INBERITA.COM, Krisis energi global yang semakin parah menjadi akibat langsung dari perang AS-Israel vs Iran yang pecah pada 28 Februari 2026.
Salah satu dampak terbesar yang dirasakan warga Amerika Serikat (AS) adalah melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM), yang kini melampaui US$4 per galon (sekitar Rp68 ribu) di banyak wilayah di AS.
Kenaikan harga bensin ini menjadi sorotan, karena menyebabkan keresahan dan kekecewaan di kalangan warga yang sudah terbebani dengan biaya hidup yang semakin tinggi.
Pada Selasa (31/3/2026), harga bensin di berbagai wilayah AS tercatat naik hingga 35 persen akibat dampak perang ini.
Di beberapa daerah seperti Falls Church, Virginia, harga bensin bahkan tembus di angka US$4,25 (sekitar Rp72 ribu) per galon, yang semakin memberatkan anggaran warga.
Jeanne Williams, seorang pensiunan pegawai negeri sipil berusia 83 tahun, mengungkapkan rasa terkejutnya ketika melihat harga bensin di pom bensin Liberty. Ia merasa bingung dan tidak senang, namun mengaku tidak marah.
“Kami tidak meminta perang ini,” tegas Jeanne, yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Richmond ke Falls Church untuk mengunjungi saudara perempuannya.
Menurut Williams, meski ia hidup dari pensiun, biaya hidup yang semakin tinggi akibat krisis energi ini membuatnya harus menggerakkan tabungan pribadi untuk bertahan hidup.
“Untungnya saya tidak punya anak. Saya juga tidak punya pasangan, jadi hanya saya sendiri dan apa pun yang saya miliki, saya bantu kerjakan untuk saudara perempuan saya,” tambahnya.
Harga BBM yang terus meroket bukan hanya sekadar angka, tetapi sudah mempengaruhi mobilitas warga AS. Sejumlah warga seperti David Lee dari Washington D.C. merasakan beban berat akibat kenaikan harga bahan bakar.
“Saya merasa setiap kali mengisi bensin, saya mungkin membayar setidaknya 10 dolar lebih mahal daripada biasanya,” ujarnya.
David, yang mengisi tangki bensin dua kali seminggu, mengakui bahwa meskipun penghasilannya cukup, ia melihat banyak temannya mengeluh karena tidak bisa lagi mengemudi sesering dulu.
Warga lain, seperti Joseph Crouch (77), merasa frustrasi dengan tingginya harga bensin.
“Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan. Kami sedang menanggung akibat dari perang ini,” ungkapnya dengan penuh kekesalan.
Crouch juga menambahkan, “Mereka mencoba mengatakan bahwa ini adalah hal lain, tapi ini jelas sebuah perang.”
Perang AS-Israel yang meletus sejak 28 Februari 2026 telah mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak dunia terus melonjak, dengan harga lebih dari US$100 per barel. Situasi ini memicu krisis energi global yang dirasakan di seluruh dunia, mulai dari Asia hingga Eropa.
Negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah kini terpaksa mencari solusi alternatif untuk bertahan dari lonjakan harga energi.
Fred Koester (78), seorang warga yang tinggal di luar Washington D.C., menyebut konflik tersebut sebagai “perang bodoh”.
“Perang ini sama sekali tidak perlu, dan hanya membuat masyarakat AS sendiri ketiban sial,” ujar Fred.
Meskipun inflasi di AS telah menurun dari puncaknya yang mencapai 9,1 persen akibat pandemi COVID-19, biaya hidup yang semakin meningkat membuat banyak warga merasa terbebani.
Luis Ramos, seorang warga New York City berusia 26 tahun, mengatakan kepada AFP bahwa kenaikan harga bahan bakar adalah salah satu hal yang paling meresahkan.
“Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket,” tambah Ramos, yang merasa bahwa semakin sulit untuk bertahan hidup di tengah krisis energi ini.
Berbagai negara mulai merespons situasi ini dengan langkah-langkah preventif, seperti mendorong warganya untuk beralih ke transportasi publik dan menetapkan kebijakan work from home (WFH) guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar.
Langkah ini diambil untuk memitigasi dampak dari krisis energi global yang disebabkan oleh ketegangan politik di Timur Tengah.
Perang AS-Israel terhadap Iran telah memperburuk krisis energi global yang memengaruhi kehidupan sehari-hari warga di berbagai negara, termasuk AS.
Harga BBM yang melonjak, inflasi yang tinggi, dan biaya hidup yang semakin mahal membuat banyak warga AS merasa marah dan frustasi. Meski begitu, banyak yang juga merasa bahwa mereka sedang menanggung akibat dari keputusan politik yang lebih besar, di luar kendali mereka.
Kini, krisis energi ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat dunia, terutama mereka yang sudah tertekan oleh biaya hidup yang tinggi.







