FIFA Tegaskan Iran Tetap Main di Piala Dunia 2026 di Amerika, Kanada dan Meksiko, Begini Kata Trump

Kongres FIFA kanada iran tetap main pildunKongres FIFA kanada iran tetap main pildun
Meski Tegang, Iran Tetap Main di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat

INBERITA.COM, Di tengah tensi ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, keputusan terbaru dari Kongres FIFA justru menghadirkan kepastian yang cukup mengejutkan.

Federasi sepak bola dunia memastikan bahwa Timnas Iran tetap akan ambil bagian dalam Piala Dunia 2026, termasuk memainkan pertandingan di wilayah Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah.

Kepastian ini disampaikan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam Kongres FIFA ke-76 yang digelar di Vancouver, Kanada, pada Kamis, 30 April 2026.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang terkait kemungkinan pembatasan atau bahkan larangan terhadap Iran akibat situasi politik yang memanas.

“Biarkan saya memulai dengan menegaskan bahwa tentu saja Iran akan berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 2026. Dan tentu saja Iran akan bermain di Amerika Serikat,” ujar Infantino.

Pernyataan tegas tersebut menjadi penanda bahwa FIFA tetap berupaya menjaga prinsip netralitas olahraga di tengah tekanan konflik internasional.

Keputusan ini juga memperjelas bahwa tidak ada perubahan pada status Iran sebagai salah satu peserta resmi turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.

Iran sendiri telah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 sejak kualifikasi zona Asia, usai bermain imbang 2-2 melawan Uzbekistan pada Maret 2025. Hasil tersebut cukup untuk mengamankan posisi mereka sebagai salah satu wakil Asia di ajang empat tahunan tersebut.

Dalam undian fase grup, Iran tergabung di Grup G bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Tim yang dikenal dengan julukan Team Melli itu dijadwalkan menjalani tiga pertandingan penting di fase grup dengan lokasi pertandingan yang tersebar di Amerika Serikat.

Iran akan memulai perjuangannya dengan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni 2026. Selanjutnya, mereka akan bertemu Belgia pada 21 Juni 2026, sebelum menutup fase grup dengan laga melawan Mesir lima hari kemudian.

Dari jadwal yang telah ditetapkan, Iran akan bermain dua kali di Inglewood dan satu kali di Seattle. Hal ini semakin menegaskan bahwa tidak ada pembatasan lokasi bagi Iran meskipun situasi politik global sedang tidak stabil.

Namun, di balik kepastian tersebut, muncul catatan lain yang mencerminkan kompleksitas hubungan internasional yang masih membayangi dunia sepak bola. Federasi Sepak Bola Iran dilaporkan tidak dapat menghadiri langsung Kongres FIFA di Kanada.

Presiden federasi Iran, Mehdi Taj, disebut tidak diizinkan masuk oleh otoritas setempat saat tiba di Kanada. Situasi ini membuat dua anggota delegasi lainnya memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Vancouver.

Kondisi tersebut disayangkan oleh FIFA, meskipun organisasi itu menegaskan bahwa keputusan terkait izin masuk ke suatu negara sepenuhnya berada di tangan otoritas nasional masing-masing.

Absennya delegasi Iran dalam forum penting tersebut menjadi gambaran nyata bahwa dinamika politik tetap memiliki dampak terhadap aktivitas olahraga internasional, meskipun FIFA berusaha menjaga independensinya.

Di sisi lain, keputusan FIFA ini juga mendapat tanggapan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Meski negaranya terlibat dalam ketegangan dengan Iran, Trump menyatakan tidak keberatan dengan keikutsertaan Iran dalam Piala Dunia 2026 yang sebagian besar digelar di Amerika Serikat.

“Jika Gianni mengatakan demikian, saya tidak masalah. Biarkan mereka bermain,” ucap Trump.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan menghalangi kehadiran Iran dalam ajang tersebut, setidaknya dalam konteks olahraga.

Hal ini menjadi penting mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu tuan rumah utama Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.

Keputusan ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang bagaimana olahraga, khususnya sepak bola, sering kali menjadi jembatan di tengah konflik politik.

Di satu sisi, FIFA berusaha menjaga integritas kompetisi dengan memastikan semua tim yang lolos tetap dapat berpartisipasi. Namun di sisi lain, realitas politik tetap menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Dengan kepastian ini, fokus kini beralih pada kesiapan Iran menghadapi turnamen, serta bagaimana penyelenggara memastikan keamanan dan kelancaran pertandingan di tengah sensitivitas situasi global.

Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu edisi paling kompleks dalam sejarah, bukan hanya dari sisi teknis penyelenggaraan yang melibatkan tiga negara, tetapi juga dari dinamika geopolitik yang menyertainya.

Keputusan FIFA terkait Iran menjadi salah satu contoh nyata bagaimana olahraga global harus terus beradaptasi dengan kondisi dunia yang terus berubah, tanpa kehilangan prinsip dasar sebagai ajang pemersatu bangsa.