INBERITA.COM, Bahan bakar nabati (BBN) Merah Putih dengan merek Bobibos bersiap memasuki tahap produksi massal di Timor Leste.
Produk energi alternatif yang dikembangkan oleh PT. Inti Sinergi Formula ini digadang-gadang menjadi salah satu solusi energi terbarukan berbasis limbah pertanian, khususnya jerami, yang sebelumnya ditemukan dan dikembangkan di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.
Founder PT. Inti Sinergi Formula, Iklas Thamrin, mengungkapkan bahwa kesiapan produksi Bobibos di Timor Leste kini telah mencapai 75 persen.
“Bobibos saat ini sudah siap 75 persen untuk produksi massal di Timor Leste,” kata Iklas.
Bobibos sendiri merupakan akronim dari “Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos”.
Produk ini sejak awal diperkenalkan telah menarik perhatian berbagai negara.
Iklas menyebutkan bahwa minat terhadap bahan bakar alternatif tersebut datang dari sejumlah negara seperti Malaysia, Vietnam, Timor Leste, hingga Norwegia.
Meski demikian, Iklas mengaku awalnya berharap Bobibos dapat diproduksi secara massal di Indonesia.
Namun, karena belum adanya kepastian yang mendukung realisasi tersebut di dalam negeri, pihaknya akhirnya membuka peluang kerja sama dengan pihak luar.
Timor Leste pun menjadi negara pertama yang dipilih untuk memproduksi Bobibos secara massal, dengan kesepakatan yang mulai difinalisasi pada Desember 2025.
“Tadinya kami menahan, belum mau menerima kerja sama dengan negara mana pun,” kata Iklas.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
Selain karena Timor Leste dinilai paling agresif dalam menjajaki kerja sama produksi, faktor historis juga menjadi pertimbangan.
Timor Leste diketahui pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelum tahun 2000.
Dalam proses menuju produksi massal, logistik utama berupa truk produksi Bobibos telah diberangkatkan dari Indonesia pada Ahad, 29 Maret 2026.
Pengiriman tersebut diperkirakan akan tiba di Timor Leste sekitar 10 April 2026 sebagai bagian dari persiapan operasional awal.
Kerja sama antara kedua pihak diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT. Inti Sinergi Formula dan perusahaan milik pemerintah Timor Leste, Timor Agronova SA.
Dari kerja sama tersebut, dibentuk entitas baru bernama Timor Agro Bobibos Energy SA yang akan menjadi operator produksi BBN Bobibos di negara tersebut.
Iklas menargetkan peluncuran resmi produksi Bobibos dapat dilakukan pada akhir April 2026 dan direncanakan akan diresmikan langsung oleh Presiden Timor Leste.
Pada tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 50 ribu liter per hari atau sekitar 1,5 juta liter per bulan.
Ia juga menyoroti perbedaan dukungan regulasi antara Indonesia dan Timor Leste. Menurutnya, proses perizinan dan regulasi di Timor Leste justru lebih terbuka dan mendukung pengembangan energi terbarukan.
“Regulasi yang kita susah dapatkan di sini, alhamdulillah di sana justru kita dibantu dan dipermudah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Iklas menyatakan bahwa keberhasilan produksi Bobibos di Timor Leste berpotensi membuka peluang kerja sama serupa dengan negara lain. Vietnam, Norwegia, dan Malaysia disebut-sebut siap mengikuti jejak Timor Leste jika proyek ini terbukti berjalan sukses.
“Saat ini kami fokuskan di Timor Leste dulu, karena di sana sudah hampir siap,” katanya.
Ke depan, perusahaan juga berencana mengembangkan fasilitas produksi dalam skala besar dengan memanfaatkan lahan seluas 11 ribu hektare.
Lahan tersebut tidak hanya digunakan untuk pembangunan pabrik, tetapi juga akan dimanfaatkan untuk budidaya bahan baku seperti padi, aren, dan sawit.
Iklas menjelaskan bahwa bahan baku Bobibos tidak terbatas pada jerami. Teknologi yang digunakan memungkinkan konversi bioetanol menjadi hidrokarbon sintetis yang kemudian menjadi bahan bakar nabati siap pakai.
“Karena bahan baku BBN Bobibos tidak hanya jerami, formula teknologinya mengubah bioetanol menjadi Hydrocarbo sintetis. Jadi deh BBN,” kata Iklas.
Dengan berbagai kesiapan tersebut, produksi massal Bobibos di Timor Leste diharapkan menjadi langkah awal ekspansi energi terbarukan berbasis inovasi Indonesia ke pasar global.







