PBB Cuma Bisa Beri Peringatan Keras, Israel Sudah Bergerak Invasi Wilayah Lebanon Selatan

Invasi darat israel ke wilayah lebanonInvasi darat israel ke wilayah lebanon
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan

INBERITA.COM, Israel secara terbuka mengungkapkan rencananya untuk menduduki wilayah Lebanon selatan dan menghancurkan seluruh rumah yang ada di sepanjang perbatasan dengan negara itu.

Langkah ini dianggap sebagai indikasi yang jelas mengenai niat Israel untuk mempertahankan kendali atas kawasan tersebut setelah perang dengan Hizbullah, kelompok militan yang selama ini menguasai wilayah tersebut.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataan yang dikutip dari New York Times pada Senin (30/3/2026), menyebutkan bahwa lebih dari 600.000 penduduk Lebanon selatan yang telah mengungsi ke wilayah utara tidak akan diperbolehkan untuk kembali ke rumah mereka setelah perang berakhir.

“Kembalinya lebih dari 600.000 penduduk Lebanon selatan yang mengungsi ke utara akan sepenuhnya dilarang di selatan Sungai Litani sampai keselamatan dan keamanan penduduk Israel di utara terjamin,” ujar Katz.

Israel Katz juga menjelaskan bahwa semua rumah yang berada di dekat desa-desa di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon akan dihancurkan.

Model penghancuran ini disebut-sebut akan mengikuti contoh yang digunakan dalam serangan di Rafah dan Beit Hanoun di Gaza.

Serangan tersebut melibatkan penghancuran infrastruktur dan rumah-rumah penduduk untuk menghentikan militan atau kelompok yang dianggap ancaman bagi keamanan Israel.

“Setelah perang berakhir, pasukan Israel akan mempertahankan kendali atas seluruh wilayah dari perbatasan hingga Sungai Litani,” tambah Katz.

Wilayah ini memiliki panjang sekitar 20 mil dari Israel pada titik terdalamnya, yang sebelumnya berada di bawah kendali Hizbullah.

Tujuan utama pendudukan ini adalah untuk memastikan keamanan wilayah utara Israel dan mencegah wilayah Lebanon selatan digunakan sebagai pangkalan serangan terhadap Israel.

Lebanon selatan selama beberapa dekade terakhir dikuasai oleh Hizbullah, kelompok militan yang didukung oleh Iran.

Hizbullah terbentuk pada tahun 1982 setelah invasi Israel ke Lebanon. Sejak saat itu, Hizbullah menjadi kekuatan utama di kawasan tersebut, berperan dalam melawan kehadiran Israel dan menjadi salah satu aktor sentral dalam konflik Israel-Lebanon.

Namun, setelah serangan mendalam yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari 2026, Hizbullah menembakkan roket-roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Teheran.

Tindakan ini memicu serangan balasan Israel yang lebih besar terhadap Hizbullah, yang menyebabkan perintah evakuasi besar-besaran di sebagian besar wilayah Lebanon selatan.

Selain itu, serangan Israel juga menyebabkan pemboman yang meluas di seluruh kawasan.

Pemerintah Israel mengklaim bahwa tujuan utama dari invasi darat ini adalah untuk menciptakan sebuah “zona keamanan” di Lebanon selatan, yang bertujuan mencegah wilayah tersebut digunakan oleh Hizbullah atau kelompok lainnya sebagai basis untuk menyerang Israel.

Namun, komentar terbaru Israel Katz semakin memperdalam kekhawatiran tentang pendudukan Israel yang diperbarui di Lebanon selatan setelah perang selesai.

Dalam konteks ini, PBB memberikan peringatan keras mengenai potensi pendudukan Lebanon selatan oleh Israel.

Tom Fletcher, kepala bantuan kemanusiaan PBB, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap rencana ini dengan menyebutkan bahwa wilayah tersebut bisa menjadi wilayah pendudukan baru di Timur Tengah.

PBB juga mengingatkan bahwa langkah seperti ini berisiko memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah sangat terbelah dan bergejolak akibat konflik yang berkepanjangan.

Kekhawatiran akan perang saudara yang lebih luas di kawasan ini semakin meningkat, mengingat Israel dan Hizbullah telah terlibat dalam sejumlah serangan balasan yang saling berujung pada eskalasi kekerasan.

Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk dengan banyaknya pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di tengah serangan yang tak terhindarkan.

Israel mengklaim bahwa kebijakan ini adalah langkah yang sah untuk melindungi warganya dari ancaman yang datang dari Lebanon selatan.

Namun, tindakan ini akan berisiko memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Arab dan memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan tersebut.

Dengan ketegangan yang semakin memuncak, dunia internasional semakin berharap agar negara-negara besar dan PBB dapat mendorong perdamaian dan dialog antara Israel dan Lebanon untuk menghindari dampak yang lebih luas dari pendudukan ini.

Peringatan dari PBB menjadi pengingat bahwa Lebanon selatan berpotensi menjadi titik baru dalam konflik yang melibatkan negara-negara besar di Timur Tengah.