INBERITA.COM, Timnas Cape Verde menciptakan salah satu kisah paling mengejutkan di Piala Dunia 2026. Negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat itu berhasil memastikan tiket ke babak 32 besar pada penampilan perdananya di ajang sepak bola terbesar dunia setelah menahan imbang Arab Saudi tanpa gol pada laga terakhir Grup H, Sabtu (27/6/2026).
Hasil tersebut sudah cukup mengantarkan Cape Verde finis di posisi kedua klasemen dengan koleksi tiga poin, berada di bawah Spanyol yang memuncaki grup dengan tujuh poin.
Sementara itu, Arab Saudi harus mengakhiri turnamen lebih cepat setelah hanya mengumpulkan dua poin dari tiga pertandingan dan terpuruk di dasar klasemen.
Keberhasilan Cape Verde menjadi catatan bersejarah. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan tidak mencapai 500 ribu jiwa, mereka kini tercatat sebagai negara dengan populasi terkecil yang berhasil menembus babak gugur Piala Dunia.
Pencapaian itu menjadi bukti bahwa organisasi permainan, disiplin, dan semangat kolektif mampu mengimbangi negara-negara yang memiliki tradisi sepak bola lebih mapan.
Sejak awal turnamen, Cape Verde memang tidak banyak dijagokan. Namun, tim debutan tersebut mampu tampil disiplin sepanjang fase grup dan memanfaatkan setiap peluang untuk mengumpulkan poin penting hingga akhirnya mengamankan tiket menuju fase gugur.
Sebaliknya, Arab Saudi datang ke pertandingan dengan target wajib menang demi menjaga peluang lolos.
Pelatih Georgios Donis tetap menurunkan skuad yang berupaya tampil menyerang sejak menit pertama, tetapi rapatnya lini pertahanan Cape Verde membuat Al Akhdar kesulitan menciptakan peluang bersih.
Peluang terbaik Arab Saudi pada babak pertama lahir pada menit ke-16 melalui Salem Al-Dossari. Tendangannya dari dalam kotak penalti sempat mengarah ke gawang, namun bola membentur pemain bertahan Cape Verde sebelum keluar lapangan.
Cape Verde merespons enam menit kemudian. Semedo melepaskan tembakan keras yang memaksa kiper Mohammed Al-Owais melakukan penyelamatan penting untuk menjaga skor tetap imbang.
Petaka menghampiri Arab Saudi pada menit ke-32 ketika bek andalan Hassan Tembekti mengalami cedera otot.
Meski sebelumnya telah dinyatakan cukup fit untuk bermain, ia akhirnya harus ditarik keluar dengan tandu dan digantikan Ali Lagami. Pergantian tersebut memaksa Donis mengubah komposisi lini belakang di tengah pertandingan yang sangat menentukan.
Memasuki babak kedua, Cape Verde tampil lebih berani. Mereka beberapa kali mengancam melalui Monteiro dan Kevin Pena, tetapi belum mampu menaklukkan Al-Owais yang tampil cukup solid di bawah mistar gawang.
Arab Saudi mencoba meningkatkan daya gedor dengan memasukkan Mohammed Abu Al-Shamat menggantikan Salem Al-Dossari.
Pergantian itu hampir membuahkan hasil ketika Abu Al-Shamat melepaskan tendangan dari luar kotak penalti pada menit ke-67, namun bola masih dapat diamankan kiper Cape Verde.
Tekanan kemudian berbalik datang dari Cape Verde. Pada menit ke-74, Larus Duarte memperoleh peluang emas melalui situasi satu lawan satu. Namun, Al-Owais kembali menjadi penyelamat Arab Saudi dengan menggagalkan peluang yang nyaris memastikan kemenangan lawan.
Meski terus berusaha mencari gol pada menit-menit akhir, Arab Saudi gagal membongkar pertahanan disiplin Cape Verde. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 0-0 tidak berubah.
Hasil tersebut memastikan Cape Verde melangkah ke babak 32 besar untuk menghadapi juara bertahan Argentina.
Laga tersebut diprediksi menjadi pertandingan terbesar dalam sejarah sepak bola negara kecil tersebut sekaligus kesempatan untuk melanjutkan kisah kejutan mereka di Piala Dunia 2026.
Bagi Arab Saudi, kegagalan lolos menjadi akhir yang mengecewakan. Setelah kalah dari Spanyol serta hanya mampu bermain imbang melawan Uruguay dan Cape Verde, Al Akhdar menutup fase grup dengan dua poin tanpa sekali pun meraih kemenangan.
Tersingkirnya Arab Saudi juga memunculkan evaluasi terhadap performa tim sepanjang turnamen. Minimnya produktivitas lini depan menjadi salah satu sorotan utama setelah mereka kembali gagal mencetak gol pada laga penentuan.
Selain itu, keputusan taktis pelatih Georgios Donis mulai menjadi bahan perdebatan di kalangan pengamat dan suporter.
Di sisi lain, keberhasilan Cape Verde menjadi salah satu cerita paling inspiratif sepanjang Piala Dunia 2026.
Tim yang berasal dari negara berpenduduk kurang dari setengah juta jiwa itu membuktikan bahwa ukuran negara maupun besarnya sumber daya bukan jaminan kesuksesan di level tertinggi sepak bola.
Dengan organisasi permainan yang solid dan semangat kolektif yang tinggi, mereka berhasil menorehkan sejarah sekaligus menjadi salah satu kejutan terbesar dalam turnamen tahun ini.







