INBERITA.COM, Timnas Senegal menutup fase penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 dengan penampilan yang nyaris sempurna. Menghadapi Irak di Toronto Stadium, Kanada, Singa Teranga tampil agresif sejak menit pertama hingga akhirnya mengamankan kemenangan telak 5-0, Sabtu (27/6/2026).
Hasil tersebut menjadi modal penting bagi Senegal untuk menjaga peluang melangkah ke fase gugur. Selain memperlihatkan ketajaman lini depan, kemenangan besar ini juga menunjukkan kemampuan tim Afrika tersebut memanfaatkan setiap momentum ketika lawan kehilangan keseimbangan permainan.
Pertandingan praktis langsung berada dalam kendali Senegal sejak peluit kick-off dibunyikan. Baru empat menit laga berjalan, Habib Diarra sukses membawa timnya unggul lebih dulu. Gelandang muda itu memanfaatkan kelengahan lini belakang Irak untuk menaklukkan penjaga gawang dan membuka pesta gol Senegal.
Gol cepat tersebut membuat Irak berusaha bangkit. Namun situasi justru berubah semakin sulit ketika petaka datang pada menit ke-12. Bek utama Rebin Sulaka diganjar kartu merah langsung setelah wasit meninjau tayangan Video Assistant Referee (VAR) atas pelanggaran yang dilakukannya.
Keputusan tersebut menjadi titik balik pertandingan. Bermain dengan 10 orang sejak awal babak pertama membuat Irak kehilangan keseimbangan, baik saat bertahan maupun ketika mencoba membangun serangan.
Meski unggul jumlah pemain, Senegal tidak langsung mampu menambah gol sebelum turun minum. Irak memilih bermain sangat rapat dengan menumpuk pemain di area pertahanan untuk membendung tekanan lawan. Strategi tersebut sempat berhasil menjaga skor tetap 1-0 hingga jeda pertandingan.
Memasuki babak kedua, dominasi Senegal semakin terlihat. Intensitas serangan meningkat dan pertahanan Irak mulai kesulitan mengimbangi pergerakan cepat para pemain Singa Teranga.
Gol kedua akhirnya lahir pada menit ke-56 melalui Ismaïla Sarr. Penyerang sayap itu memanfaatkan ruang kosong di lini belakang Irak sebelum melepaskan penyelesaian akhir yang memperbesar keunggulan Senegal menjadi 2-0.
Setelah gol tersebut, pertandingan sepenuhnya menjadi milik Senegal. Pelatih melakukan sejumlah pergantian yang justru menambah daya gedor tim.
Pape Gueye yang masuk dari bangku cadangan langsung memberikan dampak instan. Hanya tiga menit setelah gol Sarr, gelandang tersebut mencetak gol ketiga Senegal pada menit ke-59 melalui penyelesaian yang tenang di dalam kotak penalti.
Performa impresif Gueye belum berhenti sampai di situ. Pada menit ke-71, ia kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan kemelut di depan gawang Irak. Gol keduanya sekaligus membawa Senegal unggul 4-0.
Ketika pertandingan memasuki 10 menit terakhir, Senegal tetap mempertahankan tempo permainan. Iliman Ndiaye yang juga masuk sebagai pemain pengganti ikut menyumbang gol pada menit ke-82 untuk melengkapi kemenangan besar timnya menjadi 5-0.
Hingga wasit meniup peluit panjang, Irak tidak mampu memberikan respons berarti. Kekalahan telak itu menutup perjalanan wakil Asia tersebut di fase grup dengan hasil yang jauh dari harapan.
Selain dipengaruhi kartu merah pada awal pertandingan, Irak juga kesulitan mengembangkan permainan akibat minimnya penguasaan bola. Lini tengah Senegal tampil dominan dalam memutus aliran serangan lawan sekaligus mengontrol ritme pertandingan sejak awal hingga akhir.
Bagi Senegal, kemenangan besar ini menjadi bukti kualitas skuad yang dimiliki. Hampir seluruh lini tampil efektif, mulai dari pertahanan yang disiplin hingga lini depan yang mampu memaksimalkan peluang menjadi gol. Variasi serangan juga menjadi salah satu kekuatan utama, terlihat dari lima gol yang dicetak oleh empat pemain berbeda.
Hasil tersebut sekaligus meningkatkan kepercayaan diri Senegal menjelang fase berikutnya. Konsistensi permainan, kedalaman skuad, serta kemampuan pemain pengganti memberikan kontribusi instan menjadi modal berharga apabila mereka berhasil melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026.
Sementara itu, Irak dipastikan pulang dengan sejumlah pekerjaan rumah yang harus dievaluasi. Kartu merah Rebin Sulaka memang menjadi momen yang mengubah jalannya pertandingan, tetapi kesulitan keluar dari tekanan serta lemahnya organisasi permainan setelah kehilangan satu pemain juga menjadi catatan penting bagi tim pelatih.
Meski harus mengakhiri kiprah di Piala Dunia 2026 dengan kekalahan menyakitkan, pengalaman menghadapi tim-tim elite dunia diharapkan menjadi bekal berharga bagi Irak dalam membangun kekuatan untuk kompetisi internasional berikutnya.







