan balik menjadi faktor yang membuat mereka gagal bersaing hingga laga terakhir fase grup.







